Home Teladan Faedah dari Sopir Taxi yang Rajin Menghafal Al Qur’an

Faedah dari Sopir Taxi yang Rajin Menghafal Al Qur’an

813
20

Baru kali ini ketika naik taxi, kami mendapatkan suasana berbeda. Di dalam taxi kami hanya sekitar 10 menit, namun banyak faedah yang bisa digali dari waktu yang singkat itu. Kisah ini saat kami studi di Saudi.

Sopir ini pertama kali membaca surat Yusuf pada ayat-ayat yang berbicara tentang saudara-saudara Yusuf yang menceritakan pada ayah mereka bahwa Yusuf telah dimakan serigala.

Kami lantas bertanya, “Engkau menghafalkan Al Qur’an?” “Ia betul”, jawabnya.  “Berapa juz yang engkau hafal?”, tanya kami kembali. “Lima juz”, jawabnya. Ia menambahkan, “Namun saya  hanya menghafalkannya di taxi.”  “Masya Allah, itu sudah luar biasa”, tutur kami. Lantas setelah itu kami bertanya mengenai asal daerahnya. Ia menjawab bahwa ia berasal dari Ethiopia (negeri Habasyah).

Dahulu, di Habasyah terdapat raja Najasyi yang masuk Islam dan mati di tengah-tengah orang Nashrani. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ghaib untuk raja tersebut.

Kami pun bertanya apa bahasa yang digunakan di Ethiopia. Ia menjawab ada dua bahasa. Satunya adalah bahasa Ethiopia dan bahasa daerah di sana. Kami pun kagum dengan bahasa Arabnya yang fasih. Ia menjawab bahwa yang bisa berbahasa Arab di Ethiopia hanyalah orang-orang yang pernah belajar. Ia pun sendiri lulusan syari’ah di Ethiopia. Di dalam taxi pun ia memberikan nasehat-nasehat berharga kepada kami tentang hafalan Qur’an dengan menyebutkan kalam Imam Syafi’i.

Pertemuan yang amat singkat, namun membuatku sangat terkesan. Ada beberapa faedah yang bisa kami ambil dari perjumpaan dengan sopir tersebut:

Pertama: Siapa pun bisa menghafalkan Al Qur’an tergantung dengan kemauan dirinya. Kita lihat saja seorang sopir yang begitu sibuk bisa sempat menghafal Al Qur’an.

Kedua: Kesibukan kita bisa diisi dengan menghafal Al Qur’an. Di sela-sela pekerjan sebenarnya bisa kita isi dengan memutar kaset murothal dan kita simak. Lama kelamaan kita pun bisa menghafalnya.

Ketiga: Tidak ada alasan untuk menghafal Al Qur’an apa pun kesibukan kita, mau sopir, pembantu rumah tangga, pekerja kantor ataukah seorang mahasiswa.

Keempat: Isilah waktu-waktu senggang dengan hal bermanfaat, sempatkan untuk menghafalkan Al Qur’an.

Kelima: Profesi apa pun bisa saja menjadi hafiz Al Qur’an dengan izin Allah, tidak mesti dipersyaratkan cerdas.

Keenam: Waktu luang juga sempatkan untuk berdakwah dan memberi nasehat pada orang lain. Semisal sopir taxi tadi saat kerja pun masih menyempatkan diri untuk memberikan nasehat pada hamba yang penuh kekurangan ilmu ini.

Ketujuh: Walau sedikit dari Al Qur’an yang baru dihafal, namun yang penting kontinu dan istiqomah dalam menghafal dan mengulang-ngulangnya.

Walau 10 menit, faedah di atas sungguh membangkitkan jiwa ini. Sungguh benar kata para ulama, jika kita bertemu dengan orang sholeh, hati pun menjadi tenang. Gundah gulana pun akan sirna.

Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ

Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.[1] Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang sholih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang sholih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang sholih lainnya.

‘Abdullah bin Al Mubarok mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”

Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.”[2]

Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.[3]

Semoga faedah dan teladan yang kami torehkan ini semakin menyemangati kami dan pembaca sekalian untuk gemar menghafal Al Qur’an dan menjadi lebih baik hari demi hari.

Silakan simak Keutamaan Menjadi Penghafal Al Qur’an.

Wallahu waliyyut taufiq.

 

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 10 Shafar 1433 H

www.rumayhso.com

 


[1] Siyar A’lam An Nubala’, 8/435, Mawqi’ Ya’sub.

[2] Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas,  Sayyid bin Husain Al ‘Afani, hal. 466, Darul ‘Affani, cetakan pertama, tahun 1421 H

[3] Lihat Shahih Al Wabilush Shoyyib, antara hal. 91-96, Dar Ibnul Jauziy

20 COMMENTS

  1. assalammualaikum saya ingin bertanya ..??
    gimana menurut pandangan islam ketika kita berhubungan dengan istri dengan cara menjilati kemaluannya agar istri kelihatan bergairah dan bersemangat …??? mohon penjelasannya terimakasih
    wassalammualaikum Wr.Wb

  2. Apakah dibolehkan bagi laki-laki -yang punya kekurangan ejakulasi dini- menggunakan ‘obat kuat’ untuk menyetubuhi istrinya?

  3. ustadz..saya mau bertanya mengenai politik. saya masih belum paham mengenai bagaimana seharusnya islam memandang perpolitikan. saya tidak mendukung adanya sistem per-partaian di indonesia, namun disisi lain..jika tidak ada orang yang faham dan mengerti tentang islam di kalangan parlemen dan akhirnya yang menguasai indonesia adalah orang-orang yang sekuler, dapat dibayangkan apa yang akan terjadi di negeri ini.

    seperti apakah politik yang pernah dilakukan oleh Rasullulah, para shahabat, dan para shalafusholeh?seperti apakah perpolitikan yang diridhoi Alloh?bagaimana dengan kondisi negeri kita yang tidak dinaungi oleh syariah islam?saya yakin masih baynyak orang-orang yang masih belum faham tentang hal ini. dan bila berkenan, saya meminta kepada ustadz agar dapat membuat artikel mengenai hal ini.

    mohon penjelasannya ustadz, jazakalloh khoiran katsiran

  4. misalkan ada suami yg memaksa utk melakukan jima padahal istri dlam keadaan haidh apa yg harus di lakukan sang istri? terima kasih 

    • Lihat hadits berikut:
      Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
      ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai
      sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau
      tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?”  
      (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul
      bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haid di atas sarungnya”.
      Artinya di selain tempat keluarnya darah haid atau selain kemaluannya.

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here