Home Tafsir Al Qur'an Tafsir Surat Al-Fatihah (Ayat 6 dan 7): Memahami Shirathal Mustaqim (Jalan Lurus)

Tafsir Surat Al-Fatihah (Ayat 6 dan 7): Memahami Shirathal Mustaqim (Jalan Lurus)

22227
0

Apa yang dimaksud shirathal mustaqim (jalan lurus)? Juga apa yang dimaksud orang yang dimurkai dan orang yang sesat. Kajian Tafsir Jalalain ini akan membantu untuk memahami ayat ke-6 dan ke-7 dari surat Al-Fatihah.

Sudah membaca pembahasan sebelumnya? Simak Tafsir Surat Al-Fatihah (Ayat 5): Memahami Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’iin

Allah Ta’ala berfirman,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Artinya:

  1. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
  2. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam,
  3. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
  4. Pemilik hari pembalasan.
  5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
  6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
  7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 1-7)

 

Jalaluddin Al-Mahalli rahimahullah mengatakan,

{ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيْمَ } أَيْ أَرْشِدَنَا إِلَيْهِ وَيُبْدَلُ مِنْهُ .

{ صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ } بِالْهِدَايَةِ وَيُبْدَلُ مِنَ الَّذِيْنَ بِصِلَّتِهِ { غَيْرِ المَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ } وَهُمُ اليَهُوْدُ { وَلاَ } وَغَيْر ُ{ الضَّالِّيْنَ } وَهُمُ النَّصَارَى وَنُكْتَةُ البَدَلِ إِفَادَةٌ أَنَّ المُهْتَدِيْنَ لَيْسُوا يَهُوْداً وَلاَ نَصَارَى

وَاللُه أَعْلَمُ بِالصَّوَّابِ ، وَإِلَيْهِ المَرْجَعُ وَالمَآبُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا دَائِمًا أَبَدًا ، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ .

“Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, kemudian dijelaskan pada ayat berikutnya, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, yaitu melalui petunjuk dan hidayah-Mu. Kemudian diperjelas lagi maknanya oleh ayat berikut:

Bukan jalan mereka yang dimurkai (al-maghdhuub ‘alaihim), yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. Bukan pula mereka yang sesat (adh-dhoolliin), yang dimaksud adalah orang-orang Nasrani.

Faedah adanya penjelasan tersebut mempunyai pengertian bahwa orang-orang yang mendapatkan hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan orang-orang Nasrani. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan hanya kepada-Nyalah dikembalikan segala sesuatu.

Semoga shalawat dan salamnya dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabatnya, shalawat dan salam yang banyak untuk selamanya. Cukuplah bagi kita, Allah yang mencukupi dan Allahlah sebaik-baik tempat bersandar. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya berkat pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”

 

Catatan dari apa yang disampaikan dalam tafsir Jalalain

  1. Kita berdoa kepada Allah agar dibimbing pada jalan yang lurus.
  2. Jalan yang lurus ditafsirkan pada ayat selanjutnya yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai, dan bukan jalan orang yang sesat.
  3. Orang yang dimurkai (al-maghdhuub ‘alaihim) adalah orang Yahudi.
  4. Orang yang sesat (adh-dhaalliin) adalah orang Nasrani.
  5. Orang Yahudi dan Nasrani bukanlah orang yang mendapatkan hidayah (petunjuk).

 

Mendalami makna “Jalan yang Lurus”

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan sebagaimana berikut ini.

Kemudian Allah berfirman “Tunjukilah kami jalan yang lurus”, yakni tunjukilah kami dan berilah taufik kepada kami (untuk meniti) jalan yang lurus, yaitu jalan yang jelas yang mengantarkan kepada keridaan Allah dan surga-Nya. Hal ini diperoleh dengan cara mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.

Ada dua hal dalam hal meminta petunjuk yaitu tunjukilah kami kepada shirath dan tunjukilah di dalam shirath. Hidayah (petunjuk) kepada shirath adalah supaya tetap teguh pada ajaran Islam dan meninggalkan agama-agama selain Islam. Sedangkan hidayah di dalam shirath mencakup hidayah untuk mengamalkan seluruh cabang agama, baik secara ilmu maupun amal. Ini merupakan doa yang paling lengkap dan paling bermanfaat bagi para hamba. Maka, wajib bagi setiap orang untuk berdoa kepada Allah dengan doa ini pada setiap rakaat shalat yang ia kerjakan, karena begitu butuhnya ia pada doa ini.

Yang dimaksud jalan yang lurus dalam surah ini adalah jalan yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, yakni jalannya orang-orang yang mendapat nikmat. Merekalah kalangan nabi shiddiqin (orang yang jujur), syuhada’ (mati syahid), dan shalihin.

Firman Allah Ta’ala “bukan jalan orang yang Engkau murkai”, yakni mereka yang mengetahui kebenaran (memiliki ilmu), namun meninggalkannya seperti orang-orang Yahudi dan yang semisal dengan mereka.

Firman Allah Ta’ala “bukan pula jalannya orang-orang yang sesat” yakni orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti orang-orang Nasrani dan yang semisal dengan mereka. (Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 26)

 

Faedah dari Ibnu Katsir “Tunjukilah kami jalan yang lurus”

Surah Al-Fatihah diawali dengan pujian kepada Allah, lalu beralih pada meminta.

وهذا أكمل أحوال السائل، أن يمدح مسؤوله، ثم يسأل حاجته [وحاجة إخوانه المؤمنين بقوله: { اهدنا } ] ، لأنه أنجح للحاجة وأنجع للإجابة

“Inilah kesempurnaan keadaan orang yang meminta (berdoa) yaitu, ia memuji Allah kemudian meminta hajatnya dan hajat saudaranya yang beriman yaitu memohon hidayah (ihdinaash shiroothol mustaqiim, tunjukilah kepada kami ke jalan yang lurus). Hajat tersebut akan lebih cepat tertunaikan dan lebih manfaat untuk diijabahi.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:208)

Meminta hidayah yang dimaksud di sini adalah irsyad wa taufiq (pembimbingan dan taufik). Ibnu Katsir berkata,

والهداية هاهنا: الإرشاد والتوفيق

“Hidayah yang dimaksud (dalam ayat ihdinash shiroothol mustaqiim) adalah hidayah irsyad dan taufiq.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:209)

Hidayah sendiri menurut para ulama ada dua macam –sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin–yaitu:

1- Hidayah ilmi wa irsyad, yaitu hanya sekadar memberikan penjelasan.

2- Hidayah taufiq wa ‘amal, yaitu menerima dan menjalankan syariat.

Contoh ayat yang membicarakan hidayah jenis pertama adalah,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Contoh ayat yang membicarakan hidayah taufiq wa ‘amal,

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Hidayah jenis kedua (untuk menerima kebenaran) ada yang terhalang untuk mendapatkannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Fussilat: 17). Ayat menyebutkan “fahadaynaahum” (Kami beri petunjuk) yaitu Kami beri kepada mereka petunjuk pada kebenaran, akan tetapi mereka tidak mau menerima. Lihat bahasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, hlm. 17-18.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa adapun shirothol mustaqiim sebagaimana dikatakan oleh Abu Jafar Ibnu Jarir, ‘Para ulama pakar tafsir semua sepakat bahwa shiroothol mustaqim adalah:

هُوَ الطَّرِيْقُ الوَاضِحُ الَّذِي لاَ اِعْوِجَاجَ فِيْهِ

“Jalan yang jelas yang tidak menyimpang dari garis lurus.’” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:209)

Para ulama yang dulu dan belakangan memiliki perbedaan dalam menafsirkan jalan yang lurus ini. Kata Ibnu Katsir,

وإن كان يرجع حاصلها إلى شيء واحد، وهو المتابعة لله وللرسول

“Walaupun semua pengertian shirothol mustaqim akan kembali pada satu pengertian yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:209)

Ikhtisar dari yang disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, shirothol mustaqim adalah:

  1. Jalan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Jalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
  3. Kebenaran.
  4. Islam.
  5. Al-Qur’an.

Setelah menyebutkan pendapat-pendapat ini, Ibnu Katsir rahimahullah menyampaikan,

وكل هذه الأقوال صحيحة، وهي متلازمة، فإن من اتبع النبي صلى الله عليه وسلم، واقتدى باللذين من بعده أبي بكر وعمر، فقد اتبع الحق، ومن اتبع الحق فقد اتبع الإسلام، ومن اتبع الإسلام فقد اتبع القرآن، وهو كتاب الله وحبله المتين، وصراطه المستقيم، فكلها صحيحة يصدق بعضها بعضا، ولله الحمد.

“Semua pengertian di atas itu benar dan semua makna di atas itu saling terkait. Siapa yang mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti sahabat sesudahnya yaitu Abu Bakar dan Umar, maka ia telah mengikuti kebenaran. Siapa yang mengikuti kebenaran, berarti ia telah mengikuti Islam. Siapa yang mengikuti Islam, berarti ia telah mengikuti Al-Qur’an (Kitabullah), itulah tali Allah yang kokoh. Itulah semua ash-shirothol mustaqim (jalan yang lurus). Semua pengertian di atas itu benar saling mendukung satu dan lainnya. Walillahil hamd.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:213)

Baca Juga: Terus Meminta Jalan yang Lurus

Faedah dari Ibnu Katsir “Jalan yang Engkau Beri Nikmat”

Ayat berikut,

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

adalah tafsiran dari ayat,

الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Karenanya jalan yang lurus adalah jalan yang Allah beri nikmat. Shirothol mustaqim ini, menurut ilmu nahwu sebagai “badal minhu”, bisa juga kita sebut dengan ‘athaf bayan.

Orang-orang yang Allah beri nikmat adalah seperti yang disebutkan dalam ayat,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

ذَٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ عَلِيمًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (QS. An-Nisaa’: 69-70)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata tentang orang-orang yang mendapatkan nikmat,

صراط الذين أنعمت عليهم بطاعتك وعبادتك، من ملائكتك، وأنبيائك، والصديقين، والشهداء، والصالحين

“Jalan yang engkau beri nikmat kepada mereka dengan menaati-Mu dan beribadah kepada-Mu. Mereka yang mendapatkan nikmat adalah para malaikat, para nabi, shiddiqiin, syuhada, dan orang-orang saleh.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:215)

 

Faedah dari Ibnu Katsir “jalan orang yang dimurkai” dan “jalan orang yang sesat”

Dari ‘Adi bin Hatim, ia berkata bahwa ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimaksud dengan “ghairil maghdhuubi ‘alaihim” (bukan jalan mereka yang dimurkai), Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka adalah Yahudi.” Lalu mengenai ayat “wa laadh dhoolliin” (bukan jalan mereka yang sesat), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka adalah Nasrani.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:217. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi mengatakan bahwa hadits ini sahih karena memiliki penguat. Lihat HR. Ahmad, 4:378-379; Tirmidzi, no. 2954)

Dari Abu Dzarr, ia bertanya tentang al-maghdhuub ‘alaihim (mereka yang dimurkai), jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yaitu Yahudi.” Ia bertanya tentang adh-dhoolliin (mereka yang sesat), jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yaitu Nasrani.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:217. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi mengatakan bahwa hadits ini sahih secara matan).

Ibnu Abi Hatim mengatakan bahwa ia tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat ulama pakar tafsir dalam masalah ini. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:219.

Dalam sirah (sejarah), dari Zaid bin ‘Amr bin Nufail bahwa ketika ia keluar bersama jamaah dari para sahabat ke Syam, mereka ingin mencari agama yang lurus (ad-diin al-haniif), ada orang Yahudi mengatakan kepadanya, “Engkau tidak mampu masuk bersama kami sampai engkau mengambil bagianmu menjadi orang yang dimurkai oleh Allah.” Ia berkata, “Aku menjadi orang yang dimurkai Allah, aku mending lari.” Orang Nasrani berkata padanya, “Engkau juga tidak mampu masuk bersama kami sampai engkau mengambil bagianmu menjadi orang-orang yang dilaknat oleh Allah.” Zaid berkata, “Aku tidak mampu, aku terus mau berada di atas fitrah.” Ia pun menjauh dari peribadahan pada berhala dan agama orang musyrik. Ia pun tidak masuk mengikuti Yahudi atau pun Nasrani. Kawannya ada yang ikut Nasrani. Mereka masuk dalam ajaran Nasrani karena mereka merasa bahwa Nasrani lebih dekat dengan ajaran Yahudi. Di antara mereka ada Waraqah bin Naufal sampai Allah memberinya hidayah dengan perantaraan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamketika beliau diutus dan ia beriman pada wahyu yang dibawa. Semoga Allah meridainya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:219)

 

Faedah ayat

  1. Sebagaimana kata Ibnu Katsir, shirothol mustaqim (jalan yang lurus) adalah syariat yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Hidayah itu ada dua macam, yaitu hidayah yang sekadar memberikan penjelasan (hidayah ilmu wa irsyad) dan hidayah untuk mengamalkan syariat (hidayah taufiq wa ‘amal).
  3. Jalan itu ada dua macam, yakni jalan yang lurus dan jalan yang menyimpang dari jalan yang lurus.
  4. Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus (ihdinaash shiroothol mustaqim)”, ini kalimat yang sifatnya mujmal(global). Sedangkan “jalan yang Engkau beri nikmat pada mereka (shiroothol laadziina an’amta ‘alaihim)” adalah tafshil (rincian).
  5. Mendapatkan petunjuk pada jalan yang lurus adalah suatu nikmat yang patut disyukuri.
  6. Manusia terbagi menjadi tiga: (1) manusia yang mendapatkan nikmat dengan mendapatkan petunjuk, (2) manusia yang dimurkai, (3) manusia yang sesat.
  7. Ada dua sebab seseorang keluar dari jalan yang lurus yaitu karena kebodohan (al-jahl) dan karena penentangan (al-‘inad). Golongan yang menentang adalah Yahudi, itulah yang mendapatkan murka Allah. Golongan yang jauh dari ilmu adalah Nasrani, itulah yang dikatakan sesat. Nasrani disebut tidak punya ilmu adalah keadaan sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi seorang nabi. Adapun setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi nabi, mereka sudah tahu kebenaran ini, lalu mereka tidak mau taat.
  8. Kata al-maghdhuub ‘alaihim (yang dimurkai) disebutkan lebih dahulu daripada adh-dhoolliin (yang sesat). Kondisi orang yang disebut al-maghdhuub ‘alaihim lebih parah dari adh-dhoolliin. Al-maghdhuub ‘alaihim (yang dimurkai) adalah yang menyelisihi kebenaran padahal punya ilmu (alias: menentang). Sedangkan adh-dhoolliinadalah menyelisihi kebenaran karena bodoh atau tidak punya ilmu. Tentu saja yang menyelisihi kebenaran karena punya ilmu lebih parah daripada yang menyelisihinya karena tidak punya ilmu.

 

Referensi:

  1. At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Tafsir Surah Al-Baqarah fii Sual wa Jawab. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah.
  2. Shahih Tafsir Ibni Katsir. Cetakan pertama, Tahun 1427 H. Syaikh Musthafa Al-‘Adawi. Penerbit Darul Fawaid – Dar Ibnu Rajab.
  3. Tafsir Al-Jalalain. Cetakan kedua, Tahun 1422 H. Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli dan Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi. Ta’liq: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury. Penerbit Darus Salam.
  4. Tafsir Jalalain. Penerbit Pustaka Al-Kautsar
  5. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  6. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.
  7. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Baca Juga:


 

Disusun di Darush Sholihin, 29 Ramadhan 1441 H (22 Mei 2020)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumasyho.Com

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here