Shalat

Bulughul Maram – Shalat: Doa Berlindung dari Empat Hal, Disunnahkan Dibaca Saat Tasyahud Akhir

Kali ini mengenai doa berlindung dari empat hal yang penting dibaca bakda bacaan tasyahud. Yuk kita kaji lagi dari Bulughul Maram.

 

Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani

Kitab Shalat

بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ

Bab Sifat Shalat

 

Berdoa Meminta Perlindungan pada Empat Hal Bakda Tasyahud

Hadits #318

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ومِنْ عَذَابِ القَبْرِ ومِنْ فِتْنَةِ المَحْيا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَالِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: (إِذَا فَرغَ أَحَدُكُم مِنَ التَّشَهُّدِ الأَخِيرِ).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal dengan mengucapkan: ‘ALLOHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM WA MIN ‘ADZAABIL QOBRI WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAAL (artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, siksa kubur, cobaan hidup dan mati, dan dari fitnah Dajjal).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Muslim, no. 588]

Dalam riwayat Muslim, “Jika salah seorang dari kalian selesai dari tasyahud akhir.”

 

Faedah hadits

  1. Doa berlindung dari empat hal dibaca saat tasyahud. Yang dimaksud dengan tasyahud di sini adalah tasyahud akhir. Sedangkan tasyahud awal sifatnya itu takhfiif (lebih ringan).
  2. Jahannam adalah di antara nama neraka yang menunjukkan makna api yang besar yang jauh dan dalam. Meminta perlindungan dari neraka Jahannam, maksudnya adalah: (1) meminta perlindungan dari sebab yang mengantarkan kepada siksa Jahannam agar dijauhkan dari kekafiran dan maksiat; (2) meminta perlindungan dari siksa dan hukuman di neraka.
  3. Asalnya kubur itu bermakna tempat dimakamkannya jenazah. Namun, kubur yang dimaksud di sini adalah makna umum yaitu suatu alam antara kematian dan hari kiamat, walaupun jenazah tidak dikuburkan, seperti orang yang terbakar yang akhirnya menjadi arang dan yang dimakan binatang buas yang tidak dikubur.
  4. Siksa kubur adalah sika yang dialami di kubur pada ruh dan badan sekaligus. Ruh bisa jadi bersatu dengan badan, bisa pula terpisah.
  5. Fitnah hidup dan mati, maksud fitnah adalah cobaan atau ujian.
  6. Fitnah hidup artinya cobaan yang dialami manusia ketika hidup berupa syubhat (yang mengaburkan antara kebenaran dan kebatilan) dan syahwat (yang menjadikan cinta dunia secara berlebihan) sehingga seseorang menjadi menyimpang dan sesat.
  7. Fitnah mati terdapat dua makna yaitu: (1) cobaan saat sakratul maut (menjelang meninggal dunia); (2) ujian pada mayit setelah kematian di mana ia ditanya di kubur dengan tiga pertanyaan mengenai siapa Rabbb, apa agama, dan siapa nabinya. Yang kedua inilah yang menjadi patokan seseorang mendapatkan nikmat ataukah siksa ketika berhasil menjawabnya ataukah tidak.
  8. Fitnah Al-Masih Ad-Dajjal adalah fitnah terbesar di muka bumi di mana orang-orang jadi tersesat karena Dajjal. Dajjal ini termasuk fitnah hidup. Al-Masiih Ad-Dajjal adalah lelaki buta sebelah, keluar pada akhir zaman, ia mengakui dirinya sebagai tuhan. Di antara dua matanya tertulis huruf KAF, FAA’, ROO, dibaca KAAFIR. Yang bisa membaca tulisan tersebut adalah seorang mukmin walaupun ia bukan seorang qaari’ (yang bisa membaca). Dajjal disebut Al-Masiih karena matanya itu diusap atau karena Dajjal akan mengusap muka bumi dengan mengelilinginya. Arti Dajjal adalah banyak berdusta. Dajjal akan keluar dari daerah timur dan keluarnya Dajjal merupakan tanda kiamat besar.
  9. Disunnahkan untuk berdoa meminta perlindungan dari empat hal ini pada tasyahud akhir dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah. Jumhur ulama menghukumi membacanya adalah sunnah. Bacaan doa ini tidak dibaca pada tasyahud awal karena tasyahud tersebut biasanya takhfif (diperingan).

Baca Juga:

Referensi

Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:169-172.

Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:514-515.

Malam Kamis, 6 Syakban 1443 H, 9 Maret 2022

@ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button