Home / Tafsir Al Qur'an / Renungan #20, Jangan Isrof

Renungan #20, Jangan Isrof

Waktu Isrof

Jangan bersikap isrof. Apa itu ISROF?

Allah Ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Berlebihan (isrof) di sini adalah menambah lebih dari kadar secukupnya.

Ada perbedaan antara isrof dan tabdzir. Perbedaan ini kami temukan di web islamweb, ada nukilan dari Ibnu ‘Abidin sebagai berikut,

الإسراف: صرف الشيء فيما ينبغي زائداً على ما ينبغي، والتبذير: صرف الشيء فيما لا ينبغي

“Israf adalah menyalurkan sesuatu yang layak melebihi dari kadar layaknya. Sedangkan tabdzir adalah menyalurkan sesuatu pada sesuatu yang tidak layak.”

Karenanya para ulama menjelaskan tabdzir sebagai berikut.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.”

Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).”

Qatadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 68).

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud boros ada dua pendapat di kalangan para ulama:

  • Boros berarti menginfakkan harta bukan pada jalan yang benar. Ini dapat kita lihat dalam perkataan para pakar tafsir yang telah disebutkan di atas.
  • Boros berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubazzir (orang yang boros) adalah orang yang menyalahgunakan, merusak dan menghambur-hamburkan harta.” (Zaad Al-Masiir, 5: 27-28)

 

 

Baca selengkapnya di sini :

Apa yang Dimaksud Boros?

 

Faedah dari ayat di atas:

1- Diperintah untuk memakai zinah (perhiasan) setiap kali shalat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan bahwa memakai zinah, lebih dari sekedar menutup aurat. Karena pundak saja mesti ditutup sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ

“Janganlah salah seorang di antara kalian shalat dengan satu pakaian hingga membuat pundaknya tidak ada kain satu pun yang menutupinya.” (HR. Muslim, no. 516 dan An-Nasa’i, no. 769). Pundak dalam hadits ini mesti ditutup, padahal pundak bukanlah aurat dengan sepakat ulama. Lihat Asy-Syarh Al-Mumthi’, 2: 150)

2- Ayat ini menunjukkan perintah untuk menutup aurat dalam shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah.

3- Menutup aurat termasuk zinah (berhias) pada badan. Sebaliknya, membuka aurat berarti membuat badan dalam keadaan jelek dan hina. Demikian kata Syaikh As-Sa’di.

4- Berhias dengan pakaian juga yang dimaksud adalah memakai pakaian yang bagus dan bersih dari kotoran serta najis.

5- Kita diperintahkan makan dan minum dari rezeki halal yang Allah berikan.

6- Diperintah untuk makan dan minum asal tidak bertindak isrof (berlebihan dari kadar yang mencukupi).

7- Kalau berlebihan saja tidak boleh apalagi makan dan minum yang sampai mencelakai badan.

8- Kalau berlebihan saja tidak boleh apalagi sampai memakan yang haram.

9- Allah membenci orang-orang yang israf.

10- Termasuk berlebih-lebihan adalah membuang-buang makanan.

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat israf dan tabdzir.

 

Referensi:

Asy-Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’. Cetakan pertama, tahun 1422 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Disusun @ DS, Panggang, GK, Senin siang, 17 Ramadhan 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Faedah Surat An-Nuur #07: Berakhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh

Inilah akhir kisah Aisyah dituduh selingkuh dan gali faedahnya.

4 comments

  1. assalamu’alaikum ustad abduh….ana ijin share dan atau simpan artikel antum / rumaysho.com geh,,,suwun. barokallahufikum

  2. Assalamualaikum wr wb
    Ust ana boleh menyimpan foto” tentang Rumaysho dan yg di post Rumaysho GK???untuk di share insya Allah

    Dan ust ada No TLP GK??? Maukonsultasi biar lebih mudah
    Syukron jazaakallah Khairan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *