Home Shalat Manhajus Salikin: Sujud Sahwi

Manhajus Salikin: Sujud Sahwi

9371
0

Apa pengertian sujud sahwi, apa fungsinya, kenapa sampai kita diperintahkan sujud sahwi. Kita akan lihat dari perkataan Syaikh As-Sa’di dalam Manhajus Salikin berikut ini.

# Fikih Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di

Kitab Shalat

 

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya Manhajus Salikin,

بَابُ سُجُودِ اَلسَّهْوِ وَالتِّلَاوَةِ وَالشُّكْرِ

وَهُوَ مَشْرُوعٌ إِذَا:

1- زَادَ اَلْإِنْسَانُ فِي صَلَاةٍ رُكُوعًا أَوْ سُجُودًا أَوْ قِيَامًا, أَوْ قُعُودًا, سَهْوًا.

2- أَوْ نَقَصَ شَيْئًا مِنْ اَلْمَذْكُورَاتِ: أَتَى بِهِ وَسَجَدَ لِلسَّهْوِ

3- أَوْ تَرَكَ وَاجِبًا مِنْ وَاجِبَاتِهَا سَهْوًا

4- أَوْ شَكَّ فِي زِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ

Bab “Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, dan Sujud Syukur”

Sujud sahwi itu disyariatkan apabila:

  1. Seseorang menambah dalam shalatnya rukuk, sujud, berdiri, atau duduk dalam keadaan lupa.
  2. Kekurangan sesuatu dari yang disebutkan tadi, maka ia melakukannya kembali lalu melakukan sujud sahwi.
  3. Meninggalkan salah satu wajib shalat dalam keadaan lupa.
  4. Ragu-ragu adanya penambahan atau pengurangan.

 

Pengertian sujud sahwi

Sahwu secara bahasa berarti lalai dari sesuatu. Seseorang lupa dalam shalatnya, berarti ia lalai dari sesuatu dari shalatnya.

Secara istilah, sahwu adalah lalai dari sesuatu dalam shalat. Sujud sahwi berarti dua kali sujud yang dilakukan pada akhir shalat atau bakda shalat untuk menutupi kekurangan. Sujud sahwi disebut demikian karena dilakukan ketika lupa (idhafah al-musabbab lis sabab). Berarti tidak ada sujud sahwi bagi orang yang tidak tahu.

 

Fungsi sujud sahwi dan sebabnya

Fungsi sujud sahwi adalah untuk menutupi kekurangan dalam shalat dan untuk mengalahkan setan.

Sebab-sebab sujud sahwi secara umum ada tiga yaitu: (1) adanya penambahan, (2) adanya kekurangan, (3) adanya keragu-raguan.

 

Dalil-dalil tentang pensyariatan sujud sahwi

Pertama: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نُودِىَ بِالأَذَانِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ الأَذَانَ فَإِذَا قُضِىَ الأَذَانُ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِىَ التَّثْوِيبُ أَقْبَلَ يَخْطُرُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا. لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ إِنْ يَدْرِى كَمْ صَلَّى فَإِذَا لَمْ يَدْرِ أَحَدُكُمْ كَمْ صَلَّى فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

Apabila adzan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar adzan tersebut. Apabila adzan selesai dikumandangkan, maka ia pun kembali. Apabila dikumandangkan iqomah, setan pun berpaling lagi. Apabila iqamah selesai dikumandangkan, setan pun kembali, ia akan melintas di antara seseorang dan nafsunya. Dia berkata, “Ingatlah demikian, ingatlah demikian untuk sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengingatnya, hingga laki-laki tersebut senantiasa tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat. Apabila salah seorang dari kalian tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, hendaklah dia bersujud dua kali dalam keadaan duduk.” (HR. Bukhari, no. 1231 dan Muslim, no. 389)

Baca Juga: Panduan Sujud Syukur

Kedua: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ إِمَّا الظُّهْرَ وَإِمَّا الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَتَى جِذْعًا فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَاسْتَنَدَ إِلَيْهَا مُغْضَبًا وَفِي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ فَهَابَا أَنْ يَتَكَلَّمَا وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ فَقَامَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقُصِرَتْ الصَّلَاةُ أَمْ نَسِيتَ فَنَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمِينًا وَشِمَالًا فَقَالَ مَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ قَالُوا صَدَقَ لَمْ تُصَلِّ إِلَّا رَكْعَتَيْنِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat pada salah satu dari dua shalat petang, mungkin shalat Zhuhur atau Ashar. Namun pada raka’at kedua, beliau sudah mengucapkan salam. Kemudian beliau pergi ke sebatang pohon kurma di arah kiblat masjid, lalu beliau bersandar ke pohon tersebut dalam keadaan marah. Di antara jamaah terdapat Abu Bakar dan Umar, namun keduanya takut berbicara. Orang-orang yang suka cepat-cepat telah keluar sambil berujar, “Shalat telah diqoshor (dipendekkan).” Sekonyong-konyong Dzul Yadain berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah shalat dipendekkan ataukah anda lupa?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok ke kanan dan ke kiri, lalu bersabda, “Betulkah apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain tadi?” Jawab mereka, “Betul, wahai Rasulullah. Engkau shalat hanya dua rakaat.” Lalu beliau shalat dua rakaat lagi, lalu memberi salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari, no. 1229 dan Muslim, no. 573)

 

Ketiga: Hadits ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِى ثَلاَثِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ دَخَلَ مَنْزِلَهُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْخِرْبَاقُ وَكَانَ فِى يَدَيْهِ طُولٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَذَكَرَ لَهُ صَنِيعَهُ. وَخَرَجَ غَضْبَانَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى النَّاسِ فَقَالَ « أَصَدَقَ هَذَا ». قَالُوا نَعَمْ. فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat ‘Ashar lalu beliau salam pada raka’at ketiga. Setelah itu beliau memasuki rumahnya. Lalu seorang laki-laki yang bernama al-Khirbaq (yang tangannya panjang) menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah!” Lalu ia menyebutkan sesuatu yang dikerjakan oleh beliau tadi. Akhirnya, beliau keluar dalam keadaan marah sambil menyeret rida’nya (pakaian bagian atas) hingga berhenti pada orang-orang seraya bertanya, “Apakah benar yang dikatakan orang ini?“ Mereka menjawab, “Ya benar”. Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah raka’at yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim, no. 574)

 

Keempat: Hadits ‘Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ وَعَلَيْهِ جُلُوسٌ فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ وَسَجَدَهُمَا النَّاسُ مَعَهُ مَكَانَ مَا نَسِيَ مِنْ الْجُلُوسِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat Zhuhur namun tidak melakukan duduk (tasyahud awal). Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali, dan beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk sebelum. Beliau lakukan seperti ini sebelum salam. Maka orang-orang mengikuti sujud bersama beliau sebagai ganti yang terlupa dari duduk (tasyahud awal).” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

 

Kelima: Hadits ‘Abdullah bin Mas’ud.

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَمْسًا فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَزِيدَ فِى الصَّلاَةِ قَالَ « وَمَا ذَاكَ ». قَالُوا صَلَّيْتَ خَمْسًا. قَالَ « إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَذْكُرُ كَمَا تَذْكُرُونَ وَأَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ ». ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَىِ السَّهْوِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami lima raka’at. Kami pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau menambah dalam shalat?” Lalu beliau pun mengatakan, “Memang ada apa tadi?” Para sahabat pun menjawab, “Engkau telah mengerjakan shalat lima raka’at.” Lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia semisal kalian. Aku bisa memiliki ingatan yang baik sebagaimana kalian. Begitu pula aku bisa lupa sebagaimana kalian pun demikian.” Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud sahwi.” (HR. Muslim no. 572)

Baca Juga: Panduan Sujud Tilawah (1), Keutamaan dan Hukum Sujud Tilawah

 

Adanya penambahan dalam rukun shalat

Yaitu dalam shalat wajib maupun shalat sunnah ada penambahan rukuk, sujud, berdiri, duduk dalam keadaan lupa, maka ia sujud sahwi sesudah salam.

Dalilnya hadits Ibnu Mas’ud yang telah disebutkan sebelumnya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami lima rakaat. Kami pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau menambah dalam shalat?” Lalu beliau pun mengatakan, “Memang ada apa tadi?” Para sahabat pun menjawab, “Engkau telah mengerjakan shalat lima rakaat.” Lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia semisal kalian. Aku bisa memiliki ingatan yang baik sebagaimana kalian. Begitu pula aku bisa lupa sebagaimana kalian pun demikian.” Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud sahwi.” (HR. Muslim, no. 572)

 

Adanya kekurangan dalam rukun shalat

Yaitu lupa sehingga kurang dalam rukuk, sujud, berdiri, duduk, begitu pula lupa membaca surah Al-Fatihah, maka ia kembali melakukannya karena yang disebutkan ini adalah rukun. Rukun tidaklah gugur dengan sekadar sujud sahwi, tetap rukun tersebut kembali dilakukan. Walaupun tetap ada sujud sahwi dalam kasus ini, di mana dilakukan bakda salam karena ketika sudah melakukan rukun tersebut, ia telah melakukan suatu penambahan dalam shalat.

Dalil dalam hal ini adalah hadits Abu Hurairah berikut ini: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat pada salah satu dari dua shalat petang (al-‘asysyi), mungkin shalat Zhuhur atau Ashar. Namun pada rakaat kedua, beliau sudah mengucapkan salam. Kemudian beliau pergi ke sebatang pohon kurma di arah kiblat masjid, lalu beliau bersandar ke pohon tersebut dalam keadaan marah. Di antara jamaah terdapat Abu Bakar dan Umar, namun keduanya takut berbicara. Orang-orang yang suka cepat-cepat telah keluar sambil berujar, “Shalat telah diqashar (dipendekkan).” Sekonyong-konyong Dzul Yadain berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah shalat dipendekkan ataukah anda lupa?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok ke kanan dan ke kiri, lalu bersabda, “Betulkah apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain tadi?” Jawab mereka, “Betul, wahai Rasulullah. Engkau shalat hanya dua rakaat.” Lalu beliau shalat dua rakaat lagi, lalu memberi salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari, no. 1229 dan Muslim, no. 573)

 

Gerakan tambahan yang bukan termasuk jenis gerakan shalat

Gerakan seperti ini walau jadi tambahan, tidak disyariatkan sujud sahwi. Gerakan ini berlaku hukum yang lima yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Contohnya:

  1. Melakukan gerakan yang sifatnya wajib, seperti ketika penduduk Quba’ beralih menghadap Kabah (sebelumnya menghadap Baitul Maqdis);
  2. Melakukan gerakan yang sifatnya sunnah, seperti menghadang orang yang lewat di hadapan orang yang shalat;
  3. Melakukan gerakan yang sifatnya mubah, seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong Umamah (putri Abul ‘Ash dan Zainab binti Muhammad) saat shalat, juga termasuk dalam hal ini adalah gerakan banyak dalam shalat khauf;
  4. Melakukan gerakan yang sifatnya makruh seperti menoleh tanpa ada hajat.

Gerakan tambahan ini ditemukan sebabnya di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak disyaratkan sujud sahwi. Jika dari gerakan tambahan di atas termasuk yang disyariatkan, berarti termasuk ketaatan, tidak mengurangi pahala shalat. Sedangkan jika gerakan tersebut haram dilakukan, maka shalatnya batal.

 

Adanya kekurangan dengan meninggalkan wajib shalat

Contohnya adalah meninggalkan tasyahud awal dan duduknya. Ini termasuk naqsh (kekurangan) dalam shalat. Solusinya adalah ditutup dengan sujud sahwi yang dilakukan sebelum salam. Dalil masalah ini adalah hadits dari ‘Abdullah bin Buhainah: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat Zhuhur namun tidak melakukan duduk (tasyahud awal). Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali, dan beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk sebelum. Beliau lakukan seperti ini sebelum salam. Maka orang-orang mengikuti sujud bersama beliau sebagai ganti yang terlupa dari duduk (tasyahud awal).” (HR. Bukhari, no. 1224 dan Muslim, no. 570)

 

Kaedah penting, kapan kita cukup kembali menambah rukun yang kurang

Kaedah dari Syaikh As-Sa’di yang perlu diingat:

Jika seseorang lupa hingga meninggalkan sesuatu dari shalatnya lalu terlanjur salam sebelum melakukannya, kemudian ia mengingatnya sedangkan waktunya tidak lama (jeda sebentar), maka yang ditinggalkan tersebut dilakukan lalu melakukan sujud sahwi. Namun jika secara ‘urf (menurut kebiasaan) dianggap jeda waktunya sudah lama, maka shalat tersebut diulang. Lihat Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin, hlm. 275.

 

Sujud sahwi karena keragu-raguan

Ragu-ragu (syakk) yang dimaksudkan di sini adalah bimbang ada atau tidak adanya sesuatu dan kondisinya sama, atau ada yang bisa dikuatkan. Ini pengertian fuqaha. Sedangkan ragu-ragu (syakk) menurut ulama ushul adalah ada atau tidak adanya dinilai sama. Sedangkan kalau bisa dikuatkan disebut sangkaan kuat (zhann), sedangkan yang lemah disebut marjuh.

Jika keragu-raguan itu terlalu banyak pada orang yang sedang shalat, maka tidak perlu dipedulikan. Jika tidak demikian, maka ada dua keadaan:

Keadaan pertama: Jika ia ragu-ragu–semisal ragu telah shalat tiga atau empat rakaat–, kemudian ia mengingat dan bisa menguatkan di antara keragu-raguan tadi, maka ia pilih yang ia anggap yakin. Kemudian ia nantinya akan melakukan sujud sahwi sesudah salam.

Hal ini berdasarkan hadits, dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian itu ragu-ragu dalam shalatnya, lantas bisa memutuskan manakah yang benar, maka hendaklah ia sempurnakan shalatnya, kemudian ia salam lalu melakukan dua kali sujud bakda salam.” (HR. Bukhari, no. 401 dan Muslim, no. 572)

Keadaan kedua: Jika ia ragu-ragu–semisal ragu telah shalat tiga atau empat raka’at–, dan saat itu ia tidak bisa menguatkan di antara keragu-raguan tadi, maka ia pilih yang ia yakin (yaitu yang paling sedikit). Kemudian ia nantinya akan melakukan sujud sahwi sebelum salam.

Mengenai permasalahan ini sudah dibahas pada hadits Abu Sa’id Al-Khudri.

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.” (HR. Muslim, no. 571)

Juga terdapat dalam hadits ‘Abdurahman bin ‘Auf, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَهَا أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ وَاحِدَةً صَلَّى أَوْ ثِنْتَيْنِ فَلْيَبْنِ عَلَى وَاحِدَةٍ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثِنْتَيْنِ صَلَّى أَوْ ثَلاَثًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثِنْتَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثَلاَثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثَلاَثٍ وَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

Jika salah seorang dari kalian merasa ragu dalam shalatnya hingga tidak tahu satu rakaat atau dua rakaat yang telah ia kerjakan, maka hendaknya ia hitung satu rakaat. Jika tidak tahu dua atau tiga rakaat yang telah ia kerjakan, maka hendaklah ia hitung dua rakaat. Dan jika tidak tahu tiga atau empat rakaat yang telah ia kerjakan, maka hendaklah ia hitung tiga rakaat. Setelah itu sujud dua kali sebelum salam.” (HR. Tirmidzi no. 398 dan Ibnu Majah no. 1209. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1356)

Yang perlu diperhatikan: Seseorang tidak perlu memperhatikan keragu-raguan dalam ibadah pada tiga keadaan:

  1. Jika hanya sekedar was-was yang tidak ada hakikatnya.
  2. Jika seseorang melakukan suatu ibadah selalu dilingkupi keragu-raguan, maka pada saat ini keragu-raguannya tidak perlu ia perhatikan.
  3. Jika keraguan-raguannya setelah selesai ibadah, maka tidak perlu diperhatikan selama itu bukan sesuatu yang yakin.

 

 


 

Diselesaikan di Dasinem Pogung Dalangan, 5 Jumadats Tsaniyyah 1441 H (30 Januari 2020)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here