Shalat

Bulughul Maram – Shalat: Bacaan Tasyahud dari Ibnu Masud dan Kandungannya

Berikut kita bahas bacaan tasyahud dari Ibnu Mas’ud dan kandungannya dari bahasan lanjutan Bulughul Maram.

 

Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani

Kitab Shalat

بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ

Bab Sifat Shalat

 

Bacaan Tasyahud

Hadits #314

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: الْتَفَتَ إلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ: التَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ الله الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعجَبَهُ إليْهِ، فَيَدْعُو». مُتَّفَقٌ عَلَيْه، وَاللّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling (menghadap) kepada kami kemudian bersabda, ‘Apabila seseorang di antara kalian shalat, hendaknya ia membaca:

AT-TAHIYYAATU LILLAAH, WASH SHOLAWAATU WATH THOYYIBAAT. ASSALAAMU ’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA ROHMATULLAAHI WA BAROKAATUH. AS-SALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH SHOOLIHIIN. ASYHADU AL-LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSUULUH (artinya: Segala ucapan selamat, semua shalat, dan kebaikan adalah milik Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).

Kemudian hendaknya ia memilih doa yang ia sukai lalu berdoa dengan doa itu.” (Muttafaqun ‘alaih. Lafaznya menurut Imam Bukhari) [HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402]

وَلِلنَّسَائيِّ: كُنَا نَقُولُ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ عَلَيْنَا التَّشَهُّدُ.

Menurut riwayat An-Nasai, “Kami telah membaca doa itu sebelum tasyahud diwajibkan atas kami.” [HR. An-Nasai dalam Al-Kubra, 1:378]

وَلِأَحْمَدَ: أَنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهُ التَّشَهُّدَ، وَأَمَرَهُ أَنْ يُعَلِّمَهُ النَّاسَ.

Menurut riwayat Imam Ahmad, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajari tasyahud dan beliau memerintahkan agar mengajarkannya kepada manusia.” [HR. Ahmad, 6:28]

 

Hadits #315

وَلِمُسْلمٍ: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ: «التَّحِيَّاتُ المُبَارَكَاتُ الصَّلَواتُ الطَّيِّبَاتُ للهِ..» إلَى آخِرِهِ.

Menurut riwayat Imam Muslim, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami tasyahud, “AT-TAHIYYAATUL MUBAAROKAATUSH SHOLAWAATU LILLAH … hingga selesai.” [HR. Muslim, no. 403]

 

Faedah hadits

  1. Tahiyyaat adalah ucapan atau perbuatan yang menunjukkan ta’zhim (pengagungan). Tahiyyaat kepada Allah itu lebih pantas dibandingkan tahiyyaat kepada yang lainnya. Alif laam pada “at-tahiyyaatu lillah” menunjukkan istihqaq artinya seluruh pengagungan hanya khusus untuk Allah, tidak kepada selain-Nya.
  2. Ash-shalawaat yang dimaksud dalam bacaan tasyahud adalah shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah.
  3. Ath-thayyibaat adalah seluruh perkataan dan perbuatan yang ditujukan kepada Allah Ta’ala. Segala yang baik-baik dari sifat, ucapan, dan perbuatan adalah berhak bagi Allah untuk mendapatinya. Karena Allah itu thayyib (baik), begitu pula sifat, kalimat, dan perbuatannya pun baik. Ibadah berupa ucapan dan perbuatan yang baik itu ditujukan kepada Allah. Orang yang shalat hendaklah menghadirkan makna ini saat membacanya, tidak cukup hanya sekadar membaca dzikir dan memuji saja.
  4. Kata as-salaam itu bermakna selamat dari berbagai petaka dan hal yang dibenci. Kalimat ASSALAAMU ’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU (artinya: Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi), berarti kalimat itu mengandung doa, yang berisi permintaan kebaikan dan dijauhkan dari berbagai kejelekan. Dhamir (kata ganti) yang digunakan adalah “’alaika” (kepadamu) yaitu mukhathab (orang kedua), berarti nabi dekat dengan kita (seperti dialog langsung), seakan-akan nabi itu hadir di hadapan kita ketika mengucapkan salam ini. Ini adalah kekhususan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan, jika dalam shalat terjadi dialog dengan makhluk, shalat menjadi batal. Doa ini mencakup keselamatan dari kekhawatiran dunia dan akhirat. Oleh karenanya, doa ini tetap disyariatkan walaupun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal dunia.
  5. Kalimat “WA ROHMATULLAAHI”, di dalamnya ada doa rahmat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah sebelumnya didoakan agar diselamatkan dari keburukan. Dampak dari doa rahmat secara umum adalah adanya nikmat dan kebaikan pada makhluk yang tak terhitung.
  6. Kalimat “WA BAROKAATUH”, di mana barokah berarti kebaikan yang banyak dan terus menerus. Asal dari barokah adalah namaa’ wa ziyadah, tumbuh dan bertambah. Berkah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau masih hidup adalah keberkahan pada makanan, minuman, dan terkait urusan hidup beliau. Namun, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiada, berkahnya adalah dengan banyaknya pengikut dan tersebarnya syariat beliau.
  7. Kalimat “AS-SALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH SHOOLIHIIN” (artinya: Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh), kami di sini yang dimaksud adalah orang yang shalat dan yang bersama dengannya dalam shalat berjamaah. ‘Ibaadillahi adalah hamba Allah yang selalu menundukkan diri kepada Allah dengan melalukan ketaatan. Ash-Shalihin adalah orang-orang saleh. Sifat saleh adalah yang menjalankan kewajiban kepada Allah dan kewajiban terhadap sesama.
  8. Hadits ini menjadi dalil tentang wajibnya tasyahud di akhir shalat. Kalimatnya dalam hadits adalah kalimat perintah sehingga dihukumi wajib. Tasyahud akhir termasuk rukun shalat, sedangkan tasyahud awal termasuk sunnah ab’adh dalam madzhab Syafii.
  9. Bacaan tasyahud bentuknya beraneka ragam. Bacaan tasyahud itu ada dari sahabat Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, ‘Aisyah, Ibnu ‘Umar, dan selainnya. Perbedaan antara bacaan-bacaan tersebut hanyalah sedikit saja. Bacaan tasyahud mana saja yang dibaca dibolehkan dan sah. Para ulama ada yang memilih tasyahud Ibnu Mas’ud dengan alasan: (1) haditsnya itu muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim; (2) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perhatian sekali dengan tasyahud ini hingga mengajarkannya kepada Ibnu Mas’ud sambil menuntunkannya (mentalqinnya) sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa hal itu diajarkan seperti dituntunkan surah dari Al-Qur’an; (3) kandungannya adalah mengagungkan Allah, menunjukkan pemurnian ibadah dengan pengucapan tasyahud berisi tauhid dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Rasul), juga berisi berserah diri, kasih sayang, keberkahan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; (4) ada doa keselamatan ditujukan kepada orang yang shalat dan umat Islam secara umum, serta hamba Allah yang saleh di langit dan bumi.
  10. Disunnahkan bagi orang yang shalat berdoa di akhir tasyahud dengan doa yang ia sukai. Namun, doa yang paling bagus adalah doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bakda tasyahud sebelum salam. Doa yang dipanjatkan bisa berisi permintaan kebaikan dunia dan akhirat. Karena ingatlah, doa secara umum adalah ibadah.
  11. Perintah doa bakda tasyahud, ini adalah sebelum adanya keterangan wajib bershalawat setelah tasyahud. Penjelasan mengenai shalawat bakda tasyahud akan datang penjelasannya insya Allah.
  12. Disebut tasyahud karena di dalamnya ada penyebutan syahadat tauhid dan kenabian.
  13. Tahiyyat hanya boleh ditujukan kepada Allah saja, tidak boleh kepada selain-Nya.
  14. Wasilah (perantara) berupa penyebutan ibadah didahulukan daripada meminta doa.
  15. Pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Ibnu Mas’ud mengenai tasyahud ini lalu beliau perintahkan untuk mengajarkannya kepada yang lain menunjukkan tentang kewajiban membacanya dan sangat pentingnya untuk dibaca.

Baca juga: Siapakan Orang Saleh?

 

Referensi

  1. Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:506-507.
  2. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:154-158.

Senin pagi, 3 Syakban 1443 H, 7 Maret 2022

@ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button