Teladan

Faedah Sirah Nabi: Perang Ahzab (Perang Khandaq) dan Pelajaran di Dalamnya

Perang Ahzab terjadi pada Syawal tahun 5 Hijriyah. Tempat terjadinya perang Ahzab itu di Madinah. Yang membawa bendera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Zaid bin Haritsah dan Sa’ad bin ‘Ubadah. Sedangkan pemimpin pasukan musuh adalah Abu Sufyan bin Harb. Jumlah pasukan kaum muslimin 3.000, melawan 10.000 pasukan musuh. Surah yang membicarakan perang Ahzab adalah ayat-ayat dalam surah Al-Ahzab.

 

Perang Ahzab disebut pula dengan perang Khandaq. Hal ini dikarenakan umat Islam menggali parit pada perang tersebut. Khandaq berarti parit, khandaqa berarti menggali parit.

Ini adalah perang ketika Allah menguji hamba-hamba-Nya yang beriman dengan memasukkan iman ke dalam dada para wali-Nya yang bertakwa serta menampakkan apa yang selama ini disembunyikan oleh orang-orang munafik dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan pertolongan-Nya guna membela mereka, memporak-porandakan pasukan musuh dengan kekuatan-Nya, memuliakan para tentara-Nya, menjadikan orang-orang kafir kembali dengan kekecewaan, melindungi kaum mukminin dari kejahatan mereka, mengharamkan mereka untuk tidak lagi dapat memerangi umat Islam, mereka kalah dan Allah menjadikan golongan-Nya meraih kemenangan yang gemilang.

Ibnu Ishaq berkata, “Perang Khandaq ini terjadi pada bulan Syawal tahun kelima Hijriyah. Latar belakang peperangan ini adalah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir Bani Nadhir hingga mereka pergi ke perkampungan Khaibar yang mayoritasnya penduduk Yahudi yang memiliki keterampilan dalam perang. Oleh karena itu, berangkatlah Huyai bin Akhthab, Kinanah bin Abdul Haqiq, Haudzah bin Qais Al-Waili, dan Abu Amir Al-Fasiq (yang terkenal dengan kefasikannya) serta yang lainnya menuju Makkah.

Mereka mengajak Quraisy dan pendukung-pendukungnya untuk memerangi Muhammad. Mereka membentuk pasukan koalisi. Mereka berkata kepada orang-orang Quraisy, “Kami akan bersama kalian hingga kita dapat mengalahkan Muhammad. Kami datang untuk bekerja sama dengan kalian untuk menjadikannya musuh bersama dan memeranginya.” Kemudian orang Quraisy menyambutnya dengan semangat dan gembira.

Mereka juga mengajak suku Ghathafan dan Bani Sulaim untuk memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun menyambut ajakan tersebut serta berjanji akan bergabung bersama kaum Quraisy.

Kemudian keluarlah Abu Sufyan dengan pasukan Quraisy dan kabilah-kabilah lainnya. Sedangkan Bani Sulaim dipimpin langsung oleh Sufyan bin Abdu Syams, Ghathafan dipimpin oleh Uyyainah bin Hishn, Bani Murrah dipimpin oleh Harits bin ‘Auf, suku Asyja’ oleh Mas’ar bin Rukhailih. Pasukan gabungan tersebut dengan kekuatan 10.000 personil siap berangkat ke Madinah di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui informasi tentang pasukan gabungan ini, beliau mengajak para sahabat untuk bermusyawarah. Kemudian Salman Al-Farisi menyarankan untuk menggali parit. Sarannya itu membuat mereka takjub dan mereka memilih untuk menetap di dalam kota Madinah.

 

Penggalian Parit

Kemudian penggalian parit pun dilakukan yang melibatkan seluruh kaum muslimin. Mereka menggalinya dengan cepat karena berlomba-lomba dengan kedatangan musuh. Mereka meminjam berbagai alat yang dibutuhkan kepada Bani Quraizhah.

Asy-Syami berkata, “Imam Thabrani meriwayatkan dengan sanad laa ba’sa (dapat diterima) dari ‘Amr bin Al-Muzni, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis parit yang harus digali dari Ajam Syaikhan ujung wilayah Bani Haritsah hingga Mazad. Selain itu, setiap 10 sahabat menggali 40 hasta.”

Al-Waqidi berkata, “Parit yang digali sangat panjang. Kaum Muhajirin dan Anshar memanggul batu-batu di atas kepala mereka. Mereka melakukannya terus menerus hingga selesai penggalian parit tersebut. Tidak satu pun dari kaum muslimin yang tidak terlibat dalam proyek penggalian parit ini. Sementara itu, Abu Bakar dan Umar memindahkan tanah dengan bajunya karena tidak ada wadah yang dapat digunakan lagi. Keduanya selalu berdampingan dalam bekerja.

Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menggali parit. Sebagian dari mereka menggali, sedangkan kami memindahkan tanah galian dengan memanggulnya di atas pundak-pundak kami. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ لا عَيْشَ إلَّا عَيْشُ الآخِرَةِ، فَاغْفِرْ لِلْمُهَاجِرِينَ والأنْصَارِ.

“Ya Allah, tidak ada kehidupan, kecuali kehidupan akhirat, ampunilah kaum Muhajirin dan Anshar.” (HR. Bukhari, no. 4098)*

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ketika sedang menggali parit, kami terhalang oleh sebuah batu besar. Kemudian mereka pun mendatangi Nabi dan berkata, “Kami mendapatkan sebuah batu besar di dalam parit.” Beliau berkata, “Saya akan melihatnya.”

 

Berkah dari Nabi Membuat Makanan Menjadi Banyak

Lalu beliau berdiri sementara perutnya diganjal dengan sebuah batu. Sebab sudah tiga hari kami tidak mendapat makanan yang cukup. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sebuah palu besar lalu memukulkannya ke atas batu besar tersebut dan batu itu pun hancur berkeping-keping. Aku berkata kepadanya, “Ya Rasulullah, izinkan aku untuk pulang ke rumah.” Kemudian aku pun berkata kepada istriku, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu sabar dalam menahan lapar, apakah kamu memiliki sesuatu?” Istriku berkata, “Ya, sedikit gandum dan seekor anak kambing.” Kemudian aku menyembelih anak kambing tersebut dan menumbuk gandum lalu membakarnya.

Kemudian aku datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara adonan pun sudah mulai merekah dan daging pun hampir matang. Aku berkata, “Aku memiliki sedikit makanan, datanglah engkau ya Rasulullah bersama satu atau dua orang lainnya.” Beliau bertanya, “Berapa banyak makanan itu?” Lalu aku pun menyebutkannya. Beliau berkata, “Sungguh banyak lagi baik. Katakan kepada istrimu untuk tidak mengangkat panggangan daging dan roti dari tempat memasak hingga aku datang.” Lalu beliau berkata kepada orang-orang, “Berdirilah kalian semua!” Maka orang-orang Anshar dan Muhajirin pun bangkit. Setelah sampai di rumahnya, ia pun masuk menemui istrinya dan berkata, “Celaka! Rasulullah mengajak semua orang Anshar dan Muhajirin.” Istriku bertanya, “Apakah beliau bertanya kepadamu?” Aku menjawab, “Ya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Masuklah kalian dan jangan berdesak-desakan.” Lalu beliau memotong roti dan menaburkan daging di atasnya dan memberikannya kepada para sahabatnya. Beliau terus memotong roti dan menyiramkannya hingga semua kenyang, sementara makanan masih tersisa banyak. Beliau berkata, “Makanlah kamu dan hadiahkan kepada orang-orang karena mereka juga lapar.” (HR. Bukhari). Dalam riwayat Bukhari yang lain disebutkan bahwa jumlah mereka yang ikut makan sebanyak seribu orang.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Ada riwayat dengan sanad yang bagus dari Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, ‘Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menggali parit, kami mendapatkan batu besar sehingga menghalangi pekerjaan kami, sementara batu tersebut tidak dapat kami hancurkan dengan godam (martil besar). Lalu kami melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau pun datang dan mengambil godam seraya berkata, “Bismillah.” Lalu beliau memukulkan dengan sekali pukulan hingga hancur sepertiganya dan beliau berkata, “Allahu Akbar! Aku diberi kemenangan atas kerajaan Syam. Demi Allah, sungguh aku melihat istana-istana merahnya saat ini.” Lalu beliau memukulkan untuk yang kedua kalinya, maka hancurlah sepertiganya lagi, seraya berkata, “Allahu Akbar!” Aku diberi kemenangan atas kerajaan Persia. Demi Allah sungguh aku melihat istana-istana putihnya.” Kemudian beliau memukulkannya kembali untuk yang ketiga kalinya seraya berkata, “Bismillah.” Maka hancurlah sisa batu tersebut. “Allahu Akbar! Aku diberikan kemenangan atas kerajaan Yaman. Demi Allah! Sungguh aku melihat gerbang San’a dari tempatku ini saat ini.”

Barra radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika perang Ahzab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga ikut menggali parit. Aku melihat beliau memindahkan tanah galian hingga mengotori kulit perut beliau yang berbulu lebat. Aku mendengar beliau menyenandungkan syair Ibnu Rawahah sambil mengangkut tanah,

Demi Allah, 

Seandainya bukan karena-Mu,

Kami tidak akan mendapatkan petunjuk, 

tidak bersedekah, tidak pula shalat.

Maka, turunkanlah ketenangan kepada kami. 

Teguhkanlah kaki kami saat bertemu musuh.

Sungguh mereka telah berbuat aniaya kepada kami.

Bila mereka menginginkan fitnah, tentuk kami menolaknya. 

Kemudian memanjangkan senandungnya. (HR. Bukhari dalam Fath Al-Bari)

Ayat-ayat yang terdapat dalam surah Al-Ahzab menggambarkan perilaku orang-orang munafik dan cara mereka untuk menghindari dari proyek penggalian parit. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai melakukan penggalian, beliau menyerahkan Madinah kepada Ibnu Ummi Maktum sebagai wakil beliau dan menempatkan para wanita dan anak-anak pada sebuah benteng.

Beliau mengambil posisi di depan sebuah bukit besar, sedangkan parit berada di hadapannya. Sementara pasukan Quraisy berada di hadapannya, sedangkan Ghathafan dan penduduk Najed berada di samping Uhud. Huyai bin Akhthab, musuh Allah keluar untuk menemui Ka’ab bin Asad Al Qurzhi, pemimpin Bani Quraizhah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menitipkan kaumnya kepadanya dan melakukan perjanjian dengannya. Sehingga ketika dia mendengar kedatangan Huyai bin Akhthab segera mengunci pintunya rapat-rapat. Namun, Huyai tetap saja mendesaknya hingga akhirnya ia membukakan pintu untuknya dan melanggar perjanjiannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar informasi pengkhianatan Bani Quraizhah, beliau mengutus Sa’ad bin Mu’adz, Sa’ad bin ‘Ubadah, ‘Abdullah bin Rawahah, dan Khawat bin Jubair, seraya berkata, “Pergi dan lihatlah! Apakah benar berita yang sampai kepada kita tentang mereka atau tidak. Apabila benar berikan isyarat kepadaku dan jangan disebarkan ke orang-orang. Namun, apabila mereka tetap dalam perjanjiannya dengan kita, katakan kepada orang-orang.” Maka, mereka pun berangkat dan ternyata mereka mendapati bahwa mereka telah melanggar perjanjian. Mereka pun kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan tentang pengkhianatan Bani Quraizhah tersebut. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bergembiralah wahai kaum muslimin dengan kemenangan dari Allah dan bantuan-Nya.”

Ketakutan pun semakin menjadi-jadi, ujian semakin berat dan kekhawatiran terhadap para wanita dan anak-anak pun semakin meningkat. Kondisi mereka seperti yang Allah firmankan,

إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ ٱلْأَبْصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلْقُلُوبُ ٱلْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS. Al-Ahzab: 10)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin siap menyambut kedatangan musuh. Mereka tidak dapat meninggalkan posisinya dan terus menerus secara bergantian berjaga-jaga di seputar parit. Sementara kemunafikan orang-orang munafik semakin terlihat. Sebagian mereka berkata, “Dulu Muhammad pernah menjanjikan kepada kita akan menguasai kekaisaran Romawi. Namun, sekarang untuk buang hajat saja, orang tidak merasa aman.”

Kaum muslimin bergiliran menjaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara itu mereka juga merasakan kelaparan yang sangat, baik siang maupun malam. Demikian juga halnya dengan kaum musyrikin yang bergiliran melakukan patroli. Terkadang dipimpin oleh Abu Sufyan dan pasukannya, terkadang Khalid, kadang Ikrimah, dan seterusnya.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui pengkhiantan Bani Quraizhah, beliau mengirim delegasi untuk menemui Uyainah bin Hishn dan Al-Harits bin ‘Auf, pemimpin Ghathafan untuk melakukan kesepakatan damai dan beliau bersedia memberikan hasil panen kurma Madinah sebanyak sepertiga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memanggil Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah untuk meminta pendapatnya. Keduanya berkata, “Ya Rasulullah, kalau memang Allah memerintahkan kamu seperti itu, maka kamu mendengar dan taat. Namun, kalau ini hanya strategi kamu demi kemaslahatan kami, kami tidak membutuhkannya. Dahulu ketika kami dan mereka sama-sama musyrik dan penyembah berhala, mereka tidak dapat menikmati kurma kami, kecuali dengan bertamu atau membeli. ” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya membatalkan tawarannya tersebut.

Beliau mendoakan kebinasaan untuk pasukan gabungan seraya berdoa,

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اللَّهُمَّ اهْزِمْ الْأَحْزَابَ اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

“Ya Allah, yang menurunkan kitab, yang cepat dalam menghisab, hancurkanlah pasukan gabungan Ahzab! Ya Allah hancurkanlah dan luluh-lantakkanlah mereka!” (HR. Bukhari, no. 4115, Fath Al-Bari, 7:406)

Kaum musyrikin terus berupaya menembus barisan kaum muslimin dengan menghujankan anak panah tanpa henti-hentinya sepanjang pengepungannya sehingga membuat kaum muslimin sibuk sehari penuh dan melupakan shalat Ashar.** Mereka baru mengerjakannya setelah terbenam matahari. Namun, segala upaya kaum musyrikin untuk menembus parit mengalami kegagalan. Bahkan Ali dapat membunuh Amr bin Abdud, sementar yang lain melarikan diri. Begitu pula dengan Naufal Makhzhumi yang tewas terbunuh.

Sedangkan dari kaum muslimin sedikitnya yang menjadi syahid ada enam orang, di antaranya adalah Sa’ad bin Mu’adz. Adapun pengepungan pasukan koalisi terhadap umat Islam berlangsung selama 24 malam.

Sebagaimana yang Allah firmankan bahwa Allah akan menghindarkan kaum muslimin dari peperangan dengan dua cara, yaitu:

(1) upaya yang dilakukan oleh Nu’aim bin Mas’ud yang masuk Islam tanpa diketahui masyarakatnya. Ia akan mencerai beraikan dengan seizin Nabi antara Yahudi Bani Quraizhah dengan kaum musyrikin. Ia mengingatkan Bani Quraizhah untuk tidak memulai perang melawan Muhammad, kecuali kaum musyrikin mau memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan pergi meninggalkannya apabila terjadi sesuatu di luar harapan. Begitu pula dilakukannya kepada kafir Quraisy bahwa Bani Quraizhah menyesali pengkhianatan yang dilakukannya terhaap Nabi. Demikianlah Allah memporakporandakan kesatuan mereka dan menciptakan kecurigaan dan kehinaan di antara mereka.

(2) berupa badai kencang yang memporak-porandakan kemah-kemah, menerbangkan perlengkapan masak, dan memadamkan api yang mereka gunakan untuk penerangan. Sehingga mereka terpaksa mengumumkan untuk pulang meninggalkan medan perang dengan membawa kegagalan dan kekecewaan yang luar biasa. Ini adalah sebuah nikmat dan pertolongan dari Allah kepada orang-orang beriman.

Kemenangan ini bukanlah bersifat sementara. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan berita gembira kepada para sahabatnya bahwa kaum kafir tersebut tidak lagi dapat menyerbu umat Islam setelah peperangan ini. Kaum muslimlah yang akan menyerbu mereka. Dari Salman bin Shard, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika pasukan Ahzab dikalahkan, “Mulai saat ini, kitalah yang akan melakukan penyerbuan dan mereka tidak akan pernah menyerbut kita lagi.” (HR. Bukhari)

Kisahnya akan berlanjut pada penjelasan surah Al-Ahzab ayat 9-25.

 

 

*Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

لأنَّ عيش الدنيا زائلٌ، وعيش الآخرة هو الدَّائم، فهو العيش الحقيقي

“Karena kehidupan dunia hanyalah sementara, dan kehidupan akhirat kekal, maka itulah kehidupan yang hakiki.”

**Dalil baiknya mengerjakan qadha’ shalat secara berurutan (misalnya, qadha’ shalat Zhuhur kemudian Ashar) adalah hadits dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di mana disebutkan,

إِنَّ المُشْرِكِيْنَ شَغَلُوا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَرْبَعِ صَلَواتٍ يَوْمَ الخَنْدَقِ حَتَّى ذَهَبَ مِنَ اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللهُ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى العَصْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى المَغْرِبَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى العِشَاءَ

Sesungguhnya orang-orang musyrik telah menyibukkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari empat shalat pada perang Khandaq hingga lewat sebagian malam sesuai kehendak Allah. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan, lalu iqamah kemudian shalat Zhuhur dilaksanakan, lalu iqamah kemudian shalat Ashar dilaksanakan, lalu iqamah kemudian shalat Maghrib dilaksanakan, lalu iqamah kemudian shalat Isya dilaksanakan.” (HR. Tirmidzi, no. 178. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

 

Baca juga: Qadha Shalat yang Luput

 

Pelajaran Berharga dari Perang Ahzab atau Khandaq

 

Pertama: Perhatikan bahwa pasukan sekutu yang begitu menyeramkan yang sebelumnya disangka bahwa bangsa Arab tidak mungkin bersatu seperti itu. Yang bersekutu dalam perang Ahzab adalah:

  1. Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan, lalu ada berbagai kabilah Arab yang mengikutinya,
  2. Bani Sulaim di bawah pimpinan Sufyan bin ‘Abdi Syams,
  3. Ghathafan di bawah pimpinan ‘Uyainah bin Hishn,
  4. Bani Murrah di bawah pimpinan Harits bin ‘Auf,
  5. Asyja‘ di bawah pimpinan Mas’ar bin Rukhailih.

Sekutu besar ini bergabung dan berjalan menuju Madinah. Menurut pakar sirah, jumlah pasukan adalah 10.000 personil. Semua pasukan sekutu tersebut di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb. Pasukan tersebut mendatangi Madinah dengan persenjataan. Mereka sangat mendambakan untuk menumbangkan, lalu pulang dengan membawa harta rampasan perang dan tawanan, serta bisa menjadikan kekalahan Nabi Muhammad sebagai bahan ejekan, wal ‘iyadzu billah. Namun, Allah memberi pertolongan kepada kaum muslimin.

وَٱللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰٓ أَمْرِهِۦ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21)

Kedua: Kekufuran itu satu millah, satu agama. Kekufuran dengan berbagai macamnya pasti menjadi musuh Islam. Yang membuktikan hal ini, orang-orang Yahudi dari Khaibar menuju Makkah dan orang musyrikin Arab, mereka semua bersatu untuk memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga: Ketika mendapatkan berita mengenai pasukan Ahzab (sekutu), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bermusyawarah dengan para sahabatnya. Dalam menghadapi suatu problem, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat dikenal sering bermusyawarah dengan para sahabatnya. Musyawarah ini ditemukan ide-ide cemerlang yang tidak ditemukan dalam wahyu di antaranya adalah ada ide bagus mengenai strategi perang.

Dalam ayat disebutkan,

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.” (QS. Asy-Syuura: 38)

Keempat: Yang dihasilkan dari musyawarah ini adalah usulan-usulan yang cemerlang yang penuh berkah (bawa kebaikan). Usulan yang dihasilkan kala perang Ahzab ini adalah ide dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu untuk menggali parit (khandaq). Inilah ide yang cemerlang berkat taufik dari Allah untuk mencegah orang musyrik untuk memasuki kota Madinah. Orang-orang musyrik berkata mengenai parit ini, “Inilah intrik/ konspirasi yang belum dikenal oleh kalangan Arab.”

Dari sini, kita bisa ambil suatu pelajaran mengenai pentingnya usulan atau ide cemerlang sebagai bentuk mengabdi pada agama. Ide-ide cemerlang untuk membela Islam ini bisa saja muncul dari seorang mujahid, insinyur, dokter, atau yang memiliki keahlian apa pun.

Kelima: Ide cemerlang bisa saja diperoleh dari orang luar. Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu yang mengusulkan gagasan ini mengambilnya dari Persia, negeri asalnya. Gagasan dari orang luar bisa saja diterima selama tidak bertentangan dengan prinsip Islam.

Keenam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggali parit bersama para sahabatnya. Beliau ikut memindahkan tanah bersama mereka. Pelajaran pentingnya adalah untuk para dai dalam berdakwah, para ayah di rumah, para guru di sekolah, dan para imam di masjid kampung, hendaklah menjadi orang pertama yang menjadi pelopor dalam mengajak kebaikan, sekaligus terlibat dalam kebaikan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44). Memang untuk memulai dari diri sendiri adalah persoalan yang sangat berat. Meskipun berat, hal tersebut dapat memberikan pengaruh yang sangat besar, sekaligus menjadi teladan yang baik bagi masyarakat di lingkungannya.

Ketujuh: Dalam peperangan ini, pasukan sekutu telah berdatangan dari segala penjuru. Sementara kaum muslimin baru saja memulai penggalian parit agar Madinah tidak dapat ditembus musuh. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun langsung untuk memecahkan batu besar yang menghalangi proses penggalian parit. Dengan tangan beliau yang mulia, beliau ayunkan sebuah godam dan berkata kepada para sahabatnya padahal musuh semakin dekat dan siap untuk mengepung Madinah, “Allahu Akbar! Aku diberikan kemenangan atas kerajaan Syam! Demi Allah aku melihat istana-istana merahnya saat ini! dan seterusnya.”

Hal seperti ini berguna untuk memantapkan hati para sahabat yang diliputi oleh rasa takut. Yaitu menjanjikan kepada kaum muslimin dengan berbagai janji dari Rasulullah, manusia yang jujur. Memang beliau adalah Rasulullah, tetapi mengapa ia menjanjikan sesuatu yang disampaikan di kala itu? Mengapa janji itu disampaikan pada saat-saat yang mencekam? Padahal beliau tengah menanti pasukan sekutu yang datang ingin menghancurkan Madinah! Janji beliau adalah sebagai bentuk arahan kepada umat ini agar lebih fokus, memperteguh hati, dan menentramkannya, serta menghilangkan segala kekhawatiran dan rasa takut pada situasi yang kritis.

Manusia saat menghadapi ujian berat sangat membutuhkan orang yang dapat meneguhkan hatinya, bukan menakut-nakutinya. Umat ini sangat membutuhkan orang-orang yang dapat membangkitkan semangat dan motivasi, bukan orang-orang yang sebaliknya, membutuhkan orang-orang yang dapat meneguhkan keimanannya, mengokohkan keyakinannya, dan memantapkan akidahnya, serta menggiringnya ke dalam pangkuan agama Allah.

Kedelapan: Pada situasi yang berat biasanya akan terlihat sosok-sosok manusia munafik. Penggalian parit adalah pekerjaan yang berat ditambah kondisi tubuh yang lapar, musuh yang semakin dekat, dan rasa khawatir terhadap keselamatan anak dan istri. Hanya orang-orang yang benar (dalam keimanan), yang dapat menghadapi situasi seperti ini. Sedangkan selain mereka, maka mereka akan mengendap-endap menyelinap ke rumah menemui keluarganya dan meninggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini, Allah berfirman,

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63)

Baca juga: Adab Terhadap Rasulullah, Tafsir An-Nuur ayat 48

Kesembilan: Seburuk-buruknya teman adalah teman yang jahat. Sesungguhnya Ka’ab bin Asad, pemimpin Bani Quraizhah, posisinya sudah aman karena terikat perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ketika datang teman yang buruk dan membawa sial yaitu Huyai bin Akhthab yang terus membujuk dan merayu agar mau membatalkan dan mengkhianati perjanjiannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal inilah yang menyebabkan kehinaan bagi kaumnya yang akan dijelaskan pada peperangan Bani Quraizhah.

Demikianlah watak teman dan kawan yang jahat, yang akan membawa kerugian dan tidak pernah membawa kebaikan. Dalam hadits dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Perumpamaan seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Baca juga: Manfaat Teman yang Baik

 

 

Bersambung Insya-Allah …

 

Referensi:

  • Fiqh As-Sirah. Cetakan kesepuluh, Tahun 1437 H. Prof. Dr. Zaid bin ‘Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.
  • Al-Athlas At-Tarikhi li Sirah Ar-Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cetakan ketujuh, Tahun 1433 H. Sami bin ‘Abdillah bin Ahmad Al-Malghuts. Penerbit Obekan.
  • https://binbaz.org.sa/audios/2486/163-من-حديث-اللهم-لا-عيش-الا-عيش-الاخرة

 

 

Ditulis sejak 3 Jumadal Akhirah 1445 H, 15 Desember 2023 M @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul, direvisi pada 13 Syakban 1445 H, 23 Februari 2024 M

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button