Beranda Belajar Islam Tafsir Al Qur'an Faedah Surat Yasin: Andai Allah Tidak Menyelamatkan Kita

Faedah Surat Yasin: Andai Allah Tidak Menyelamatkan Kita

223
0

 

Pelajaran penting dari surat Yasin, hanya Allah yang bisa menyelamatkan kita dari musibah.

Tafsir Surah Yasin

Ayat 41-44

وَآَيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (41) وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (42) وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ (43) إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (44)

“Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. Dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.” (QS. Yasin: 41-44)

 

 

Penjelasan Ayat

Sebelumnya disebutkan tentang matahari, bulan, dan bintang-bintang yang menunjukkan akan keagungan Allah Ta’ala. Juga untuk menunjukkan bahwa Allah itu satu-satunya yang disembah, satu-satunya pemberi nikmat, satu-satunya yang menyelamatkan kita dari musibah, dibuktikan dalam ayat yang dikaji saat ini. Dalam ayat ini diingatkan tentang nenek moyang mereka yaitu Nabi Nuh ‘alaihis salam yang diselamatkan dengan diangkut dalam kapal. Nikmat bagi nenek moyang juga nikmat yang dirasakan oleh keturunan, sehingga dalam ayat tetap dipakai istilah (dzurriyah yang artinya keturunan). Ayat ini menunjukkan bahwa jika Allah menghendaki untuk menenggelamkan, maka tidak ada yang bisa menolong dan menyelamatkan. Hanya Allah yang bisa menyelamatkan dan itu atas rahmat Allah.

 

Pelajaran dari Ayat

  1. Ayat ini menjelaskan tentang diselamatkannya manusia dari tenggelamnya di zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Seandainya Allah tidak menyelamatkan mereka, tentu habislah manusia di muka bumi. Namun atas karunia Allah, Dia menyelamatkan Nuh ‘alaihis salam dan pengikutnya. Yang tersisa di muka bumi hanyalah mereka saja, sehingga generasi berikutnya dari keturunan mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS. Ash-Shaffaat: 77). Karenanya Nabi Nuh ‘alaihis salam disebut bapak manusia kedua setelah Nabi Adam ‘alaihis salam.

  1. Di antara nikmat Allah, Dia memberikan nikmat dengan mengajarkan bagaimanakah cara mengarungi lautan. Seandainya bukan karena karunia tersebut, tentu manusia tidak dapat menyeberangi lautan dan samudera yang luas.
  2. Bahtera Nabi Nuh ‘alaihis salam penuh dengan manusia dan lainnya. Karenanya disebut dalam ayat dengan ‘masy-huun’ yaitu ‘dalam bahtera yang penuh muatan’.
  3. Allah memiliki kehendak sebagaimana disebutkan dalam ayat ‘Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka’.
  4. Jika Allah menghendaki menenggelamkan manusia, maka tidak ada yang bisa mencegah.
  5. Selamatnya manusia dari tenggelam sejatinya bukan karena usaha mereka, namun karena rahmat Allah.
  6. Allah memiliki rahmat. Karenanya Allah memiliki nama Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Ar-Rahman artinya nama yang khusus bagi Allah, maknanya adalah memberikan rahmat (kasih sayang) yang luas. Sedangkan Ar-Rahiim juga merupakan nama Allah, maknanya adalah memberikan rahmat kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Ada pula ibarat dari Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Badaai’ Al-Fawaid, Ar-Rahman adalah yang menyifati Allah, sedangkan Ar-Rahiim adalah perbuatan Allah yang menyayangi hamba-Nya.
  7. Allah yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan sampai datang ajalnya, karenanya disebutkan dalam ayat, ‘dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika’.
  8. Kekal di dunia ini adalah suatu hal yang mustahil.
  9. Wajib bagi manusia memandang bahwa nikmat Allah dengan menyelamatkan ia dari musibah atau ia mendapatkan apa yang ia harap, semua itu adalah karunia Allah, bukan usaha manusia semata-mata.

 

Keadaan Orang Musyrik Ketika Selamat

 Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah menerangkan dalam Al-Qawa’id Al-Arba’, Kesyirikan di zaman kita betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dulu. Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam kondisi sempit. Namun, orang-orang musyrik saat ini berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit. Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-‘Ankabut [29] :65).”

 

Doa agar Diberi Kesehatan dan Berlindung dari Musibah Mendadak

اللَّهُمَّ إِنِّيٍ أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK.

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim, no. 2739, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

 

Doa agar Ditolong oleh Allah dalam Setiap Urusan

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

YAA HAYYU YAA QOYYUUM BI RAHMATIKA ASTAGHIITSU, WA ASH-LIHLII SYA’NII KULLAHU WA LAA TAKILNII ILAA NAFSII THORFATA ‘AININ ABADAN.

Artinya: Wahai Rabb yang Maha Hidup, wahai Rabb yang Berdiri Sendiri dan tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan kepadaku walau sekejap mata pun tanpa mendapat pertolongan dari-Mu, selamanya. (HR. Ibnu As-Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 46; An-Nasai dalam Al-Kubra, 381:570, Al-Bazzar dalam Musnad-nya 4:25:3107; Al-Hakim, 1:545. Sanad hadits ini hasan, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 227)

 

Moga Allah beri kemudahan agar selamat dari berbagai musibah.

 

Referensi:

  1. Hushul Al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsah Al-Ushul. Cetakan kedua, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Fauzan Al-Fauzan. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.
  2. Muslim Tetapi Musyrik. Cetakan pertama, Tahun 2018. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho.
  3. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.
  4. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedelapan, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  5. 50 Doa Mengatasi Problem Hidup. Cetakan kedua, Tahun 2017. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Rumaysho.

Artikel Kajian Malam Kamis di Darush Sholihin, disusun Rabu sore, 2 Sya’ban 1439 H, 18 April 2018

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini