Home / Amalan / Doa Meminta Ampunan Allah dan Doa Bahasa Indonesia Saat Sujud

Doa Meminta Ampunan Allah dan Doa Bahasa Indonesia Saat Sujud

Nariyah Perbanyak Doa Prof Wahbah Zuhaili Rumaysho Doa Terhindar Dari Gangguan Jin

 

Ini doa yang bagus dihafalkan dan dibaca dalam sujud.

 

Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir

Hadits #1429

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -: أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ : (( اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ : دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ketika sujudnya, “ALLOHUMMAGH-FIR LII DZANBII KULLAHU, DIQQOHU WA JILLAHU, WA AWWALAHU WA AAKHIROHU, WA ‘ALAANIYATAHU WA SIRROHU (Artinya: Ya Allah ampunilah seluruh dosaku, yang kecilnya dan besarnya, yang pertamanya dan terakhirnya, yang terang-terangannya dan rahasianya).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 483]

 

Penjelasan:

  1. Dianjurkan berurutan dalam meminta, mulai dari yang kecil dahulu baru yang besar, menunjukkan besarnya harapan untuk dikabulkan.
  2. Dosa besar berasal dari kebiasaan melakukan dosa kecil. Karenanya kita diperintahkan meminta ampun kepada Allah dari dosa kecil dahulu kemudian dosa besar.
  3. Taubat mesti dilakukan dari dosa kecil dan dosa besar.
  4. Siapa saja yang telah ditutupi oleh Allah dosanya, maka hendaklah ia tidak membukanya. Namun segeralah ia memperbanyak istighfar dan taubat. Dalam hadits disebutkan, “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat (ia membuka apa yang telah Allah tutupi padahal bukan darurat dan bukan kebutuhan untuk membukanya, pen.). Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990. Lihat keterangan dari Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 18:99)
  5. Wajib seorang hamba bertaubat dari dosa seluruhnya, termasuk pula sebab dan perantara menuju dosa tersebut.
  6. Disunnahkan membaca doa di atas ketika sujud. Doa tersebut lebih bagus karena ma’tsur (bersumber dari hadits) dan berbahasa Arab.

 

Referensi:

  1. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
  2. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:455-456.

 

Berdoa dengan Bahasan Indonesia dalam Shalat

Imam Yahya bin Syarf An-Nawawi rahimahullah berkata, “Untuk doa yang tidak ma’tsur (tidak berasal dari Al-Quran dan As Sunnah) dengan selain bahasa Arab, maka tidak dibolehkan dan ini tidak ada khilaf dalam madzhab Syafi’i dan shalatnya bahkan menjadi batal. Hal ini berbeda jika seseorang membuat-buat doa dengan bahasa Arab, maka seperti itu dibolehkan dalam madzhab Syafi’i tanpa ada khilaf.” (Al-Majmu’, 3:181)

Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syirbini rahimahullah berkata, “Adapun doa yang tidak ma’tsur (tidak berasal dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah), maka tidak boleh doa atau dzikir tersebut dibuat-buat dengan selain bahasa Arab lalu dibaca di dalam shalat. Seperti itu tidak dibolehkan sebagaimana dinukilkan oleh Ar-Rofi’i dari Imam Syafi’i sebagai penegasan dari yang pertama. Sedangkan dalam kitab Ar-Roudhoh diringkas untuk yang kedua. Juga membaca doa seperti itu dengan selain bahasa Arab mengakibatkan shalatnya batal.” (Mughni Al-Muhtaj, 1:273)

Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i. Oleh karena itu, baiknya memang doa dalam shalat adalah doa yang ma’tsur yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, itu lebih selamat.

 

Referensi:

  1. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairozi. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Tahqiq: Muhammad Najib Al-Muthi’i. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub.
  2. Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazh Al-Minhaj. Cetakan keempat, Tahun 1431 H. Muhammad bin Al-Khatib Asy-Syirbini. Penerbit Dar Al-Ma’rifah.

Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Kamis pagi, 5 Rabi’ul Awwal 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Hukum Menyusui Bayi Lain Hukum Mengkepang Jenggot Hadist Cara Niat Shalat Bitcoin Bolehkah Berpuasa Di Hari Jumat..?

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Doa Shahih Setelah Shalat Dhuha

Ini bacaan shahih setelah shalat Dhuha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *