Home / Tafsir Al Qur'an / Renungan #22, Lima Dampak Mendiamkan Kemungkaran

Renungan #22, Lima Dampak Mendiamkan Kemungkaran

Ada dampak jelek jika kita mampu mengingatkan suatu kemungkaran dan maksiat, namun kita diamkan.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ (77) لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79)

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 77-79)

Maksud ayat di atas adalah menceritakan tentang sikap ahli kitab yang berlebihan, beralih dari kebenaran kepada kebatilan. Mereka berlebihan dalam perkataan mereka tentang Al-Masih Isa bin Maryam. Mereka juga berlebihan dengan mengikuti orang sebelumnya yang sudah sesat.

Sifat ahli kitab lagi adalah mendiamkan kemungkaran padahal mampu untuk memperingatkannya.

Ada lima hal yang disebutkan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengenai dampak buruk mendiamkan kemungkaran padahal mampu mengingatkannya:

  1. Mendiamkan kemungkaran akan dinilai sama seperti orang yang melakukan maksiat walau tidak melakukannya secara langsung karena sebagaimana wajib menjauhi maksiat, maka wajib juga mengingkari orang yang melakukan maksiat.
  2. Mendiamkan kemungkaran menunjukkan menganggap remeh kemungkaran dan menganggap remeh perintah Allah.
  3. Kalau maksiat didiamkan, maka perbuatan tersebut akan semakin merebak.
  4. Jika orang berilmu dan paham agama mendiamkan maksiat, perbuatan maksiat akan dianggap bukan maksiat, bahkan nantinya bisa dianggap sebagai perbuatan baik.
  5. Mendiamkan kemungkaran akan mengakibatkan kejelekan akan terus diikuti oleh yang lainnya dan akan terus seperti itu.

Semoga kita diberi taufik untuk terus berada di atas kebenaran, terus diberi kemudahan mendalami ilmu diin, juga dimudahkan untuk saling menasihati dalam kebaikan dan tidak mendiamkan kemungkaran.

 

Referensi:

Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Disusun @ DS, Panggang, GK, Sabtu siang, 22 Ramadhan 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Faedah Surat Yasin: Penerima dan Penolak Kebenaran

Ada orang yang mau menerima kebenaran, ada pula yang menolak kebenaran. Pelajarannya bagus sekali dikaji dalam surat Yasin ayat 05-11.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *