Home / Tafsir Al Qur'an / Renungan #16, Sikap Bani Israil Dahulu pada Makanan

Renungan #16, Sikap Bani Israil Dahulu pada Makanan

Israil (Ya’qub) dan Bani Israil dahulu masih diperkenankan mengharamkan yang halal dalam bentuk nadzar. Untuk syariat kita saat ini tidak boleh.

Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali Imran: 93)

 

Faedah yang bisa diambil dari ayat di atas:

  • Hukum asal makanan itu halal sampai datang dalil yang mengharamkannya.
  • Asalnya makanan, juga minuman halal bagi Israil (Ya’qub) dan keturunannya kecuali yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) dalam bentuk nadzar.
  • Maksiat itulah yang menyebabkan ujian pada hamba baik ujian yang sifatnya syar’i maupun qadari.
  • Untuk syariat sebelum kita, masih diperkenankan meninggalkan yang halal dalam rangka ibadah pada Allah. Sedangkan syari’at kita saat ini, setiap yang baik (thayyib) bagi kita itu halal untuk kita konsumsi. Tidak boleh saat ini bernadzar yang bentuknya enggan menyantap yang halal-halal. Yang diharamkan bagi kita saat ini adalah yang khabaits (najis dan kotor).
  • Keutamaan umat Islam saat ini karena segala yang baik dihalalkan untuk kita.
  • Dalam syari’at kita saat ini, setiap bentuk ibadah dengan mengharamkan yang halal dilakukan dalam bentuk nadzar, termasuk bid’ah dan kesesatan.
  • Menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah Ta’ala.
  • Ayat ini sebagai bantahan bagi Yahudi yang menganggap tidak ada lagi nasikh dan mansukh (ayat yang menghapus dan dihapus).

Dengan merenungkan hal ini, kita akan semakin bersyukur dengan syariat kita. Walhamdulillah.

Semoga faedah ayat ini bermanfaat. Semoga semakin semangat untuk merenungkan Al-Qur’an.

 

Referensi:

Tafsir Al-Qur’an Al-Karim (Surat Ali Imran). Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Tafsir Az-Zahrawain (Al-Baqarah wa Ali ‘Imran). Cetakan pertama, tahun 1437 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan.

@ Perpus DS, Panggang, Jumat Pagi, 14 Ramadhan 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Renungan #24, Belajar Agama ataukah Pergi Jihad?

Belajar agama ataukah pergi jihad?

2 comments

  1. as-salaamu’alaikum guru,

    bagaimana jikalau nadzar para kakek kami dulu yg bernadzar tidak akan memakan suatu jenis ikan dan suatu jenis burung karena pada dulu kakek kami pernah bernadzar untuk tidak memakannya karena pernah dibantu oleh mereka?

    afwan, jazaakumullahukhairankatsiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *