Beranda Belajar Islam Amalan Celaan bagi Yang Sibuk dengan Dunia Lantas Lalai dari Dzikir

Celaan bagi Yang Sibuk dengan Dunia Lantas Lalai dari Dzikir

319
0

 

Inilah ayat yang menjelaskan orang yang cuma sibuk dengan urusan dunia, perdagangan, dan jual beli lantas lalai dari dzikir.

Ayat Kelima:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّه

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah.” (QS. An-Nuur: 36-37)

Pelajaran dari Ayat

 

Pertama: Masjid adalah tempat yang paling dicintai oleh Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid. Dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671)

Kedua: Dilarang untuk melakukan hal-hal laghwu (sia-sia) di dalam masjid.

Ketiga: Ini jadi dalil tentang dorongan untuk membangun masjid, membersihkan, hingga menghilangkan kotoran dan najis dari masjid.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِى الدُّورِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid di kampung-kampung, memerintahkan untuk masjid itu dibersihkan dan diberi wewangian.” (HR. Abu Daud, no. 455 dan Tirmidzi, no. 594. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Membangun masjid bukan maksudnya saling berbangga dengan masjid namun tidak diisi dengan berjamaah.

Dalam hadits disebutkan,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

Di antara tanda-tanda Kiamat adalah manusia saling berbangga-bangga dengan masjid.”  (HR. An-Nasa’i, no. 690 dan Abu Daud, no. 449. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Keempat: Disebut nama Allah di dalam masjid, maksudnya adalah dibacakan Al-Qur’an di dalamnya, hal ini sebagaimana pendapat dari Ibnu ‘Abbas. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:550. Sedangkan Syaikh As-Sa’di memaknakan dengan shalat seluruhnya (baik wajib maupun sunnah), membaca Al-Qur’an, bertasbih, belajar dan mengajarkan ilmu, begitu pula mudzakarah, i’tikaf, dan bentuk ibadah lainnya yang dilakukan di dalam masjid. Berarti memakmurkan masjid ada dua bentuk yaitu memperhatikan bangunannya dan memperhatikan ibadah dengan menyebut nama Allah di dalamnya (seperti memperhatikan shalat). Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 599.

Kelima: Ayat ini adalah perintah untuk berdzikir pada ibkar (pagi) dan ashal (ashil, bermakna akhir siang yaitu petang).

Keenam: Menurut pendapat Ibnu ‘Abbas pula, ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat Shubuh dan shalat Ashar.

Ketujuh: Yang dimaksudkan dalam ayat adalah pria yang dunianya tidak membuatnya jauh dari Rabbnya. Sama sekali kesibukan perniagaan dan mencari nafkah tidaklah mempengaruhinya. Tijaroh (perniagaan) di sini mencakup segala bentuk perdagangan untuk meraih upah. Sedangkan bai’ (jual beli) adalah bentuk lebih khusus dari perniagaan. Karena dalam perniagaan lebih banyak ditemukan transaksi jual beli. Pujian pada pria di sini bagi mereka yang berdagang dan melakukan jual beli, dan asalnya perbuatan tersebut tidaklah terlarang. Meskipun tidak terlarang, akan tetapi hal-hal tadi tidaklah mempengaruhi mereka dari mengingat Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Bahkan mereka menjadikan ibadah dan ketaatan pada Allah sebagai tujuan hidup mereka. Jadi perdagangan tadi tidaklah sama sekali menghalangi mereka menggapai ridho Allah. Namun hati kebanyakan orang adalah sangat menaruh perhatian pada dunia. Mereka sangat mencintai penghidupan mereka. Dan sangat sulit mereka–pada umumnya–meninggalkan dunia mereka. Bahkan mereka pun bersusah payah hingga meninggalkan kewajiban pada Allah. Berbeda dengan yang disebutkan dalam ayat ini, mereka begitu takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. Karena mengingat kegoncangan hari kiamat tersebut, akhirnya mereka pun semakin mudah beramal dan meninggalkan hal yang melalaikan mereka dari Allah. Lihat Tafsir As-Sa’di, hlm. 599.

 

Referensi:

  1. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  2. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  3. Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Dzulqa’dah 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini