Home Teladan Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Peristiwa Sesampainya Nabi di Madinah

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Peristiwa Sesampainya Nabi di Madinah

2136
0

Sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, banyak pelajaran penting yang bisa diambil. Kami sarikan dari Fiqh As-Sirah sebagai berikut.

Pertama:

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka rela keluar di pagi hari untuk menunggu kedatangan beliau. Jika bukan karena teriknya matahari, niscaya mereka tidak akan kembali ke rumah mereka.

Kecintaan mereka pun nampak dari perkataan Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, “Saya tidak pernah melihat penduduk Madinah merasa gembira seperti gembiranya mereka menyambut kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 3932)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 44)

 

Kedua:

Keluarnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyambut kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, merupakan sebuah isyarat perintah untuk menyambut orang-orang besar, menghormati, dan memuliakannya, seperti para pemimpin atau orang tua. Semua itu adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

جَاءَ شَيْخٌ يُرِيدُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَأَبْطَأَ الْقَوْمُ عَنْهُ أَنْ يُوَسِّعُوا لَهُ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا ».

“Ada seorang kakek datang dan ingin menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka melapangkan jalan untuknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak-anak dan tidak menghormati orang tua.” (HR. Tirmidzi, no. 1919. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Awal Hijrah Nabi ke Madinah

Ketiga:

Ketika sahabat radhiyallahu ‘anhum mengetahui keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah, mereka bergegas keluar untuk menyambutnya dan diiringi dengan suara takbir karena gembira. Kebiasaan seorang muslim adalah ketika ada sesuatu yang menggembirakan dan mengagumkan, mereka bertakbir (membaca Allahu Akbar) dan bertasbih (membaca sub-haanallah). Sebagaimana bertakbirnya para sahabat dengan keislaman Umar radhiyallahu ‘anhu.

 

Keempat:

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Quba’, beliau singgah di rumah Kaltsum bin Al-Hadam, karena ia sebagai pemuka dan tokoh dari kabilahnya. Hal ini sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap orang tua, serta bentuk akhlak (adab) baik yang semestinya tidak boleh hilang dari hati orang-orang muslim.

Baca Juga: Faedah Sirah Nabi: Mulai dari Membangun Masjid Quba

Kelima:

Etika yang bagus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pemuka Kabilah Anshar yang ditemuinya ketika beliau dalam perjalanan antara Quba’ dengan Madinah. Mereka mempersilakan untuk singgah di tempat mereka dan mereka siap memberi pertolongan dan bantuan. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon maaf kepada semua dengan mengatakan, “Biarkanlah unta tersebut menentukan pilihannya.” Begitu juga ketika beliau sampai di Madinah, beliau dimintakan dan dipersilakan oleh sebagian sahabat untuk singgah di tempatnya, beliau menjawab, “Dia (yakni beliau sendiri) akan singgah di mana kendaraannya berhenti.” Ungkapan seperti ini tidak akan melukai atau menyakiti hati si penawar, bukan pula sebagai bentuk ketidaksukaan beliau untuk menyinggahi tempat mereka. Itulah akhlak beliau yang sangat agung dan mulia, seperti digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

 

Keenam:

Peristiwa ini menunjukkan akan keutamaan Abu Ayyub Al-Anshari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di rumahnya hingga beliau selesai membangun rumahnya lalu kemudian pindah.

 

Ketujuh:

Ketika sampai di kota Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu membangun masjid, kemudian rumahnya sendiri. Hal ini menunjukkan:

  1. Pentingnya masjid dalam Islam.
  2. Pentingnya shalat berjamaah di masjid.
  3. Keutamaan membangun masjid.

 

Kedelapan:

Kerja sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat dalam membangun masjid. Hal ini menunjukkan tentang ketawadhu’an beliau. Bahkan, beliau pun memikul sendiri batu bata. Selain itu, beliau membantu para sahabat dalam pekerjaan tersebut, karena keinginan beliau supaya tegaknya masjid, beliau bekerja keras bagaikan orang upahan.

 

Kesembilan:

Kerja sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat dalam membangun masjid menggambarkan teladan yang baik dalam setiap aktivitas kerja. Oleh karena itu, bagi setiap individu muslim apabila menyuruh seseorang kepada kebaikan, hendaklah ia menjadi orang pertama yang melakukannya. Begitu juga ketika menyuruh seseorang untuk meninggalkan sesuatu, hendaklah ia menjadi orang pertama yang meninggalkannya.

Baca Juga:

Referensi:

Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.

 

 


 

Disusun di Darush Sholihin, 6 Jumadats Tsaniyyah 1441 H (31 Januari 2020)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

 

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here