Home / Puasa / Jika Meninggalkan Puasa Sunnah, Apakah Perlu Diqodho’?

Jika Meninggalkan Puasa Sunnah, Apakah Perlu Diqodho’?

Apakah puasa sunnah (seperti puasa Syawal  atau puasa tiga hari setiap bulannya) jika ditinggalkan perlu diqodho’ atau diganti di waktu lainnya?

Simak fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts wal Ifta’ (komisi fatwa di Saudi Arabia) berikut.

Soal ketiga dari Fatwa no. 2014

س3: أصوم ثلاثة أيام من كل شهر، وفي أحد الأشهر أصابني مرض فلم أصمها فهل علي قضاء أو كفارة؟

Soal: Saya biasa berpuasa tiga hari setiap bulannya. Pada suatu bulan, saya tertimpa sakit sehingga saya tidak berpuasa. Apakah saya memiliki keharusan untuk mengqodho’ puasa tersebut atau menunaikan kafaroh (tebusan)?

Jawab:

Apabila puasa sunnah ditinggalkan, tidak perlu diqodho’, walaupun meninggalkannya atas kehendak sendiri. Namun sudah seharusnya setiap muslim mengerjakan amalan sholih yang biasa dia lakukan secara kontinu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أحب الأعمال إلى الله ما داوم عليه صاحبه وإن قل

Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan kontinu yang dilakukan oleh seseorang walaupun itu sedikit.” [1]

Maka tidak ada qodho bagi puasa sunnah yang engkau tinggalkan, begitu pula tidak ada kafaroh. Namun perlu diketahui bahwa apabila seseorang meninggalkan amalan sholih yang biasa dia rutinkan karena alasan sakit, sudah tidak mampu lagi melakukannya, dalam keadaan bersafar atau alasan lainnya, maka dia akan tetap memperoleh ganjarannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إذا مرض العبد أو سافر كُتب له مثل ما كان يعمل مقيمًا صحيحًا

Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab shahihnya.

Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts wal Ifta’

Anggota: ‘Abdullah bin Qu’ud

Wakil Ketua: ‘Abdur Rozaq Afifi

Ketua: ‘Abdullah bin Baz

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

 

[1] HR. Ahmad, Al Bukhari, Muslim, Abu Daud, An Nasa-i, Ibnu Majah

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Khutbah Jumat: Dua Pelajaran Penting dari Puasa Asyura

Ada dua pelajaran penting yang bisa diambil dari puasa Asyura. Baca khutbah Jumat kali ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *