Home Akhlaq Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan Jenis

Hukum Mengucapkan Salam kepada Lawan Jenis

1646
0

Bagaimana hukum mengucapkan salam kepada lawan jenis? Boleh ataukah tidak?

Kumpulan Hadits Kitab Riyadhush Sholihin karya Imam Nawawi

Kitab As-Salam

بَاب ُسَلاَمُ الرَّجُلِ عَلَى زَوْجَتِهِ وَالمرْأَةِ مِنْ مَحَارِمِهِ وَعَلَى أَجْنَبِيَةٍ وَأَجْنَبِيَاتٍ لاَ يَخَافُ الفِتْنَة بِهِنَّ وَسَلاَمِهِنَّ بِهَذَا الشَّرْطِ

Bab 137. Salam Laki-Laki kepada Istrinya, Perempuan Mahramnya, Seorang atau Lebih Perempuan yang Bukan Mahramnya yang Ia Tidak Khawatir Menjadi Fitnah (Ujian) bagi Mereka, dan Salam Mereka kepada Laki-Laki dengan Syarat Tersebut (Tidak Menjadi Fitnah)

 

Hadits #863

عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَتْ فِينَا امْرَأةٌ – وَفِي رِوَايَةٍ : كَانَتْ لَنَا عَجُوزٌ – تَأخُذُ مِنْ أصُولِ السِّلْقِ فَتَطْرَحُهُ فِي القِدْرِ ، وَتُكَرْكِرُ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيرٍ ، فَإذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ ، وَانْصَرَفْنَا ، نُسَلِّمُ عَلَيْهَا ، فَتُقَدِّمُهُ إلَيْنَا . رَوَاهُ البُخَارِي.

قَوْله : (( تُكَرْكِرُ )) أيْ : تَطْحَنُ.

Sahl bin Sa’ad berkata, “Di antara kami ada seorang perempuan—dalam riwayat lain disebutkan, di antara kami ada seorang nenek—yang biasa mengambil pokok silq (nama tumbuhan) lalu meletakkannya di dalam panci, dan ia menumbuk biji-biji gandum. Apabila kami telah selesai melaksanakan shalat Jumat dan pulang, kami sering mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menyuguhkan makanan tersebut kepada kami.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6248]. Makna dari “tukarkiru” adalah tath-hanu, artinya menggiling.

 

Faedah Hadits

  1. Perintah untuk menyebar ke muka bumi bakda shalat Jumat, hukumnya adalah boleh.
  2. Disunnahkan mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan baik, walau jumlahnya sedikit.
  3. Boleh mengucapkan salam kepada wanita bukan mahram, asal aman dari godaan.
  4. Sifat sahabat itu qana’ah, pekerja keras, dan bersegera melakukan ketaatan kepada Allah.

 

Hadits #864

وَعَنْ أُمِّ هَانِىءٍ فَاخِتَةَ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ الفَتْحِ وَهُوَ يَغْتَسِلُ ، وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ بِثَوْبٍ ، فَسَلَّمْتُ … وَذَكَرَتِ الحَدِيْثَ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Ummu Hani’ Fakhitah binti Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Fathu Makkah. Saat itu, beliau sedang mandi dan Fathimah menutupi beliau dengan sehelai pakaian. Maka aku mengucapkan salam, lalu ia pun mengucapkan hadits tersebut (secara lengkap).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 336]

 

Faedah Hadits

Boleh pria mengucapkan salam kepada wanita selama aman dari godaan.

 

Hadits #865

وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيْدَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : مَرّ عَلَيْنَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي نِسْوَةٍ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا . رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِي ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ )) ، وَهَذَا لَفْظُ أَبِي دَاوُدَ.

وَلَفْظُ التِّرْمِذِي : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ فِي المَسْجِدِ يَوْماً ، وَعُصْبَةٌ مِنَ النِّسَاءِ قُعُودٌ ، فَأَلْوَى بِيَدِهِ بالتَّسْلِيمِ.

Asma’ binti Yazid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati kami, sekelompok perempuan. Lantas beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan. Lafazhnya adalah milik Abu Daud).

Tirmidzi mengatakan, haditsnya hasan. Dan hadits ini adalah berdasarkan lafazh Abu Daud. Sedangkan lafazh Tirmidzi yaitu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari lewat di masjid, sekelompok perempuan sedang duduk-duduk. Maka, beliau melambaikan tangannya dengan (mengucapkan) salam.”

 

Faedah Hadits

  1. Bolehnya wanita itu duduk-duduk bersama wanita lainnya di tempat yang tidak menimbulkan godaan atau menimbulkan mudarat bagi orang yang lewat.
  2. Boleh mengucapkan salam pada wanita.

Baca Juga:

Referensi:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kedua.

 


Disusun di DarushSholihin, malam 8 Shafar 1441 H

Oleh yang selalu mengharapkan ampunan Allah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here