Beranda Hukum Islam Shalat Bulughul Maram – Shalat: Waktu Shalat yang Lima Waktu

Bulughul Maram – Shalat: Waktu Shalat yang Lima Waktu

362
0

 

Bagaimanakah kita mengenal waktu shalat yang lima waktu? Caranya bisa pelajari dari hadits-hadits dari kitab Bulughul Maram yang disebutkan berikut ini.

 

Serial #01

Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani

Kitab Shalat – Bab Al-Mawaqit (Waktu Shalat)

[Standar penomoran hadits Bulughul Maram memakai rujukan kitab Minhah Al-‘Allam karya Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan]

 

Hadits #151 – 153

 

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ نَبِيَّ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – وَقْتُ اَلظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ اَلشَّمْسُ, وَكَانَ ظِلُّ اَلرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرْ اَلْعَصْرُ, وَوَقْتُ اَلْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ اَلشَّمْسُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبْ اَلشَّفَقُ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اَللَّيْلِ اَلْأَوْسَطِ, وَوَقْتُ صَلَاةِ اَلصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ

اَلْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعْ اَلشَّمْسُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَلَهُ مِنْ حَدِيثِ بُرَيْدَةَ فِي اَلْعَصْرِ: – وَالشَّمْسُ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ

وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: – وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waktu Zhuhur dimulai sejak matahari sudah tergelincir sampai bayang-bayang seseorang sama dengan tingginya selama belum masuk waktu Ashar. Waktu shalat Ashar selama matahari cahayanya belum menguning. Waktu shalat Maghrib selama syafaq (cahaya merah) belum hilang. Waktu shalat Isya’ hingga pertengahan malam dan waktu shalat Shubuh dimulai dari terbitnya fajar sampai terbitnya matahari.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 612, 173]

Dalam riwayat Muslim dari hadits Buraidah yang menceritakan tentang waktu shalat Ashar, “Dan sinar matahari masih putih bersih.” [HR. Muslim, no. 613]

Dan dalam hadits riwayat Abu Musa, “Dan matahari masih tinggi.” [HR. Muslim, no. 614]

 

Faedah Hadits

 

  1. Waktu shalat Zhuhur adalah dari tergelincirnya matahari (waktu zawal) hingga sampai bayang-bayang seseorang sama dengan tingginya.
  2. Hadits ini jadi dalil waktu shalat Ashar dimulai ketika waktu shalat Zhuhur berakhir, tidak ada waktu pemisah, dan tidak waktu isytirok (bersekutu).
  3. Waktu shalat Ashar ikhtiyari (pilihan) masih berlaku selama matahari masih putih cerah. Ketika matahari menguning, maka berakhir waktu ikhtiyari untuk shalat Ashar. Setelah itu berlaku waktu shalat Ashar darurat (dhoruri) sampai tenggelam matahari sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mendapati satu rakaat dari shalat Ashar sebelum matahari tenggelam berarti ia telah mendapati waktu Ashar.” (HR. Bukhari, no. 579 dan Muslim, no. 608). Waktu darurat ini berlaku mereka yang memiliki uzur seperti bagi wanita haidh yang baru suci, orang kafir yang baru masuk Islam, orang yang tidur dan baru terbangun, orang yang pingsan dan baru sadar, serta orang yang terluka parah dan sibuk mengurus lukanya. Mereka-mereka ini boleh shalat Ashar meskipun matahari sudah menguning, dan dianggap shalatnya dikerjakan ada’an (pada waktunya).
  4. Waktu shalat Maghrib dimulai sejak matahari tenggelam sampai cahaya merah di ufuk belum hilang. Waktu Maghrib ini berlaku sekitar 75 – 90 menit.
  5. Waktu shalat Isya dimulai dari cahaya merah di ufuk menghilang hingga pertengahan malam (dihitung dari waktu Maghrib hingga waktu Shubuh).
  6. Waktu shalat Shubuh berlaku mulai dari terbit fajar kedua (fajar shadiq) hingga matahari terbit. Waktu shalat Shubuh ini tidak bersambung dengan shalat sebelum atau shalat sesudahnya.

 

Penyebutan Waktu Shalat dalam Al-Quran

 

Allah Ta’ala berfirman,

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78).

Kesimpulannya ada tiga waktu shalat:

Waktu pertama yang disebutkan adalah waktu ‘duluk’. Yang dimaksudkan adalah waktu setelah matahari tergelincir mengarah ke arah barat (arah matahari tenggelam). Adapun yang dimaksud dengan waktu pertama adalah shalat Zhuhur yang berada di awal waktu duluk dan shalat Ashar yang berada di akhir waktu duluk.

Waktu kedua adalah ‘ghasaqil lail’. Yang dimaksudkan adalah gelap malam. Shalat yang dikerjakan di awal ghasaq adalah shalat Maghrib, sedangkan di akhirnya adalah shalat Isya.

Waktu ketiga adalah waktu fajar. Disebut dalam ayat dengan “Qur-anal Fajri”, yang dimaksud adalah shalat fajar (shalat Shubuh). Shalat Shubuh disebut qur-anal fajri karena saat Shubuh adalah waktu yang disunnahkan untuk memperlama bacaan Al Quran. Keutamaan membaca Al Quran saat itu karena disaksikan oleh Allah, oleh malaikat malam dan malaikat siang.

 

Hadits #154 – 156

 

وَعَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّيَ اَلْعَصْرَ, ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إِلَى رَحْلِهِ فِي أَقْصَى اَلْمَدِينَةِ وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ, وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ مِنْ اَلْعِشَاءِ, وَكَانَ يَكْرَهُ اَلنَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا, وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ اَلْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ اَلرَّجُلُ جَلِيسَهُ, وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى اَلْمِائَةِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَعِنْدَهُمَا مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ: – وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا: إِذَا رَآهُمْ اِجْتَمَعُوا عَجَّلَ, وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ, وَالصُّبْحَ: كَانَ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ

وَلِمُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى: – فَأَقَامَ اَلْفَجْرَ حِينَ اِنْشَقَّ اَلْفَجْرُ, وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا

Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seusai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat Ashar, salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya yang terletak di pinggir kota Madinah dan saat itu matahari masih sangat panas terik. Beliau suka mengakhirkan shalat Isya, tidak menyukai tidur sebelumnya dan berbincang-bincang setelahnya. Beliau pulang dari shalat Shubuh saat seseorang dapat mengenali siapa yang duduk di sampingnya. Beliau membaca sekitar 60 hingga 100 ayat Al-Qur’an pada shalat Shubuh.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 547, 640]

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, “Adapun shalat Isya, terkadang beliau segerakan dan terkadang beliau akhirkan. Jika beliau melihat orang-orang sudah berkumpul maka beliau  segerakan dan jika beliau lihat orang-orang lambat berkumpul maka beliau pun menundanya. Shalat Shubuh beliau laksanakan ketika masih gelap.” [HR. Bukhari, no. 560 dan Muslim, no. 646]

Dalam riwayat Muslim dari Abu Musa, “Beliau melaksanakan shalat Shubuh ketika fajar menyingsing sementara orang-orang hampir tidak mengenali satu dengan yang lain.” [HR. Muslim, no. 614]

 

Faedah Hadits

 

  1. Disunnahkan menyegerakan shalat Ashar pada awal waktu karena para sahabat shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu Ashar dan balik ke rumahnya di ujung kota Madinah dan keadaan putih cerah dan panas.
  2. Boleh mengakhirkan shalat Isya dari awal waktunya dengan memperhatikan kondisi jamaah seperti disebutkan dalam hadits Jabir.
  3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memperhatikan kondisi umatnya kala shalat, termasuk ketika mau menyegerakan atau mengakhirkan shalat Isya.
  4. Dimakruhkan tidur sebelum Isya karena dapat melalaikan dari shalat Isya berjamaah.
  5. Dilarang begadang dan ngobrol-ngobrol bada Isya, karena sulit nantinya melaksanakan shalat malam dan shalat Shubuh. Adapun begadang karena ada hajat seperti menuntut ilmu, melayani tamu, atau ada maslahat besar untuk kaum muslimin, maka dibolehkan.
  6. Disunnahkan mengerjakan shalat Shubuh pada awal waktu.
  7. Disunnahkan memperlama bacaan ketika shalat Shubuh.

 

Referensi:

  • Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Kedua.
  • Taysir Al-Lathif Al-Mannan.Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Darul ‘Ashimah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini