Beranda Belajar Islam Amalan Berkumpul-kumpul dengan yang Rajin Berdzikir

Berkumpul-kumpul dengan yang Rajin Berdzikir

484
0

 

Ini sangat dianjurkan sekali demi baiknya agama seorang muslim. Karena teman sangat berpengaruh.

 

Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ …

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka ...” (QS. Al-Kahfi: 28)

Penjelasan Ayat

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Duduklah bersama dengan mereka yang berdzikir kepada Allah, mereka bertahlil, bertahmid, bertasbih, bertakbir, dan berdoa kepada-Nya pagi dan petang. Kumpullah dengan mereka baik mereka itu fakir, kaya, kuat, atau lemah. Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan kepada orang-orang terhormat dari kalangan Quraisy di mana mereka minta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk duduk bersama mereka seorang diri, dan tidak duduk-duduk bersama dengan orang-orang lemah dari kalangan sahabat seperti Bilal, ‘Ammar, Shuhaib, Khabab, dan Ibnu Mas’ud. Untuk mereka kaum lemah tadi buatlah majelis sendiri. Allah pun melarang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah berfirman,

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari.” (QS. Al-An’am: 52)

Allah memerintahkan kepada beliau untuk bersama duduk bersama mereka yang rajin berdzikir dari kalangan dhuafa (kaum lemah), dengan firman-Nya (yang artinya), “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari.” (QS. Al-Kahfi: 28). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:152)

Yang dimaksud dengan “orang-orang yang menyeru Rabb-nya” ada dua makna, yaitu (1) mereka yang berdoa dan berdzikir kepada Rabbnya, dan (2) mereka yang beribadah kepada Rabbnya. (At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat Al-Kahfi, hlm. 123)

 

Manfaat Berteman dengan Orang Shalih

1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat kita terjatuh dalam kesalahan

Yang menjadi dalil teman shalih akan selalu mendukung kita dalam kebaikan dan mengingatkan kita dari kesalahan. Lihatlah kisah persaudaraan Salman dan Abu Darda’ berikut ini.

Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, ‘Mengapa keadaanmu seperti itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.’

Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai, Abu Darda’ berkata kepada Salman, ‘Makanlah, karena saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.’ Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, ‘Tidurlah!’ Abu Darda’ pun tidur kembali.

Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman berkata lagi kepadanya, ‘Tidurlah!’ Hingga pada akhir malam, Salman berkata, ‘Bangunlah!’ Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya,

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ

‘Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Karenanya, penuhilah masing-masing hak tersebut.’

Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, ‘Salman benar.’” (HR. Bukhari, no. 1968)

 

2- Dia akan mendoakan kita dalam kebaikan

Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan – istrinya adalah Ad-Darda’ binti Abid Darda’; beliau mengatakan, “Saya tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen.) di rumah, namun saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen.). Ummu Ad-Darda’ berkata, ‘Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?’ Saya (Shafwan) berkata, ‘Iya.’

Ummu Darda’ pun mengatakan, ‘Kalau begitu doakanlah kebaikan kepada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

‘Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya pada saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata, ‘Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.””

Shafwan pun mengatakan, “Saya bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733)

 

3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu; ia berkata,

قِيلَ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ، قَالَ: الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ.

“Ada yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170 dan Muslim, no. 2640)

 

Referensi:

  1. Al-Jalis Ash-Shalih wa Jalis As-Suu’. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Dar Ibnu Rajab;
  2. At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil – Tafsir Surat Al-Kahfi fi Sual wa Jawab. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi. Penerbit Maktabah Makkah;
  3. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim li Al-Imam Ibnu Katsir. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Artikel Kajian MPD, 12 April 2018

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini