Home / Aqidah / Faedah Surat Yasin: Nasib Sial Karena Siapa

Faedah Surat Yasin: Nasib Sial Karena Siapa

Hukum Meludah Zhalim

 

Nasib sial karena siapa? Apakah karena bertemu dengan tanggal, angka, bulan sial atau memang karena kesalahan kita sendiri?

 

Tafsir Surah Yasin

Ayat 18-19

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19)

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 18-19)

 

Penjelasan Ayat

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa orang-orang yang didakwahi menyatakan bahwa mereka memandang orang-orang yang berdakwah tidak memberikan kebaikan apa-apa untuk kehidupan mereka.

Qatadah menyatakan, “Musibah kejelekan yang menimpa kami itu karena sebab kalian.”

Mujahid berkata, “Tidaklah pendakwah semisal kalian masuk di suatu negeri melainkan penduduknya hanya akan mendapatkan musibah.”

Jika kalian tidak berhenti (mendakwahi kami), niscaya kami akan merajam kalian” yaitu melempar kalian dengan batu, sebagaimana kata Qatadah. Mujahid mengatakan yang dimaksud adalah mencaci kalian.

Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri”, maksudnya sial dan nasib nahas itu kembali kepada mereka sendiri yang menyatakan sial (kembali pada orang-orang yang didakwahi).

Hal ini sama seperti perkataan kaum Fir’aun,

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131)

Begitu pula kaum Shalih berkata,

قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ

Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.” Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab).” (QS. An-Naml: 47)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).” Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (QS. An-Nisa’: 78)

Maksud kalimat “apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas”, yaitu jika pendakwah mengingatkan mereka untuk kembali pada Allah, apakah segala sial dikatakan karena sebab pendakwah tersebut. Menyatakan seperti ini sungguh sangat berlebihan. Demikian penjelasan dari Qatadah. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6:333-334.)

 

Pelajaran dari Ayat

  1. Orang yang tidak mau menerima dakwah biasa mengutarakan bahwa sial itu datang karena sebab adanya dakwah.
  2. Orang yang tidak menerima dakwah selalu memberikan isu yang tidak benar supaya membuat orang lari dari dakwah.
  3. Selalu ada ancaman bagi yang berdakwah.
  4. Seseorang mendapatkan sial atau nasib nahas adalah karena perbuatan manusia sendiri.
  5. Dosa dan mendustakan para Rasul (enggan menerima dakwah) adalah jadi sebab bala dan kemalangan itu datang.
  6. Hendaklah bisa mengingkari orang-orang yang membantah.
  7. Mereka yang enggan menerima dakwah dan mendustakan para rasul adalah orang-orang yang melampaui batas.
  8. Diharamkan beranggapan sial (tathayyur dalam Islam).

 

Nasib Sial dari Masa Jahiliyah

Pembahasan beranggapan sial ini dalam bahasan akidah diistilahkan dengan thiyaroh atau tathoyyur. Thiyaroh berasal dari kata burung, artinya dahulu orang Arab Jahiliyah ketika memutuskan melakukan safar, mereka memutuskan dengan melihat pergerakan burung. Jika burung tersebut bergerak ke kanan, maka itu tanda perjalanannya akan baik. Jika burung tersebut bergerak ke kiri, maka itu tanda mereka harus mengurungkan niat untuk bersafar karena bisa jadi terjadi musibah di tengah perjalanan.

Namun maksud thiyaroh di sini adalah umum, bukan hanya dengan burung saja. Thiyaroh adalah beranggapan sial ketika tertimpanya suatu musibah pada sesuatu yang bukan merupakan sebab dilihat dari sisi syar’i atau inderawi, baik itu dengan orang, dengan benda tertentu, dengan tumbuhan, dengan waktu, dengan angka tertentu atau dengan tempat tertentu.

Contoh dari thiyaroh atau beranggapan sial yang masih ada di masyarakat kita:

  1. Menganggap anak sakit-sakitan karena nama yang terlalu berat diemban sehingga harus ada penggantian nama.
  2. Mengganggap datangnya musibah itu karena si A yang baru datang ke kampung, sebelumnya tidak pernah terjadi.
  3. Menganggap bulan Suro adalah bulan keramat sehingga tidak boleh mengadakan hajatan, walimahan atau acara besar lainnya.
  4. Jika lewat di depan kuburan, selalu sial dan sering melihat hantu gentayangan.
  5. Anggapan sial dengan angka 4 sehingga dalam gedung tinggi tidak dituliskan lantai 4. Menurut budaya Cina angka ini identik dengan kematian. Begitu pula angka 13 sama populernya dengan mitos hantu di seluruh dunia. Buktinya, kalau kita lihat pada kursi pesawat berbagai maskapai tidak ditemukan nomor kursi 13 dan 14.

 

Larangan Tathayyur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ

Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar.” (HR. Bukhari, no. 5757 dan Muslim, no. 2220).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».

Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud, no. 3910 dan Ibnu Majah, no. 3538. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.).

 

Solusinya, Tawakkal kepada Allah

Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan berkata, “Obat dari beranggapan sial adalah dengan seorang mukmin bertawakkal kepada Allah. Moga dengan itu tidak ada was-was lagi dalam dirinya. Sial itu akan hilang jika seseorang mau bertawakkal penuh pada Allah semata.” Ini perkataan beliau dalam I’anah Al-Mustafid, hlm. 368.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath -Thalaq: 3).

Moga Allah memberi taufik dan hidayah untuk dijauhkan dari kesyirikan dan dijauhkan dari beranggapan sial (tathayyur) serta kuat dalam tawakkal pada Allah.

 

Referensi:

  1. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyi Al-Kabir. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Darus Salam.
  2. I’anah Al-Mustafid. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  3. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  4. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.
  5. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Rabu pagi, 4 Rabi’ul Awwal 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Hadits Arbain #02: Ihsan dan Tanda Kiamat

Sekarang kita masuk bahasan terakhir dari hadits kedua Arbain An-Nawawiyah tentang ihsan dan tanda kiamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *