Beranda Belajar Islam Jalan Kebenaran Mengenal Bid’ah (8), Kan Banyak Kyai Yang Turut Rayakan Maulid?

Mengenal Bid’ah (8), Kan Banyak Kyai Yang Turut Rayakan Maulid?

553
9

Ada juga yang berargumen ketika ritual bid’ah –seperti Maulid Nabi- yang ia lakukan dibantah sembari mengatakan, “Perayaan (atau ritual) ini kan juga dilakukan oleh seluruh umat Islam Indonesia bahkan oleh para Kyai dan Ustadz. Kok hal ini dilarang?!

Alasan ini justru adalah alasan orang yang tidak pandai berdalil. Suatu hukum dalam agama ini seharusnya dibangun berdasarkan Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin). Adapun adat (tradisi) di sebagian negeri, perkataan sebagian Kyai/Ustadz atau ahlu ibadah, maka ini tidak bisa menjadi dalil untuk menyanggah perkataan Allah dan Rasul-Nya.

Barangsiapa meyakini bahwa adat (tradisi) yang menyelisihi sunnah ini telah disepakati karena umat telah menyetujuinya dan tidak mengingkarinya, maka keyakinan semacam ini jelas salah dan keliru. Ingatlah, akan selalu ada dalam umat ini di setiap waktu yang melarang berbagai bentuk perkara bid’ah yang menyelisihi sunnah seperti perayaan maulid ataupun tahlilan. Lalu bagaimana mungkin kesepakatan sebagian negeri muslim dikatakan sebagai ijma’ (kesepakatan umat Islam), apalagi dengan amalan sebagian kelompok?

Ketahuilah saudaraku semoga Allah selalu memberi taufik padamu, mayoritas ulama tidak mau menggunakan amalan penduduk Madinah (di masa Imam Malik) –tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah- sebagai dalil dalam beragama. Mereka menganggap bahwa amalan penduduk Madinah bukanlah sandaran hukum dalam beragama tetapi yang menjadi sandaran hukum adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu bagaimana mungkin kita berdalil dengan kebiasaan sebagian negeri muslim yang tidak memiliki keutamaan sama sekali dibanding dengan kota Nabawi Madinah?! (Disarikan dari Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, 2/89 dan Al Bid’ah wa Atsaruha Asy Syai’ fil Ummah, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, 49-50, Darul Hijroh)

Perlu diperhatikan pula, tersebarnya suatu perkara atau banyaknya pengikut bukan dasar bahwa perkara yang dilakukan adalah benar. Bahkan apabila kita mengikuti kebanyakan manusia maka mereka akan menyesatkan kita dari jalan Allah dan ini berarti kebenaran itu bukanlah diukur dari banyaknya orang yang melakukannya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am [6] : 116)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi kita taufik untuk mengikuti kebenaran bukan mengikuti kebanyakan orang.

Nantikan syubhat bid’ah lainnya. Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh https://rumaysho.com

Selesai disusun di Desa Pangukan, Sleman

Saat Allah memberi nikmat hujan di siang hari, Kamis, 9 Syawal 1429 (bertepatan dengan 9 Oktober 2008)

9 KOMENTAR

  1. Kebanyakan orang berdalih :
    1. Yang penting antara manfaat dan mudharatnya masih besar manfaatnya..Masyaallah bagaimana mereka              berdalih spt itu..padahal mereka tahu bahwa tidak ada dlm As Sunnah;
    2. Mereka melakukan itu agar tetap berada dlm komunitasnya..

  2. senada dengan saudara Arief Fezrial, kalo tujuannya untuk meneladani Rasulullah, mengulas kembali perjuangan Rasul dan lain sebagainya, apakah itu juga tidak boleh? saya rasa inikan hal baik yang InsyaAllah dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allh SWT. terima kasih.

    • Assalamu`alaykum akhi…

      Sudahkah kita benar-benar meneladani dan mencintai Rasulullah?
      Jika jawabannya “ya”, maka sudahkah kita mengambil dan mengamalkan SEMUA sunnahnya dari bangun tidur hingga tidur lagi, dalam setiap keadaan dan waktu?
      Jika jawabannya “belum”, maka lakukan sunah-sunnah RasuluLLAH yang ada yang belum kita kerjakan. Tunda…tunda… dulu…, jangan memulai dengan sunnah-sunnah yang bukan sunnahnya RasuluLLAH.
      Jika kita merasa sudah melaksanakan SEMUA sunnah-sunnahnya, maka bertanyalah pada alim ulama apakah cara kita dalam mengamalkan sunnah2 tsb sdh benar dan apakah tidak ada lagi satu sunnah pun yang tertinggal?
      Hisab dulu amal yang sudah kita kerjakan, periksa niat di awal di pertengahan dan ketika amal tsb sdh dilaksanakan. Jujur pada diri, apakah ada niat2 lain yang menyertainya?
      Jika “sdh benar dan ya” jawabannya, maka istiqomahlah, tetap lakukanlah amalan tsb hingga ALLAH SWT meridhoi kita, sehingga ALLAH SWT pun menunjukkan jalan-jalan-NYA pada kita…

  3. Assalamualaikum,
    Ustadz perayaan maulid yg mana sih yg bid’ah,sy jd bingung,ditempat sy acara maulidnya cuma berisi tausyiah tentang islam & perjalanan hidup Rasulullah shallallahu alaihi Wasalam apakah itu Bid’ah jg,lalu tahlillannya jg cuma kata2 nasehat oleh pd ahli musibah dihari 3,apakah ini bid’ah jg,klu ditanya knp dihari ke 3,jwbnya krn pd hari itulah umumnya keluarga ahli bait dpt lbh tenang & berpikir jernih,sekaligus biasanya kami mendata harta dan hutang atau piutang almrhum,sekaligus menentukan (bukan pembagian) harta warisannya kpd ahli warisnya,apakah hal ini termsk bid’ah.Mohon penjelasannya.

    • Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh

      Sisi bid’ahnya adalah karena ini dianggap sebagai bentuk cinta nabi. Coba lihat artikel berikut >> https://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2924-bukti-cinta-nabi-yang-benar-dan-keliru.html.

      Jk tahlilan diisi nasehat juga termasuk dalam kategori bidah karena ada pelanggaran lainnya yaitu ma’tam (berkumpul2 di rumah si mayit untuk menambah kesedihan), coba baca artikel berikut >> https://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2717-berkumpul-di-rumah-si-mayit-untuk-makan-makan-dan-membaca-al-quran.html.

      Sekarang apakah mesti hari ke3 untuk mikir utang dan hak waris. Ini kan penetapan yang tanpa dasar.

      Semoga Allah senantiasa beri taufik.

    • Alhamdulillah,terimakasih atas penjelasan ustadz,walaupun apa yg ustadz sampaikan msh debatible atau msh sgt bisa diperdebatkan tp itu ga penting,sunah Rasullullah Shallallahu alaihi wa salam harus kita tegakkan,smoga kita semua diberikan pemahaman yg lebih lagi terhadap agama ini hingga kita menjadi umat yg selamat,dan ustadz tdk bosan sama saya.Syukron

    • Assalamu’alaikum akhi Arief,

      Mungkin saya bisa bantu dengan penjelasan yg sederhana ini. Tausyiahnya itu tidak masalah, begitu pula dengan belajar sirah nabawiyah, kesemuanya itu ada dasarnya. Namun, tausyiah dan belajar sirah bisa menjadi masalah jika DIKHUSUSKAN pada perayaan maulid. Lagipula ya akhi, perayaan maulid itu sendiri tidak berdasarkan pada dalil2 yg shahih. Kalo kita mau menengok sejarah para salafus sholeh, tidak ada satupun para sahabat yg merayakan maulid padahal merekalah para manusia yg paling mencintai Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan paling dekat masanya, begitu pula dengan para tabi’in, lalu 4 imam madzhab tidak satupun yg mensyari’atkan perayaan maulid.

      Jadi, kesimpulannya ya akhi, tausyiah, mengenang sirah nabawiyah, tahlilan itu bukanlah bid’ah. Namun bisa menjadi bid’ah jika ada pengkhususan hari, cara, waktu maupun tempat karena jika diinginkan ada pengkhususan berarti butuh dalil. Dan ingatlah, agama kita ini dibangun diatas dalil, bukan dibangun atas dasar istihsan (anggapan baik). Demikianlah, semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk pada kita semua.

      Wassalamu’alaikum.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini