Home / Tafsir Al Qur'an / Renungan #18, Pelajaran dari Masjid Dhirar dan Masjid Takwa

Renungan #18, Pelajaran dari Masjid Dhirar dan Masjid Takwa

Ada masjid yang dibangun di atas ketakwaan yaitu Masjid Quba di kota Madinah, dan ada masjid yang dibangun di atas kekafiran dan kemunafikan yang disebut Masjid Dhirar. Berikut pelajaran dari masjid tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (107) لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ (108) أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (109) لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلَّا أَنْ تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (110)

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).

Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.

Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 107-110)

 

Ada beberapa faedah dari ayat di atas:

1- Masjid yang dibangun dengan maksud dhirar yaitu untuk mengganggu orang-orang beriman yang berada di dekatnya, masjid tersebut adalah masjid yang terlarang. Masjid seperti itu mesti dihancurkan.

2- Masjid dibangun untuk tujuan mulia. Namun kalau niatnya untuk mengganggu mukmin lainnya, maka masjid tersebut jadi masjid yang terlarang. Jadi ada amalan mulia yang lantaran niat yang jelek, bisa menjadikan amalan tersebut menjadi jelek.

3- Segala tindakan yang memecah belah kaum muslimin, maka tindakan tersebut dinilai maksiat, yang di mana mesti dihilangkan dan ditinggalkan. Sedangkan tindakan untuk menyatukan kaum muslimin, maka adalah suatu kebaikan yang mesti dijaga dan diikuti. Karena dalam ayat ini adanya masjid dhirar itu dilarang karena mengajak pada kekafiran dan memusuh Allah serta Rasul-Nya.

4- Terlarang shalat di tempat yang terdapat maksiat, kita diperintahkan menjauhi tempat semacam itu dan terlarang mendekatinya.

5- Maksiat bisa berpengaruh pada tempat sebagaimana kemaksiatan dari kaum munafikin berpengaruh pada masjid dhirar dan terlarang mendirikan shalat di dalamnya. Sebaliknya, ketaatan juga dapat berpengaruh pada tempat sebagaimana contohnya pada Masjid Quba’, sampai-sampai disebutkan dalam ayat, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya.” Karenanya Masjid Quba’ punya keutamaan dari masjid lainnya, sampai-sampai setiap hari Sabtu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya, bahkan memotivasi kita untuk shalat di masjid tersebut.

6- Ada empat kaedah penting dari ayat di atas:

  • Setiap amalan yang memudaratkan kaum muslimin,
  • Setiap amalan yang terdapat maksiat di dalamnya dan ingatlah maksiat itu cabang dari kekufuran,
  • Setiap amalan yang memecah belah kaum muslimin,
  • Setiap amalan yang menolong musuh Allah dan Rasul-Nya,

Semua hal tadi itu dilarang. Melakukan sebaliknya itu sangat-sangat diperintahkan.

7- Maksiat akan membuat pelakunya semakin jauh dari Allah. Sama halnya dengan orang yang terus menerus bermaksiat, akan membuatnya semakin jauh dari Allah sampai ia bertaubat.

8- Kalau masjid Quba’ itu dibangun di atas ketakwaan, maka Masjid Nabawi selaku masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau dirikan dengan penuh keberkahan lebih pantas dipilih lagi untuk mengerjakan shalat dan ibadah di dalamnya.

9- “Orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik”, maksudnya itulah amalan yang dibangun di atas keikhlasan dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-). Sedangkan ayat “orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam”, itulah amalan yang dibangun bukan berdasarkan keikhlasan dan bukan di atas petunjuk Rasul ­-shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Semoga menjadi pelajaran yang bermanfaat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita.

 

Referensi:

Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Disusun @ DS, Panggang, GK, Malam Sabtu, 16 Ramadhan 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Renungan #24, Belajar Agama ataukah Pergi Jihad?

Belajar agama ataukah pergi jihad?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *