Home Muamalah Mengenal Gharar, Kaitannya dengan Judi, dan Hukumnya

Mengenal Gharar, Kaitannya dengan Judi, dan Hukumnya

733
0

Apa itu gharar? Apa ada kaitan antara gharar dan judi? Hukum gharar itu apa?

MENGENAL GHARAR

Definisi gharar

  1. Jual beli tidak jelas kesudahannya.
  2. Konsekuensi: antara ada dan tidak ada.
  3. Unsur untung – rugi: spekulasi.

 

Hubungan gharar dan qimar (judi)

  • Qimar ada dalam pertandingan/ perlombaan. Sedangkan gharar ada dalam akad jual beli.

 

Hubungan gharar dan maysir (permainan melalaikan)

Gharar itu termasuk salah satu bentuk maysir.

Maysir itu ada dua:

  1. Maysir yang diharamkan karena mengandung unsur qimar.
  2. Maysir yang merupakan permainan yang diharamkan sekalipun tidak disertai pembayaran uang.

Sebagian ulama salaf ketika ditanya tentang maysir, mereka menjawab, “Segala bentuk permainan yang melalaikan dari shalat dan dzikrullah termasuk maysir.”

Maysir diharamkan bukan karena unsur spekulasi. Akan tetapi, maysir diharamkan karena melalaikan dari shalat, dzikrullah, timbul kebencian dan permusuhan. Sedangkan fungsi uang hanyalah sebagai penarik orang untuk ikut serta dalam permainan.

 

Hubungan gharar dan qur’ah (lotere/ undian)

Qur’ah adalah suatu cara untuk membedakan antara orang-orang yang berhak, tetapi orangnya tidak jelas. Untuk menentukan siapa yang berhak, dilakukan undian.

Hukum undian:

  1. Dibolehkan, yaitu untuk menentukan siapa yang lebih berhak di antara orang-orang yang berhak.
  2. Dilarang, yaitu untuk menghilangkan kepemilikan seseorang atas suatu barang. Undian seperti ini termasuk bai’ gharar.

 

Hubungan gharar dan mukhatharah (pertaruhan, spekulasi)

Mukhatharah lebih umum daripada gharar.

Mukhatharah ada dua macam:

  1. Mukhatharah yang disebabkan ketidakjelasan barang atau harga, termasuk qimar dan gharar.
  2. Mukhatharah yang disebabkan keuntungan belum jelas, tetapi barang dan harganya jelas, masih dibolehkan dan tidak termasuk gharar.

Catatan: Jual beli yang dilakukan secara cepat terhadap beberapa jenis barang seperti saham yang mengandung unsur spekulasi tinggi karena pembeli kemungkinan mendapat keuntungan dalam beberapa saat atau sebaliknya, tidaklah dianggap qimar apabila rukun dan syarat jual beli terpenuhi.

 

HARAMNYA GHARAR

Gharar itu dihukumi haram. Gharar itu salah satu bentuk perjudian. Namun, tidak semua gharar itu haram. Ada gharar kecil yang masih boleh, ada gharar besar yang diharamkan. Sedangkan riba semuanya haram, baik riba yang banyak maupun sedikit.

Allah Ta’ala berfirman tentang maysir (perjudian),

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90) إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (91)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91).

Haramnya gharar dikarenakan dalam ayat disebutkan:

  1. “رِجْسٌ”artinya kotor, berbau busuk, dan menjijikkan.
  2. “مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ” artinya termasuk perbuatan setan.
  3. “فَاجْتَنِبُوهُ” artinya maka jauhilah dan yang meninggalkannya dikatakan “لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”agar kamu mendapat keberuntungan dunia dan akhirat.
  4. Dengan judi timbul “الْعَدَاوَةَ” permusuhan dan “وَالْبَغْضَاءَ” kebencian.
  5. Judi itu menghalangi dari dzikir dan shalat “وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ”.

 

KRITERIA GHARAR YANG DIHARAMKAN

  1. Nisbah gharar dalam akad besar. Gharar sedikit tidaklah masalah.
  2. Gharar dalam akad mendasar. Jika gharar dalam akad hanya sebagai pengikut, tidak merusak keabsahan akad. Jika ada yang menjual binatang ternak yang bunting, binatang ternak yang menyusui, dan pohon yang berbuah belum matang, hukumnya dibolehkan. Walaupun janin, susu, dan sebagian buah tersebut tidak jelas karena keberadaannya dalam akad hanya sebagai pengikut dan bukan tujuan dalam akad jual beli.
  3. Akad yang mengandung gharar bukan termasuk akad yang dibutuhkan orang banyak. Masih dibolehkan menjual wortel, bawang, umbi-umbian, dan menjual barang yang dimakan bagian dalamnya, seperti semangka dan telur, sekalipun terdapat gharar karena kebutuhan orang banyak.
  4. Gharar terjadi pada akad jual beli. Jika gharar terdapat pada akad hibah, wasiat, sedekah tidak mempengaruhi keabsahan akad. Ada kaedah yang menyatakan, “Tidak ada gharar dalam akad tabarru’aat (akad hibah dan semacamnya yang tidak ada kompensasi).”

 

HIKMAH PELARANGAN BAI’ GHARAR

  1. Memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
  2. Menimbulkan permusuhan sesama muslim.
  3. Lalai dari dzikir kepada Allah dan menghilangkan keberkahan harta.
  4. Mengalihkan pada keuntungan yang semu sehingga orang itu malas bekerja.
  5. Menghancurkan ekonomi negara bahkan dunia.

 

Referensi: 

Harta Haram Muamalat Kontemporer. Cetakan ke-22, Juli 2019. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Penerbit P.T. Berkat Mulia Insani.

 

Baca Juga:


 

Diselesaikan di Darush Sholihin, malam 8 Syawal 1441 H, 31 Mei 2020

Oleh: Al-Faqir Ilallah, Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here