Teladan

Faedah Sirah Nabi: Perang Badar Kubra dan Pelajaran di Dalamnya

Berikut adalah kisah perang Badar.

 

 

 

Ada yang mengatakan bahwa badar adalah nama sebuah sumur yang digali oleh seseorang yang Bernama Badar dari Kabilah Ghifar. Perang Badar Kubra disebut juga dengan Badar ‘Uzhma, Badar Qital, atau Yaumul Furqan. Sebutan yang terakhir ini sesuai dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ

Dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan.” (QS. Al-Anfaal: 41)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Dinamai dengan Al-Furqan karena pada perang tersebut Allah memperlihatkan antara yang benar dan yang batil.”

Pada suatu hari, sampailah berita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Abu Sufyan berangkat dari Syam dengan membawa 1.000 unta sekaligus harta yang banyak sekali, ada yang mengatakan sekitar 50 ribu dinar. Ketika itu diwakili oleh sedikit pasukan dan tidak lebih dari 70 orang. Begitulah menurut mayoritas pendapat. Oleh karena itu, Nabi pun mengutus kaum muslimin untuk menuju tempat tersebut dan beliau berkata, “Unta-unta Quraisy tersebut membawa banyak harta dan pergilah kalian ke sana. Semoga Allah menjadikan harta tersebut sebagai ghanimah untuk kalian.” Oleh karena itu, beliau mengutus kaum muslimin untuk menuju ke sana. Sebagian dari mereka menuju ke tempat yang dituju, sedangkan sebagian yang lain merasa berat untuk melakukan hal tersebut sebab mereka menyangka bahwa Rasulullah tidak benar-benar ingin berperang dan juga saat itu tidak banyak sahabat yang hadir. Rasulullah berkata, “Siapa saja yang hadir di sini, ikutlah bersama kami.” Sebagian sahabat ingin mengajak orang-orang yang berada di bagian atas Madinah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegahnya, “Tidak, kecuali yang di sini saja.”

Abu Sufyan sangat mewaspadi berita ini jangan sampai diketahui oleh orang lain. Pada suatu kesempatan, sampai berita kepadanya bahwa Nabi akan mencegah untanya. Kemudian disewalah Dhamdam bin Umar Al-Ghifari dengan 20 mitsqal untuk pergi ke Makkah dan diperintahkan kepadanya untuk memotong tali hidung untanya dan mengubah jalur perjalanannya, merobek bagian depan, dan belakang bajunya ketika masuk Makkah serta mendatangi orang-orang Quraisy untuk meminta agar bergegas menuju ke harta-hartanya yang sedang diincar oleh Muhammad dan para sahabatnya. Berangkatlah Dhamdam ke Makkah dengan segera dan dilaksanakanlah apa yang diperintahkan oleh Abu Sufyan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari Sabtu, Tahun dua hijriyah. Yang tidak ikut bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu adalah Abu Lubabah Al-Anshari. Adapun jumlah pasukan yang ikut pada waktu itu menurut pendapat yang terkuat sebanyak 313 orang. Mereka hanya memiliki dua kuda dan tujuh puluh unta. Sementara Nabi, Ali bin Abi Thalib, dan Martsad Al-Ghanawi bergantian naik kuda dari belakang unta-unta tersebut.

Untuk menghadapi pasukan ini, keluarlah orang-orang Quraisy sebanyak 950 orang setelah Dhamdham memberitahukan apa yang sedang terjadi. Mereka terdiri dari 100 pasukan berkuda dan 700 unta, dan tidak ada seorang pun dari tokoh mereka yang tidak ikut serta, kecuali Abu Lahab. Kemudian dia mengutus Al-‘Ash bin Hasyim bin Al-Mughirah untuk menggantikan posisinya.

Dalam perjalanan, Hudzaifah dan ayahnya Husail menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzaifah berkata, “Tidak ada yang menghalangiku untuk ikut perang Badar. Hanya saja orang-orang kafir Quraisy ingin mengajak kami, mereka berkata, “Apakah kalian menginginkan Muhammad?” Maka kami menjawab, “Tidak, kami tidak menginginkannya. Kami mau menuju Madinah.” Kemudian berperang bersama mereka. Kemudian kami pun menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau berkata kepadanya, “Ikutlah bersama kami, batalkan sumpah dengan mereka  dan kita meminta perlindungan kepada Allah.” (HR. Muslim, 3:1414, no. 1787)

Ketika Nabi mengetahui bahwa pasukan kafir Quraisy menuju ke arah mereka guna menyelamatkan unta-unta mereka, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bermusyawarah dengan para sahabatnya. Abu Bakar berpendapat agar apa yang sudah direncanakan terus dilanjutkan. Begitu juga halnya Umar bin Al-Khaththab. Miqdad juga berpendapat demikian, ia berkata, “Kita teruskan Ya Rasulullah. Laksanakan apa yang telah diperlihatkan Allah kepadamu dan kami akan bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Musa ‘alaihis salam, “Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan beperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” Akan tetapi, kami mengatakan, “Pergilah kamu bersama Tuhanmu, sesungguhnya kami ikut berperang denganmu.” Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab sahihnya disebutkan, “Namun, kami berperang bersamamu dari arah kanan, kiri, depan, dan belakangmu.” Perawi mengatakan, “Aku melihat wajah Nabi berbinar-binar dan senang dengan apa yang dikatakan oleh Miqdad.”

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwasanya Sa’ad bin Ubadah berdiri dan kemudian berkata, “Apa yang engkau inginkan dari kami, wahai Rasulullah? Demi Allah yang menguasaiku, seandainya engkau menyuruh kami untuk mencebur ke laut, maka kami akan menceburkan diri kami. Seandainya engkau menyuruh kami untuk menyerang mereka sampai ke Bark Ghamad akan kami laksanakan.”

“Wahai orang-orang, siapa lagi yang akan melontarkan pendapatnya kepadaku?” Pertanyaan ini Rasulullah maksudkan untuk memancing pendapat dan pandangan dari kaum Anshar. Sebab, pada saat perjanjian Aqabah Kubra, mereka telah berbaiat kepada beliau dan akan melindungi beliau sebagaimana mereka melindungi anak dan istri mereka sendiri. Perlindungan tersebut mereka berikan kepada Nabi selama beliau masih bersama mereka di Madinah dan bukan ketika berperang di luar kota Madinah.

Kemudian Sa’ad bin Mu’adz berdiri dan berkata, “Kami beriman dan mempercayaimu. Kami bersaksi bahwa apa yang engkau laksanakan itu benar. Selain itu, kami telah berjanji untuk mendengar dan taat kepadamu. Teruskan apa yang engkau kehendaki wahai Rasulullah, kami akan bersamamu. Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, seandainya engkau meminta kami untuk menceburkan diri ke laut kemudian engkau mencebur, maka kami pun akan mencebur diri kami dan tidak seorang pun dari kami mengingkarimu dan tidak ada yang enggan untuk berperang besok dan sungguh kami akan sabar dalam peperangan nanti. Semoga Allah memberikan kemenangan kepadamu. Berjalanlah bersama kami dengan berkat Allah.” Rasulullah sangat senang dengan ucapan Sa’ad tersebut. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berjalanlah dan berilah kabar gembira. Sesungguhnya Allah menjanjikan kepadaku pertolongan-Nya. Demi Allah, seolah-olah aku melihat peperangan itu.” (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, 2:254)

Ketika telah mendekati Badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berhenti dekat seseorang yang sudah tua, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya perihal Quraisy, Muhammad, serta para sahabatnya, dan semua berita yang berhubungan dengan mereka. Kemudian orang tersebut menjawab, “Tidak akan aku beritahu sebelum engkau mengatakan kepadaku siapa kalian?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika kamu mengabarkan kepada kami, maka kami akan memberitahumu siapa kami.” Kemudian orang tersebut menjawab, “Tepatilah apa yang kamu katakan ini.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Maka orang tua itu pun menjawab, “Telah sampai berita kepadaku bahwa Muhammad keluar pada hari ini dan ini. Jika berita yang sampai kepadaku itu benar, maka pada hari ini mereka akan berada di tempat ini (posisi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu itu). Selain itu, telah sampai berita kepadaku bahwa Quraisy keluar pada hari ini dan ini. Jika berita yang sampai kepadaku benar, maka sekarang posisi mereka itu ada di tempat ini (posisi Quraisy pada waktu itu). Setelah selesai menjawab, orang tua itu pun bertanya, “Dari mana asal kalian berdua?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kami dari maa‘ (air).” Kemudian mereka meninggalkan orang tua tersebut. Laki-laki itu berkata, “Dari maa‘ (air)? Maa’ yang mana? Apakah Maa’ ‘Iraq?” (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, 2:254-255)

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali kepada para sahabatnya. Pada sore harinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ali bin Abi Thalib, Zubair bin ‘Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan beberapa sahabat yang lain untuk menuju mata air Badar guna mencari informasi. Mereka pun mendapatkan dua orang pemuda yang sedang mengambil air minum unta, salah satunya berasal dari Bani Al-Hajjaj dan yang lainnya dari Bani Al-‘Ash bin Sa’id. Mereka membawa keduanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, pada saat itu beliau sedang shalat. Lalu kedua orang tersebut berkata, “Kami hanya bertugas untuk memberi minuman mereka.” Namun, para sahabat meragukan jawaban dari kedua orang tersebut atau jangan-jangan mereka bekerja untuk Abu Sufyan. Kemudian para sahabat memaksa untuk memberitahukan yang sebenarnya. Kemudian keduanya mengakui bahwa mereka bekerja untuk Abu Sufyan lalu para sahabat pun meninggalkan mereka.”

Bersambung Insya-Allah …

 

Referensi:

Fiqh As-Sirah. Cetakan kesepuluh, tahun 1437 H. Prof. Dr. Zaid bin ‘Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.

Baca Juga:

  • Bulughul Maram – Shalat: Bermain Perang-Perangan di dalam Masjid
  • Faedah Sirah Nabi: Perang Fijar dan Hilful Fudhul

@ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul

18 Dzulqa’dah 1443 H, 17 Juni 2022, Malam Sabtu

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

2 Comments

  1. Ijin bertanya Ustdaz, Bagaimana hukum mengontrak rumah di Bali, yg di halaman rumahnya ada semacam bangunan kecil utk menyimpan sesajen…?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button