Shalat

Bulughul Maram – Shalat: Cara Membaca Shalawat Bakda Tasyahud

Bagaimana shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tasyahud? Berikut keterangannya di kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar.

 

 

Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani

Kitab Shalat

بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ

Bab Sifat Shalat

 

Cara Bershalawat kepada Nabi ketika Tasyahud

Hadits #317

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ: يَا رَسُولَ اللهِ! أَمَرَنَا اللهُ أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ فَسَكَتَ، ثمَّ قَالَ: «قُولُوا: اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلّيْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَالسَّلاَمُ كَمَا عَلِمْتُمْ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

وَزَادَ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِيهِ: فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ، إذَا نَحُنُ صَلَّيْنَا عَلَيْكَ فِي صَلاَتِنَا؟

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Basyir bin Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, Allah memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepadamu, bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu?” Beliau diam kemudian bersabda, “Ucapkanlah:

ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD, WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA BAAROKTA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, FIL ‘AALAAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIID.

(Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas keluarga Ibrahim. Berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim. Di seluruh alam ini, Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung).

Kemudian ucapan salam (keselamatan) sebagaimana yang telah kalian ketahui (atau yang telah aku ajarkan kepada kalian).” (Diriwayatkan oleh Muslim) [HR. Muslim, no. 405]

Dalam hadits tersebut Ibnu Khuzaimah menambahkan, “Bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu jika kami bershalawat kepadamu di dalam shalat?” [HR. Ibnu Khuzaimah, no. 711; Abu Daud, no. 981; An-Nasai, 9:26; Ahmad, 28:304; Ibnu Hibban, no. 1959; Ad-Daruquthni, 1:354; Al-Hakim, 1:268; Al-Baihaqi, 2:146 dengan sand ini. Di antara mereka menyebutkan tambahan ini, sebagian yang lain tidak menyebutnya. Ad-Daruquthni berkata, “Sanad hadits ini muttashil, bersambung.” Namun, tambahan ini dikritik oleh Ibnul Qayyim dengan menyatakan bahwa Ibnu Ishaq itu bersendirian. Al-Hafizh Ibnu Hajar hanya memaksudkan tambahan ini mengenai bagaimanakah cara bershalawat ketika tasyahud di dalam shalat. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3:162-163].

 

Faedah hadits

  1. Maksud shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pujian kepada beliau dengan sanjungan yang indah pada sisi penduduk langit yang tinggi.
  2. Yang dimaksud keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang mengikuti beliau dalam hal agama. Namun, yang masuk pertama kali dalam keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pengikut dari keluarga dekat beliau. Karena keluarga dekat yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sisi keutamaan sebagai pengikut dan sebagai keluarga dekat.
  3. KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIM, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas keluarga Ibrahim, huruf KAAF di depan bermakna tasybih, berarti menyerupai. Disebut Nabi Ibrahim adalah karena beliau itu keluarganya dan Nabi Ibrahim adalah asal silsilah keturunan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tetaplah Nabi Muhammad dan keluarganya lebih utama dari Nabi Ibrahim dan keluarganya. Huruf KAAF juga bisa bermakna ta’lil (alasan), dan MAA adalah mashdariyyah. Sehingga kalimat ini bermakna, “Sebagaimana Engkau telah memberikan nikmat berupa shalawat kepada keluarga Ibrahim, berilah shalawat pula kepada Muhammad dan keluarganya.” Maka di situ menyebutkan dahulu nikmat sebelumnya kepada Nabi Ibrahim sebagai tawassul (perantara) lalu menyebut shalawat kepada Nabi Muhammad.
  4. WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD, berkahilah Muhammad dan keluarganya, ini adalah doa. Doa ini meminta diturunkannya berkah kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarganya.
  5. FIIL ‘AALAMIINA, kata ‘aalamiina berasal dari kata tunggal ‘aalam yaitu segala sesuatu selain Allah. Maknanya adalah tampakkanlah shalawat dan keberkahan kepada Muhammad dan keluarganya di alam semesta sebagaimana ditampakkan shalawat dan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarganya di alam semesta.
  6. INNAKA HAMIIDUN MAJIID, Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung. HAMIID bisa bermaksa faa’il (Yang Memuji hamba dan wali Allah yang menjalankan perintah-Nya) atau maf’uul (Yang Terpuji di mana Allah itu Maha Terpuji karena sifatnya yang sempurna). Adapun MAJIID, maksudnya adalah bermakna fa’iil, Mahaagung dan Maha Memiliki Kekuasaan. Nama Allah Al-Hamiid dan Al-Majiid dijadikan sebagai penutup doa shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maksudnya adalah karena Allah itu telah memuliakan Nabi Muhammad, memujinya, dan dekat dengan-Nya. Yang membuat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin agung dan mulia adalah Allah Yang Maha Terpuji dan Mahaagung.
  7. Ucapan salam sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu pada ucapan dalam tasyahud “ASSALAAMU ’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAAHI WA BAROKAATUH”.
  8. Hadits ini mengajarkan bagaimana bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tahiyat dalam shalat. Lafaz shalawat itu beragam sehingga bisa memilih dengan lafaz ini dan berganti dengan lafaz yang lain. Namun, jika membatasi hanya pada satu lafaz shalawat saja, hal itu dibolehkan. Hendaknya membatasi shalawat terbatas pada yang memiliki dalil tanpa menambah atau mengurangi.
  9. Shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tasyahud akhir dihukumi wajib, termasuk rukun shalat dan inilah pendapat ulama Syafiiyah.
  10. Pada tasyahud awal, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap disyariatkan, yaitu dihukumi sunnah (sunnah ab’adh). Pendapat sunnah inilah pendapat jadiid (terakhir) dari Imam Syafii.
  11. Shalawat kepada keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk sunnah, tepatnya sunnah ab’adh saat tasyahud akhir.
  12. Shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah setelah bacaan tasyahud, sebelum berdoa.

 

Referensi

Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:162-168.

Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:512-513.

Baca Juga:

Rabu sore, 5 Syakban 1443 H, 9 Maret 2022

@ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button