Home Jalan Kebenaran Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat

Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat

1120
6

Tatkala senang dan tidak suka, tetap wajib taat terhadap keputusan dan perintah kaum muslimin. Beda dengan sikap sebagian golongan yang enggan taat pada pemimpinnya, lebih mementingkan kepentingan individu dan golongan dibanding persatuan kaum muslimin. Padahal mentaati pemimpin atau penguasa demi terjaganya kemaslahatan bersama lebih pantas diutamakan.

 

Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin pada hadits no. 663 dengan judul bab yang beliau bawakan, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang beliau bawa.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ »

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).

 

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Wajib mentaati pemimpin atau imam kaum muslimin dalam segala perkara, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka.

2- Tidak boleh mentaati penguasa dalam hal maksiat, tidak ada ketaatan dalam bermaksiat pada Allah.

3- Setiap muslim wajib mengenyampingkan kepentingan individu dan kelompok, lalu memilih perkara yang lebih menyatukan kaum muslimin.

Semoga faedah dari hadits di atas bermanfaat bagi kita sekalian. Semoga bisa diamalkan.

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1:654.

 


 

Disusun @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.47 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

6 COMMENTS

  1. Afwan ustadz kayanya ada kata yg kurang pada terjemahan ini.( Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” ). Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here