Beranda Belajar Islam Teladan Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Wafatnya Paman Nabi Abu Thalib #01

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Wafatnya Paman Nabi Abu Thalib #01

146
0

 

Apa saja pelajaran yang bisa diambil dari kisah meninggalnya Abu Thalib?

 

Pertama: Kisah tersebut menunjukkan agungnya kalimat tauhid laa ilaha illallah yang di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menginginkan pamannya mengucapkannya. Kalimat tersebut berisi kandungan agar kita mentauhidkan Allah dalam ibadah. Siapa saja yang mentauhidkan Allah, maka berarti ia telah bebas dari menjadi budak pada makhluk.

Kedua: Orang-orang musyrik sudah paham bahwa kalimat laa ilaha illallah punya konsekuensi untuk menjadikan sesembahan hanya satu yaitu Allah Sang Khaliq. Orang musyrik paham akan hal ini, maka mereka enggan untuk mengucapkan kalimat mulia tersebut karena konsekuensi dari kalimat tersebut adalah harus meninggalkan kesyirikan walau itu sudah menjadi budaya yang turun temurun ada. Orang musyrik pada masa jahiliyah lebih paham kalimat tersebut daripada orang yang saat ini mengaku muslim dengan mengucapkan kalimat laa ilaha illallah namun menjadikan kubur sebagai tempat untuk bertawaf, berdoa pada kubur, mereka khawatir mendapatkan celaka, dan mengharap manfaat dari penghuni kubur tersebut. Bahkan ada yang bertawaf keliling kubur sambil mengucapkan kalimat laa ilaha illallah dan tidak mengetahui kalau perbuatannya bertolak belakang dengan kalimat tauhid tersebut. Siapa yang bertauhid, maka ia akan selamat. Lalu siapa yang berbuat syirik, maka ia akan sengsara sebagaimana disebutkan dalam ayat,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 48).

Dalam Fath Al-Majid (hlm. 70), Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah berkata, “Syirik adalah dosa yang amat besar karena Allah sampai mengatakan bahwa Dia tidak akan mengampuninya bagi siapa yang tidak bertaubat dari dosa syirik tersebut. Sedangkan dosa di bawah syirik, maka itu masih di bawah kehendak Allah (masyiah). Jika Allah kehendaki ketika ia berjumpa dengan Allah, maka bisa diampuni. Jika tidak, maka ia akan disiksa. Jika demikian seharusnya seseorang begitu takut terhadap syirik karena besarnya dosa tersebut di sisi Allah.”

 

Ketiga: Apa hikmahnya Abu Thalib tetap dalam keadaan kafir ketika maut menjemput?

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Seandainya Abu Thalib masuk Islam, maka tentu ia tidak bisa mencegah kaumnya ketika mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Ia bela keponakannya sesuai dengan kemampuannya, baik dengan perbuatan, dengan perkataan, dengan jiwa, dan dengan harta. Akan tetapi ia tidak diberi hidayah iman. Ada hikmah yang besar di balik itu semua. Kita hanyalah bisa beriman dan taslim (pasrah) akan keadaan ini. Seandainya Allah tidaklah melarang untuk memintakan ampun pada orang musyrik, tentu kita akan tetap berdoa kepada Allah agar Abu Thalib diampuni dan mendoakan rahmat untuknya.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 4:315)

 

Keempat: Persahabatan dengan teman yang buruk akan membawa kita sesat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا, يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا, لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِيۗوَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 27-29)

 

Kelima: Di antara sebab suul khatimah adalah karena pengaruh teman yang buruk, serta berusaha mempertahankan budaya dan tradisi yang rusak. Dalam riwayat Imam Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi disebutkan, “Seandainya aku tidak khawatir kaum Quraisy akan mencela diriku, niscaya aku senangkan engkau dengan mengucapkan kalimat syahadat itu.”

 

Keenam: Ketentuan baik dan buruknya seseorang adalah pada akhir hayatnya. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)

 

Ketujuh: Bahaya taklid buta (fanatik) kepada nenek moyang dan mengikuti semua tradisi dan budaya mereka tanpa memerhatikan batasan-batasan syar’i. Yang selalu jadi alasan orang Jahiliyah dapat dilihat pada ayat,

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka“.” (QS. Az-Zukhruf: 22)

Dalam ayat lain disebutkan,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (QS. Al-Baqarah: 170).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Setiap orang yang tidak mengikuti dalil Al-Quran dan As-Sunnah, enggan menaati Allah dan Rasul-Nya lalu berpaling pada adat dan tradisi nenek moyang dan masyarakat yang ada. Itulah yang disebut orang Jahiliyyah dan layak mendapat celaan. Begitu pula orang yang sudah jelas baginya kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya lantas ia berpaling pada adat istiadat, itulah orang-orang yang berhak mendapatkan celaan dan hukuman.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 20:225).

Masih berlanjut dengan pelajaran dari wafatnya Abu Thalib lainnya insya Allah. Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

  1. Al-Bidayah wa An-Nihayah. Cetakan Tahun 1436 H. Al-Hafizh Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi. Penerbit Dar ‘Alamil Kutub.
  2. Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.
  3. Fath Al-Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Cetakan Tahun 1423 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh. Tahqiq: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz. Penerbit Darul Hadits.
  4. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, Tahun 1432 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul Wafa’ dan Ibnu Hazm.

Disusun di Perpustakaan Rumaysho di Panggang Gunungkidul, 19 Jumadal Ula 1440 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc.

Artikel Rumaysho.Com

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini