Home Muamalah Riba dalam Sisa Hasil Usaha Koperasi Simpan Pinjam

Riba dalam Sisa Hasil Usaha Koperasi Simpan Pinjam

3242
18

Ada koperasi yang usahanya adalah riil, sehingga hasilnya pun dibagi kepada setiap anggota berupa sisa hasil usaha (SHU). Namun ada juga koperasi yang bentuknya simpan pinjam, di akhir tahun pun membagi keuntungan dari simpan pinjam tersebut. Apakah ini dihukumi riba?

Menilik SHU

Pengertian SHU menurut UU No. 25/1992, tentang perkoperasian, Bab IX, pasal 45 adalah :

SHU koperasi adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurang dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban lain termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.

Adapun perlakuan terhadap SHU adalah sisa hasil usaha setelah dikurangi dana cadangan, dibagikan kepada anggota sebanding dengan jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan koperasi, serta digunakan untuk pendidikan perkoperasian dan keperluan lain dari koperasi, sesuai dengan keputusan rapat anggota.

SHU dari Simpan Pinjam

Masalah yang kita kritisi saat ini adalah jika sisa hasil usaha ditarik dari simpan pinjam. Jika anggota atau pihak lain yang mengajukan pinjaman pada koperasi, lalu dikenai tambahan dari koperasi, ini dihukumi riba. Karena setiap utang piutang yang ditarik keuntungan, maka itu adalah haram. Itu berarti bunga dari simpan pinjam tersebut adalah riba.

Dalam hadits disebutkan,

كل قرض جر منفعة فهو حرام

Setiap utang piutang yang di dalamnya ada keuntungan, maka itu dihukumi haram.” Hadits ini adalah hadits dho’if sebagaimana Syaikh Al Albani menyebut dalam Dho’iful Jami’ no. 4244. Namun berdasarkan kata sepakat para ulama -sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Mundzir-, perkataan di atas benar adanya.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ

Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al Mughni, 6: 436)

Kemudian Ibnu Qudamah membawakan perkataan berikut ini,

“Ibnul Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa jika orang yang memberikan pinjaman memberikan syarat kepada yang meminjam supaya memberikan tambahan atau hadiah, lalu transaksinya terjadi demikian, maka tambahan tersebut adalah riba.”

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Abbas bahwasanya mereka melarang dari utang piutang yang ditarik keuntungan karena utang piutang adalah bersifat sosial dan ingin cari pahala. Jika di dalamnya disengaja mencari keuntungan, maka sudah keluar dari konteks tujuannya. Tambahan tersebut bisa jadi tambahan dana atau manfaat.” Lihat Al Mughni, 6: 436.

Jadi walaupun dinamakan sisa hasil usaha, namun kalau hakikatnya adalah riba, maka hukumnya jelas haram.

Baca pula di Rumaysho.Com: Hukum Kredit Rumah KPR.

Belajar Melihat Hakikat, Jangan Sekedar Melihat Istilah “Syari’ah”

Seorang muslim harus cerdas melihat hakikat suatu transaksi, yaitu apa yang sebenarnya terjadi, bukan hanya melihat istilah atau nama. Karena istilah dan embel-embel syar’i kadang menipu. Dikatakan bagi hasil atau sisa hasil usaha, namun kalau ditilik, yang nyata itu adalah riba. Karena di dalamnya yang terjadi adalah utang-piutang (bukan jual beli) dan ditarik keuntungan. Itulah riba.

Baca artikel Rumaysho.Com lainnya: Bunga Bank itu Riba.

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Referensi:

Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Hambali, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan tahun 1432 H.

Selesai disusun 22: 51 WIB, 5 Dzulqo’dah 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul

Artikel www.rumaysho.com

 

Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat

Kunjungi tiga web kami lainnya: (1) Pesantren DarushSholihin, (2) Bisnis Pesantren di Ruwaifi.Com, (3) Belajar tentang Plastik

Bagi yang mau berkurban lewat Pesantren Darush Sholihin mulai dari Rp.1,3 juta: Kurban Gunungkidul 1434 H

18 COMMENTS

  1. Assalam mualaikum pak ustad, mf aq nanya, aq tinggal di lampung asal palembang, penduduk di sana khususnya ibu” suka pinjem duit sama saya, kadang 300 kadang 500 dan seterusnya, tapi di setiap pinjaman mrka tdk ada saya pinta lebihnya, meraka mau ksh lebih juga saya takut dosa, trs lama kelama’an mereka jadi mengajak saya utk buka koperasi, usul mereka kalau mereka pinjam 1.000.000 nanti lebihnya 100 ribu, itu juga di bayar kredit sama mereka misal dalam jangka 4 bulan gitu pak ustad uangnya bukan utk modal usaha, kebanyakan utk biaya anak sekolah, nah dlm hal ini saya berharap ada pencerahan buat saya sebelum saya salah jalan pak ustad,terima kasih. wassalamu alaikum.

  2. Bismillah..afwan ustad ana mau nanya..bgmn hukum dari jamsostek ketenagakerjaan dari tempat kerja dahulu (bank) jika ana ingin cairkan? Ana berniat cairkan,dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan untk bayar utang..bolehkah ana gunakan ? Masalahnya sekarang ana dan istri belum bekerja dan bergantung kpd orgtua.. Syukron.

  3. di wilayah saya banyak sekali berdiri Koperasi Simpan Pinjam, dan masyarakat di sana memang membutuhkan sekali dengan adnya lembaga simpan pinjam….misal kopersi simpan pinjam di larang….nagaimana dg nasib masyarakat….apa nanti tdk terjerat dg lintah darat yg mnecekik leher…mohon solusinya…syukron..

  4. Bismillaah
    Afwan Ustadz, Bagaimana bila mendapatkan uang
    intensif sebagai pengurus untuk usaha koperasi? Sementara usaha yang dijalankan koperasi itu bercampur antara Simpan Pinjam dengan Usaha riil (Menjadi kontraktor pengadaan barang dan Jasa). Sementara Pendapatan terbesarnya dari usaha riil. Jazzakallahu Khoir

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here