Muamalah

Matan Taqrib: Seputar Hukum Riba dan Jual Beli Terlarang

Kali ini dalam matan taqrib dikaji mengenai seputar hukum riba dan jual beli terlarang.

 

 

Al-Qadhi Abu Syuja rahimahullah menyebutkan dalam Matan Taqrib sebagai berikut,

الرِّبَا:

وَالرِّبَا فِي الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ وَالمَطْعُوْمَاتِ وَلاَ يَجُوْزُ بَيْعُ الذَّهَبِ بِالذَّهَبِ وَالفِضَّةِ كَذَلِكَ إِلاَّ مُتَمَاثِلاً نَقْدًا وَلاَ بَيْعُ مَا ابْتَاعَهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ وَلاَ بَيْعُ اللَّحْمِ بِالحَيَوَانِ وَيَجُوْزُ بَيْعُ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ مُتَفَاضِلاً نَقْدًا وَكَذَلِكَ المَطْعْوُمَاتِ لاَ يَجُوْزُ بَيْعُ الجِنْسِ مِنْهَا بِمِثْلِهِ إِلاَّ مُتَمَاثِلاً نَقْدًا وَيَجُوْزُ بَيْعُ الجِنْسِ مِنْهَا بِغَيْرِهِ مُتَفَاضِلاً نَقْدًا وَلاَ يَجُوْزُ بَيْعُ الغَرَرِ.

Riba berlaku pada emas, perak, dan bahan makanan. Tidak boleh menjual emas dengan emas, begitu juga perak dengan perak kecuali dengan harga semisal dan dibayar tunai.

Seseorang tidak boleh menjual barang yang dia beli sampai dia menerimanya. Begitu juga, tidak boleh menjual daging dengan hewannya yang masih hidup.

Boleh menjual emas dengan perak dalam nilai berbeda, asalkan dibayar tunai.

Begitu juga dengan makanan. Tidak boleh menjual makanan dengan makanan sejenis kecuali jika sebanding dan dibayar tunai. Boleh menjual makanan dengan makanan jenis lainnya jika nilainya berbeda dan dibayar tunai.

Tidak boleh melakukan jual beli gharar.

 

SEPUTAR HUKUM RIBA

Riba secara bahasa berarti az-ziyadah, yaitu tambahan.

Riba secara istilah syari adalah:

مُقَابَلَةُ عِوَضٍ بِآخَرَ مَجْهُوْل التَّمَاثُلِ فِي مِعْيَارِ الشَّرْعِ حَالَةَ العَقْدِ، أَوْ مَعَ تَأْخِيْرٍ فِي العِوَضَيْنِ،

Saling menukar barang dengan yang lain yang tidak diketahui kesamaannya menurut standar syari pada saat akad, atau dua barang yang ditukar mengalami takhir (keterlambatan) atau salah salah satunya telat.

 

Hukum riba itu haram.

Riba itu terjadi pada:

  1. Emas
  2. Perak
  3. Math’uumaat (makanan), yaitu makanan yang dimaksudkan secara umum untuk makanan baik sebagai iqtiyaatan (makanan pokok), tafakkuhan (buah-buahan), atau tadawiyan (obat-obatan).

Selain tiga barang di atas tidak berlaku aturan hukum riba.

 

Aturan tukar menukar barang ribawi:

  1. Menukar emas dan emas, juga perak dan perak, harus: (1) mutamatsilan (sama) dan (2) naqdan (tunai, tidak ada yang terlambat).
  2. Menukar emas dan perak, boleh mutafaadhilan (berlebih ukurannya), tetapi harus: naqdan (haalan, seketika itu juga; qabdh, serah terima saat itu sebelum berpisah).
  3. Menukar sesama makanan yang sejenis, harus: (1) mutamatsilan (sama) dan (2) naqdan (tunai, tidak ada yang terlambat).
  4. Menukar makanan dengan yang beda jenis, boleh mutafaadhilan (berlebih ukurannya), tetapi harus: naqdan (haalan, seketika itu juga; qabdh, serah terima saat itu sebelum berpisah).

 

Jika antara penjual dan pembeli terpisah sebelum qabdh (serah terima) semuanya, akadnya jadi batal. Namun, jika baru diserahkan sebagian, maka tafriqus shofqoh, sebagian akadnya sah, sebagian yang lain tidak.

 

Riba ada empat macam:

  1. Riba al-fadhl: riba pada dua barang ribawi sejenis dengan adanya penambahan pada salah satu dari dua barang ribawi.
  2. Riba al-yadd: riba pada dua barang ribawi dengan adanya keterlambatan qabdh (serah terima) pada kedua barang ribawi atau salah satunya.
  3. Riba an-nasaa’ (nasiah): riba pada dua barang ribawi dengan adanya penundaan.
  4. Riba al-qardh: setiap utang piutang yang mendatangkan manfaat pada yang memberikan pinjaman (al-muqridh).

 

Syarat sahnya jual beli barang ribawi (naqdain dan math’umaat)

  1. Mutamatsilan (sama ukuran) untuk barang yang sejenis. Kalau tidak terpenuhi, maka terjatuh dalam riba al-fadhl.
  2. Hulul (tunai), tidak boleh ada yang tertunda. Kalau terjadi penundaan, maka tidaklah sah dan terjatuh dalam riba an-nasaa’.
  3. Taqobudh (serah terima di majelis akad). Kalau berpisah tanpa adanya qabdh, tidaklah sah walaupun tidak diberi syarat tertunda.

 

Yang dilarang lagi adalah:

  1. Barter daging dan hewan, baik dari sejenis (misal daging kambing dan kambing) atau beda jenis tetapi sama-sama ma’kul (dimakan), seperti jual beli daging sapi dan satu kambing.
  2. Menjual yang telah dibeli sebelum diterima, baik ia mau menjualnya lagi pada penjual atau pada yang lain.
  3. Jual beli gharar, seperti menjual budak dari beberapa budak atau menjual burung yang masih di udara.

 

Hukum jual beli online

Hukumnya sama dengan bai’ al-ghaib ‘ala ash-shifat, yaitu jual beli sesuatu yang tidak terlihat secara fisik, tetapi diterangkan mengenai sifat-sifatnya (spesifikasinya). Hukum jual beli seperti ini adalah halal karena hukum asal jual beli demikian. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

 

Referensi:

Diambil dari Fathul Qarib, Al-Imta’ bi Syarh Matn Abu Syuja’, dan Tashilul Intifa’ bi Matan Abi Syuja’ wa Syai’ Mimma Tata’allaq bihi Min Dalil wa Ijma’.

 

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Baca Juga: Matan Taqrib: Jual Beli Gharar

Artikel yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button