Home / Umum / Hukum Merapikan Jenggot

Hukum Merapikan Jenggot

Hukum Merapikan Jenggot Merapikan Jenggot Bolehkah Merapikan Jenggot Bolehkah Memotong Jenggot Hukum Merapihkan Jenggot

Sebagian ulama memang ada yang membolehkan memotong jenggot jika telah lebih dari satu genggaman[1]. Mereka adalah ulama Hanafiyah dan Hambali.[2] Dalil yang jadi pegangan adalah riwayat dari Ibnu ‘Umar yang disebutkan oleh Al Bukhari dalam kitab shahihnya,

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا حَجَّ أَوِ اعْتَمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ ، فَمَا فَضَلَ أَخَذَهُ

“Ibnu ‘Umar biasa ketika berhaji atau melaksanakan umroh, beliau menggenggam jenggotnya dan selebihnya dari genggaman tadi, beliau potong.” [3] Ulama-ulama tersebut pun mengatakan bahwa Ibnu ‘Umar yang membawakan hadits “biarkanlah jenggot” melakukan seperti ini dan beliau lebih tahu apa yang beliau riwayatkan.

Untuk menanggapi pernyataan ulama-ulama tersebut, ada beberapa sanggahan berikut.

1. Ibnu ‘Umar hanya memendekkan jenggotnya ketika tahallul ihrom dan haji saja, bukan setiap waktu. Maka tidak tepat perbuatan beliau menjadi dalil bagi orang yang memendekkan jenggotnya setiap saat bahkan jenggotnya dipangkas habis hingga mengkilap bersih.

2. Perbuatan Ibnu ‘Umar muncul karena beliau memahami firman Allah ketika manasik,

مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ

Dengan mencukur rambut kepala dan memendekkannya.” (QS. Al Fath: 27). Beliau menafsirkan ayat ini bahwa ketika manasik hendaklah mencukur rambut kepala dan memendekkan jenggot.

3. Kita sudah melihat riwayat dari Ibnu ‘Umar yang berisi perintah membiarkan jenggot (artinya tidak dirapikan sama sekali). Sebagaimana riwayat dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْهَكُوا الشَّوَارِبَ ، وَأَعْفُوا اللِّحَى

Cukur habislah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.[4] Apabila perkataan atau perbuatan sahabat menyelisihi apa yang ia riwayatkan, maka yang jadi tolak ukur tentu saja haditsnya, bukan pada pemahaman atau perbuatannya. Jadi yang tepat, kembalikanlah pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu membiarkan jenggot sebagaimana adanya hingga lebat.

Dengan demikian, pendapat yang lebih tepat adalah wajib membiarkan jenggot apa adanya tanpa memangkas atau memendekkannya dalam rangka mengamalkan hadits-hadits yang memerintahkan untuk membiarkan jenggot sebagaimana adanya.[5] Demikianlah yang menjadi pendapat Imam Nawawi sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya[6].

Adapun memotong kurang dari satu genggaman, sama sekali tidak ada satu ulama pun yang membolehkannya sebagaimana kata Ibnu ‘Abidin.[7] Namun demikianlah  sungguh aneh orang di sekitar kita, jenggotnya belum sampai 1 cm saja, malah sudah dipangkas hingga habis. Jadi perbuatan Ibnu ‘Umar bukanlah alasan untuk merapikan jenggot. Wallahu waliyyut taufiq.

 

Cuplikan dari buku penulis “Mengikuti Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah Teroris” yang akan diterbitkan oleh Pustaka Muslim-Jogja, insya Allah.

Panggang-Gunung Kidul, 13 Jumadats Tsaniyah 1432 H

www.rumaysho.com



[1] Namun yang dipotong adalah bagian bawah genggaman dan bukan atasnya. Misalnya kita memegang jenggot yang cukup lebat dengan satu genggaman tangan, maka sisa di bawah yang lebih dari satu genggaman boleh dipotong menurut mereka.

[2] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 35/224.

[3] HR. Bukhari no. 6892.

[4] HR. Bukhari no. 5893

[5] Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/102-103.

[6] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 35/225.

[7] Idem.

Merapihkan Jenggot Merapikan Jenggot Salaf Hukum Memendekkan Jenggot Cara Merapikan Jenggot Hukum Berjenggot Rumaysho

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

badan_kuat_six_pack

Bolehkah Memamerkan Body Six Pack?

Aurat pria memang antara pusat dan lutut. Namun pantaskah seorang pria memamerkan dadanya, alias membuka dadanya? Misal dada yang six pack?

10 comments

  1. Septian Damusepin

    tapi saya pernah nonton d tv katanya rasulullah pernah memotong jenggotnya, dan jenggotnya pun ada di musium kalo ga salah di daerah turki tuh musiumnya, mohon penjelasannya pak????

  2. mengikuti nabi,seperti nabi adalah yg benar….sunnah. sementara hadist setelah sunnah…..saya sepakat dengan penulis blog….memelihara jenggot wajib.

  3. Hukum memanjangkan jenggot tsb pada asalnya tidak wajib, wajibnya adalah menyelisihi perkara yang menjadi itiqod yang terkait ‘ibadah ahlul kitab. 

    Ada banyak jenis hadist yang memiliki kemiripan perintah untuk menyelisihi (berbeda) dengan ahlul kitab yaitu sbb :

    حدثنا قتيبة بن سعيد ثنا مروان بن معاوية الفزاري عن هلال بن ميمون الرملي عن يعلى بن شداد بن أوس عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خالفوا اليهود فإنهم لا يصلون في نعالهم ولا خفافهم
    Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyah al-Fazari, dari Hilal bin Maimun Ar-Ramli, dari Ya’la bin Syaddad bin Aus dari bapaknya, dia berkata : Rasulullah saw bersabda : “SELISIHILAH orang-orang Yahudi, karena sesungguhnya mereka tidak shalat dengan memakai sandal dan sepatu” (Sunan Abu Dawud no.652, Syaikh Al-Albani berkata : Shahih) 

    Pertanyaan : Apa hukumnya shalat dengan memakai sandal atau sepatu ? (setahu saya, mubah)

    حدثنا مسدد ثنا سفيان عن الزهري عن أبي سلمة وسليمان بن يسار عن أبي هريرة يبلغ به النبي صلى الله عليه وسلم قال : إن اليهود والنصارى لا يصبغون فخالفوهم
    Telah menceritakan kepada kami Musadad, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Az-Zahiriy, dari Abi Salamah dan Sulaiman bin Yasarm dari Abi Hurairah yang menyampaikan bahwa Nabi saw bersabda : Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak mengecat (rambut), maka SELISIHILAH mereka (Sunan Abu Dawud no.4203, Syaikh Al-Albani berkata : Shahih)

    Pertanyaan : Apa hukumnya menyemir rambut ? (setahu saya, mubah)

    حدثنا هشام بن بهرام المدائني أخبرنا حاتم بن إسماعيل ثنا أبو الأسباط الحارثي عن عبد الله بن سليمان بن جنادة بن أبي أمية عن أبيه عن جده عن عبادة بن الصامت قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقوم في الجنازة حتى توضع في اللحد فمر به حبر من اليهود فقال هكذا نفعل فجلس النبي صلى الله عليه وسلم وقال اجلسوا خالفوهم 
    Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Bahram Al-Madani, telah mengabarkan kepada kami Hatim bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Asbath Al-Haritsi, dari ‘Abdullah bin Sulaiman bin Junadah bin Abi ‘Umayah dari Bapaknya, dari Kakeknya, dari ‘Ubadah bin Shamit, dia berkata : Adalah Rasulullah saw berdiri untuk jenazah sampai jenazah diletakkan di dalam lahad. Kemudian lewatlah seorang Pendeta Yahudi dan berkata : ‘Seperti itulah kami berbuat’. Maka Nabi saw duduk dan berkata : ‘Duduklah kalian, SELISIHILAH mereka’ (Sunan Abu Dawud no.3176, Syaikh Al-Albani berkata : Hasan)

    Pertanyaan : Apa hukumnya ketika mayit lewat ? (setahu saya, disunnahkan berdiri)

    حدثنا قتيبة حدثنا عبد الوارث عن يونس عن الحسن عن ابن عباس قال أمر رسول الله صلى الله عليه و سلم بصوم يوم عاشوراء يوم العاشر 
    قال أبو عيسى حديث ابن عباس حسن صحيح واختلف أهل العلم في يوم عاشوراء فقال بعضهم يوم التاسع وروي عن ابن عباس أنه قال صوموا التاسع والعاشر وخالفوا اليهود وبهذا الحديث يقول الشافعي و أحمد و إسحق 
    Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits, dari Yunus, dari Al-Hasan, dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata : ‘Rasulullah saw memerintahkan berpuasa ‘Asyuro pada hari ke-10’. Abu ‘Isa (Imam At-Tarmidzi) berkata : Hadits Ibnu ‘Abbas Hasan Shahih dan Ahlul Ilmi berbeda pendapat dalam hal hari ‘Asyuro. Sebagian mengatakan hari ke-9. Diriwayat dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau saw bersabda : ‘Berpuasalah kalian pada hari ke-9 dan ke-10, dan SELISIHILAH orang-orang Yahudi’. Dan dengan hadits inilah Imam Syafi’iy dan Ahmad, juga Ishaq berpendapat. (Sunan At-Tarmidzi, no.755, Syaikh Al-Albani berkata : Shahih).

    Pertanyaan : Apa hukumnya puasa ‘Asyuro (tgl 9 dan 10) ? 

    حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا زيد بن يحيى ثنا عبد الله بن العلاء بن زبر حدثني القاسم قال سمعت أبا أمامة يقول خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم على مشيخة من الأنصار بيض لحاهم فقال يا معشر الأنصار حمروا وصفروا وخالفوا أهل الكتاب قال فقلنا يا رسول الله ان أهل الكتاب يتسرولون ولا يأتزرون فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم تسرولوا وائتزروا وخالفوا أهل الكتاب قال فقلنا يا رسول الله ان أهل الكتاب يتخففون ولا ينتعلون قال فقال النبي صلى الله عليه و سلم فتخففوا وانتعلوا وخالفوا أهل الكتاب قال فقلنا يا رسول الله ان أهل الكتاب يقصون عثانينهم ويوفرون سبالهم قال فقال النبي صلى الله عليه و سلم قصوا سبالكم ووفروا عثانينكم وخالفوا أهل الكتاب
    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah, telah menceritakan kepada kami Abi Ziyad bin Yahya, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-‘Ala bin Zabr, telah menceritakan kepadaku Al-Qosim, dia berkata : Aku mendengar Abu Umamah berkata : Rasulullah saw keluar menuju Tetua kaum Anshor yang sudah putih janggutnya, kemudian beliau saw bersabda : ‘Hai kaum Anshor, pakailah warna merah dan kuning, SELISIHILAH Ahlul Kitab’. Dia (Abu Umamah) berkata : Kemudian aku berkata : ‘Ya Rasulullah ! Sesungguhnya Ahlul Kitab memakai celana dan tidak memakai sarung’. Rasulullah saw bersabda : ‘Pakailah celana dan sarung, SELISIHILAH Ahlul Kitab’. Aku berkata : ‘Ya Rasulullah ! Sesungguhnya Ahlul Kitab memakai sepatu dan tidak memakai sandal’. Nabi saw bersabda : ‘Pakailah sepatu dan sandal, SELISIHILAH Ahlul Kitab’. Aku berkata : ‘YA Rasulullah ! Sesungguhnya Ahlul Kitab memotong jenggot dan memanjangkan kumis’. Nabi saw bersabda : ‘Panjangkanlah jenggotmu dan cukurlah kumismu, SELISIHILAH Ahlul Kitab’ (Musnad Ahmad no.22337, Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata : Isnadnya Shahih)

    Pertanyaan : Apa hukumnya memakai pakaian merah dan kuning, memakai celana dan sarung, … mencukur kumis dan memanjangkan janggut ? 

    Pada dasarnya YANG WAJIB adalah menyelisihi perbuatan yang menjadi itiqod mereka dalam beribadah, bukan pada persoalan janggut dan kumis semata. Dan sebab perintah tsb adalah bertujuan untuk MENYELISIHI perbuatan Ahlul Kitab yang bertentangan dengan ‘itiqod dan hukum Islam. Sedangkan yang sejalan dengan ‘itiqod dan hukum Islam tentunya tidaklah diselisihi. 

    Ketika perbuatan yang mau diselisihi tidak ada, atau hilangnya perbuatan tsb, maka otomatis kewajiban untuk menyelisihi tsb hilang dengan sendiri. Karena sebab perintah tsb muqayyad, tergantung ada tidak adanya sebab itiqod atau perbuatan yang mau diselisihi. 

    CMIIW (Correct Me If I’am Wrong).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *