Home Tafsir Al Qur'an Tafsir Surat Al-Fatihah (Ayat 2): Memahami Alhamdulillah

Tafsir Surat Al-Fatihah (Ayat 2): Memahami Alhamdulillah

4173
0

Yuk pahami surah Al-Fatihah, saat ini tentang arti Alhamdulillah.

Allah Ta’ala berfirman,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Artinya:

  1. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
  2. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam,
  3. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
  4. Pemilik hari pembalasan.
  5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
  6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
  7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 1-7)

 

Memahami Ayat Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin

Dalam ayat disebutkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.

Jalaluddin Al-Mahally dalam Tafsir Al-Jalalain (hlm. 10) menyebutkan:

Lafaz ayat ini merupakan kalimat berita (jumlah khabariyyah) sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Ta’ala yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya.

Atau makna yang dimaksud adalah Allah Ta’ala itu Dzat yang harus mereka puji.

Lafaz Allah merupakan nama bagi Dzat yang berhak untuk disembah.

Rabbul ‘aalamiin (Rabb semesta alam) artinya Allah adalah yang memiliki semua makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata, dan lainnya. Semua makhluk tadi disebut ‘aalam (‘aalamiin). Oleh karenanya, ada alam manusia, ada alam jin, dan lain sebagainya.

Lafaz al-‘aalamiin merupakan bentuk jamak dari lafaz ‘aalam yaitu dengan memakai huruf ya’ dan nun untuk menekankan makhluk berakal/ berilmu atas yang lainnya.

Kata ‘alam sendiri berarti tanda, berarti ‘alam itu tanda adanya yang menciptakan (yaitu Allah).”

 

Beberapa catatan tambahan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam tafsirnya

  1. Al-hamdu adalah sifat bagi yang dipuji dengan sempurna disertai al-mahabbah (kecintaan) dan at-ta’zhim (pengagungan). Allah itu sempurna dalam Dzat, sifat, dan perbuatan.
  2. Disebut al-hamdu jika Allah itu disifati dengan sifat sempurna disertai kecintaan dan pengagungan. Tanpa ada kecintaan dan pengagungan tidak disebut al-hamdu (memuji).
  3. Alif laam yang ada dalam kata al-hamdu menunjukkan istigh-raq, mencakup seluruh pujian. Artinya semua pujian itu memang milik Allah.
  4. Kalimat “lillahi”, huruf laam di situ menunjukkan ikhti-shash dan istih-qaq artinya berhak mendapat.
  5. Nama Allah adalah nama Rabb kita, tidak boleh selain-Nya bernama dengan nama Allah. Karena Allah itu al-ma’luh atau al-ma’bud, sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan dan pengagungan.
  6. Disebut Ar-Rabb jika memiliki tiga sifat yaitu mencipta, memiliki segala sesuatu, dan mengatur segala urusan. Allah itu disebut Ar-Rabb karena Dialah Al-Khaliq (Maha Mencipta), Al-Malik (Maha Merajai), Al-Mudabbir (Maha Mengatur).
  7. Segala sesuatu selain Allah adalah ‘aalam. Disebut ‘aalam karena sebagai tanda bahwa Sang Khaliq itu Mahakuasa, Penuh hikmah, Maha Penyayang, Maha Perkasa, dan makna rububiyyah lainnya.

Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, hlm. 12.

 

Faedah dari Alhamdu lillahi Rabbil ‘Aalamiin

  1. Penetapan pujian yang sempurna bagi Allah.
  2. Allah itu dipuji dari segala sisi.

Oleh karena itu dalam hadits Aisyah disebutkan sebagai berikut.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ». وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ».

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat hal yang ia sukai, beliau mengucapkan ‘ALHAMDULILLAHILLADZI BI NI’MATIHI TATIMMUSH SHOOLIHAAT’ (artinya: segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna). Lalu apabila mendapati hal yang ia tidak suka, beliau mengucapkan ‘ALHAMDU LILLAHI ‘ALA KULLI HAAL’ (artinya: segala puji bagi Allah untuk segala keadaan).’” (HR. Ibnu Majah, no. 3803. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

  1. Disebut dahulu “Allah” lalu “Rabbul ‘aalamin” menunjukkan bahwa sifat uluhiyah didahulukan dari sifat rububiyyah. Hal ini menunjukkan dua hal: (1) Allah adalah nama khusus bagi Allah, lalu nama lain adalah turunan dari nama Allah ini, (2) para rasul itu diutus untuk meluruskan tauhid uluhiyah yang telah menyimpang.
  2. Sifat rububiyyah Allah itu mencakup seluruh ‘aalam.

Demikian faedah yang bisa ditarik dari Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, hlm. 12-13.

 

Referensi:

  1. Tafsir Al-Jalalain.Cetakan kedua, Tahun 1422 H.  Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli dan Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi. Ta’liq: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury. Penerbit Darus Salam.
  2. Tafsir Jalalain. Penerbit Pustaka Al-Kautsar
  3. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.

 

Baca Juga:

 


Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumasyho.Com

 

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here