Home / Tafsir Al Qur'an / Renungan #24, Belajar Agama ataukah Pergi Jihad?

Renungan #24, Belajar Agama ataukah Pergi Jihad?

Belajar agama ataukah pergi jihad?

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

 

Faedah dari ayat di atas:

1- Tidak semua kaum muslimin pergi ke medan perang karena hal itu akan membuat banyak kebaikan akan luput. Dalam keadaan diwajibkannya jihad, mesti ada yang menetap.

2- Hendaklah ada yang mempelajari ilmu agama, tidak semua turun untuk pergi berjihad.

3- Mempelajari ilmu agama itu penting, tujuannya untuk mengajarkan yang lain setelah mereka pulang dari jihad.

4- Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu agama, karena mesti ada orang yang mendalami ilmu agama, walau pergi berjihad itu baik.

5- Seorang ‘alim (yang berilmu) tidak hanya mencukupkan dirinya sendiri, tidak mau mendakwahkan ilmunya pada yang lain. Penting untuk berdakwah dengan hikmah dan memberi nasihat dengan cara yang baik.

6- Belajar agama yang nantinya akan didakwahkan punya manfaat yang luas untuk maslahat orang banyak. Setiap yang belajar hendaklah meniatkan belajarnya untuk memberikan manfaat pada orang lain.

Mau pergi jihad ataukah belajar ilmu agama? Lihat dan renungkan lagi bahasan di atas. Belajar agama punya manfaat untuk setiap waktu, sedangkan jihad itu hanya pada moment tertentu saja. Semoga jadi renungan.

Coba pikirkan, kita terus mendengungkan jihad, namun mana semangat kita mendalami agama? Bukankah berjihad mesti butuh ilmu diin dahulu?

 

Referensi:

Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Senin Sore, 24 Ramadhan 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Faedah Surat Yasin: Allah Mencipta Tentu Mampu Membangkitkan

Allah mampu mencipta, tentu mampu mengembalikan (membangkitkan) makhluk walau sudah jadi tulang belulang yang hancur luluh. Renungkan surat Yasin berikut.

2 comments

  1. @ assalamu’alaikum ustad abduh….
    mohon pencerahan berikut dalilnya yg shohih yg slama ini mgk sering terdengar bg kami yg awam…jihad berpahala terbesar dan amalan tertinggi itu memerangi orang kafir atau hawa nafsu kita sndiri? jazakallah
    …ijin tad…u copy / nyimpan / share artikel2 rumaysho.com… suwun geh….assaalamu’alaikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *