Beranda Belajar Islam Aqidah Allah Di Atas ‘Arsy-Nya, Namun Allah juga Bersama dan Dekat dengan Hamba-Nya

Allah Di Atas ‘Arsy-Nya, Namun Allah juga Bersama dan Dekat dengan Hamba-Nya

1681
0

Alhamdullillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fiih kamaa yuhibbu robbuna wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. green1 Keutamaan Mengimani bahwa Allah Senantiasa Bersama Hamba-Nya Seseorang pernah bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَمَا تَزْكِيَةُ النَّفْسِ ؟ “Apa yang dimaksud hati yang bersih (suci)?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُ حَيْثُ كَانَ » “(Yaitu) seseorang mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla selalu bersamanya di mana saja dia berada.” (HR. Thobroni dalam Al Mu’jam Ash Shogir. Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al Albani di As Silsilah Ash Shohihah no. 1046)

Dalam riwayat Ath Thobroni terdapat riwayat,

« إِنَّ أفْضَلَ الإِيْمَانِ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ اللهَ مَعَكَ حَيْثُمَا كُنْتَ » “Iman yang paling utama adalah engkau mengetahui bahwa Allah bersamamu di mana saja engkau berada.” (HR. Ath Thobroni dalam Al Awsath. Hadits ini didho’ifkan oleh Syaikh Al Albani sebagaimana disebutkan dalam Dho’iful Jami’ no. 1002)

Allah Selalu Bersama Kita Di Mana Saja Kita Berada Mengenai hal ini kita dapat melihat dalam banyak dalil. Di antara dalil-dalil mengenai hal ini telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al ‘Aqidah Al Wasithiyah. Berikut kami bawakan dalil-dalil yang beliau sampaikan. [1] Dalil mengenai kebersamaan Allah yang bersifat umum Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hadid [57] : 4)

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Mujadilah [58] : 7)

[2] Dalil mengenai kebersamaan Allah yang bersifat khusus Allah Ta’ala berfirman,

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At Taubah [9] : 40)
إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى “Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thoha [20] : 46)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An Nahl [16] : 128)
وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal [8] : 46)
كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah [2] : 249)

Inilah ayat-ayat yang menjelaskan kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya. Dari ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa Allah bersama makhluk-Nya secara umum termasuk kebersamaan dengan orang beriman dan orang kafir, orang yang berbuat baik dan berbuat jahat. Juga ada ayat-ayat yang menunjukkan kebersamaan Allah secara khusus yaitu kebersamaan khusus berkaitan dengan sifat seperti Allah bersama dengan orang-orang yang bertakwa. Ada pula kebersamaan khusus yang berkaitan dengan person tertentu seperti dalam surat At Taubah ayat 40 di atas. Dalam ayat tersebut dikisahkan bahwa Abu Bakr dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalam goa untuk melindungi diri dari kejaran orang-orang musyrik. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Abu Bakr,

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At Taubah [9] : 40)

Inilah dua macam kebersamaan. Ada kebersamaan yang bersifat umum. Ada pula kebersamaan yang bersifat khusus dan ini bisa dimaksudkan kebersamaan Allah berkaitan dengan sifat atau kebersamaan Allah berkaitan dengan person tertentu. Demikian penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin yang kami sarikan dari Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah, hal. 253-254. Allah Juga Dekat Sebagaimana hal ini terdapat dalam ayat berikut.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah [2] : 186)

Begitu juga terdapat dalil dalam Shohih Muslim pada Bab ‘Dianjurkannya merendahkan suara ketika berdzikir’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ “Yang kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian daripada urat leher unta tunggangan kalian.” (HR. Muslim no 2704)

green31 Wahyu Ilahi Tidak Mungkin Bertentangan Sama Sekali Setelah kami menyampaikan dua point pembahasan yaitu kebersamaan Allah atau kedekatan Allah dan keberadaan Allah di atas langit, maka janganlah kita bingung dengan mengatakan, ‘Kok seolah-olah kedua dalil ini bertentangan.’ Janganlah kita bingung mengenai dua ayat semacam ini. Berbagai dalil mengenai keberadaan Allah di atas langit sudah sangat jelas dan gamblang, sebagaimana kami jelaskan di muka dan kami sertakan dengan berbagai pendapat ulama. Begitu pula dalil-dalil mengenai kebersamaan dan kedekatan Allah juga sangat jelas. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah mengatakan,

“Segala sesuatu di dalam Al Qur’an yang engkau sangka mengalami pertentangan menurut yang engkau lihat, maka renungkanlah kembali sampai engkau mendapat kejelasan. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا “Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An Nisa’ : 82) Jika engkau masih belum mendapatkan kejelasan, wajib bagimu menempuh jalan Ar Rosikhuna fil ‘Ilmi (orang-orang yang kokoh ilmunya). Orang-orang yang kokoh ilmunya ini mengatakan, آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Rabb kami..” (QS. Ali Imron [3]: 7) … Kedangkalan ilmu atau kepahaman sebenarnya ada padamu. Ketahuilah bahwa Al Qur’an tidaklah mungkin bertentangan sama sekali.” (Syarh Al Qowa’idul Mutsla, hal. 286)

Dalam kitab Al ‘Aql wan Naql (1/43-44) ada suatu kaedah yang bermanfaat yang diisyaratkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Kaedah ini adalah bagaimana apabila terjadi pertentangan antara dua dalil. Dua dalil tersebut mengkin saja sama-sama qoth’i (dalil tegas), atau sama-sama zhonni (dalil masih prasangka) atau ada yang qoth’i dan ada yang zhonni. Berikut penjelasan ketiga dalil ini: Pertama adalah jika dua dalil sama-sama qoth’i (pasti). Maka untuk dalil semacam ini sangat mustahil terjadi pertentangan. Kalau kita mengatakan kedua dalil semacam ini saling bertentangan, maka ini akan menghilangkan salah satu dalil dan ini tidak mungkin. Jika kita menyangka bahwa kedua dalil semacam ini saling bertentangan, maka salah satunya tidak qoth’i lagi. Jadi dua dalil qoth’i semacam ini tidaklah mungkin bertentangan. Oleh karena itu, dalil yang satu harus kita bawa kepada dalil lainnya atau sebaiknya. Dan jika kita mau menghapus (menaskh) salah satu dalil, maka harus tahu manakah dalil yang datang dahulu (mansukh = dalil yang dihapus) dan manakah dalil yang datang belakangan (nasikh = dalil yang menghapus). Kedua adalah jika dua dalil sama-sama zhonni (sangkaan), mungkin dari sisi pendalilan atau dari sisi shohih atau tidaknya dalil. Maka untuk kasus semacam ini dibutuhkan tarjih (menguatkan salah satu dalil). Kemudian jika sudah jelas manakah dalil yang lebih kuat, kita harus mendahulukan dalil yang rojih (dalil yang lebih kuat). Ketiga adalah jika salah satu dalil qoth’i (pasti) dan dalil lain zhonni (sangkaan). Maka pada saat ini, kita harus mendahulukan dalil yang qoth’i dan ini adalah cara yang disepakati oleh orang yang memiliki akal sehat. Karena yang yakin (pasti) tentu saja tidak bisa dihilangkan dengan dalil yang hanya sangkaan (zhon). (Disarikan dari Fathu Robbil Bariyah, hal. 42 dengan sedikit perubahan redaksi) Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. **** 18 Rabi’ul Akhir 1430 H Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Allah Muhammad Abduh Tuasikal

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini