Beranda Belajar Islam Aqidah Syarhus Sunnah: Memahami Takdir #05

Syarhus Sunnah: Memahami Takdir #05

483
2

 

Masih memahami takdir lagi dari bahasan Imam Al-Muzani rahimahullah dalam Syarhus Sunnah.

 

Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,

لاَ يَمْلِكُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ نَفْعًا وَلاَ يَجِدُوْنَ إِلَى صَرْفِ المَعْصِيَةِ عَنْهَا دَفْعًا خَلَقَ الخَلْقَ بِمَشِيْئَتِهِ عَنْ غَيْرِ حَاجَةٍ كَانَتْ بِهِ

Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan, juga tidak mampu untuk menolak hal-hal yang bisa memalingkannya dari maksiat.

Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.

 

Untuk Taat dan Menjauhi Maksiat, Semua dengan Pertolongan Allah

 

Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan,

لاَ يَمْلِكُوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ مِنَ الطَّاعَةِ نَفْعًا وَلاَ يَجِدُوْنَ إِلَى صَرْفِ المَعْصِيَةِ عَنْهَا دَفْعًا

“Makhluk tidak mempunyai kekuasaan untuk mendapat manfaat dalam berbuat ketaatan, juga tidak mampu untuk menolak hal-hal yang bisa memalingkannya dari maksiat.”

Maksudnya adalah manusia tidak bisa melakukan ketaatan dan meraih manfaat melainkan dengan pertolongan Allah. Begitu pula tidak ada yang bisa selamat dari maksiat kecuali dengan pertolongan Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖوَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚوَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚوَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya.” (QS. Ar-Ra’du: 11)

Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang telah lewat,

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Ketahuilah sesungguhnya seandainya ada umat bersatu untuk memberikan satu manfaat kepadamu, mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Seandainya ada umat bersatu untuk memberikan mudarat kepadamu, mereka tidak bisa memberikan mudarat kepadamu kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Pena sudah diangkat dan lembaran catatan sudah kering.”(HR. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293, sanad hadits ini hasan).

Bahasan inilah yang dimaksud dalam kalimat hawqalah “laa hawla wa laa quwwata illa billah”. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuberkata tentang maksud kalimat tersebut yaitu,

لاَ حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلاَّ بِعِصْمَتِهِ، وَلاَ قُوَّةَ عَلَى طَاعَتِهِ إِلاَّ بِمَعُوْنَتِهِ

“Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.” (Syarh Shahih Muslim, 17:27).

 

Allah Menciptakan Kita, Namun Bukan Berarti Butuh pada Kita

 

Tentang takdir, pada kalimat terakhir, Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan,

خَلَقَ الخَلْقَ بِمَشِيْئَتِهِ عَنْ غَيْرِ حَاجَةٍ كَانَتْ بِهِ

“Allah menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya, bukan karena Allah butuh pada makhluk.”

Ini yang seperti Allah maksudkan dalam ayat,

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah: ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa’.” (QS. Ar-Ra’du: 16)

Allah menciptakan makhluk bukanlah butuh pada mereka. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖوَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚإِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ

Dan Rabbmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.” (QS. Al-An’am: 133)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِمَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِإِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)

Begitu juga dalam hadits menunjukkan bahwa Allah itu tidak butuh pada keimanan makhluk, dan juga kekuasannya tidak berkurang karena maksiat yang diperbuat manusia. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِى يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga. Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.” (HR. Muslim, no. 6737)

 

Pahami Dua Macam Iradah, Jadilah Benar dalam Memahami Takdir

 

Iradah (kehendak) ada dua macam yaitu iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah. Iradah kauniyyah sama dengan masyiah (kehendak). Iradah syar’iyyah sama dengan mahabbah (kecintaan Allah).

Iradah kauniyyah itu pasti terjadi namun belum tentu Allah cintai. Adapun iradah syar’iyyah itu belum tentu terjadi, namun jika terjadi pasti Allah cintai. Dapat kita katakan bahwa iradah syar’iyyah itu diharap oleh Allah, Allah ridha dan mencintai ketika terjadi.

Dalil adanya iradah kauniyyah adalah firman Allah,

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖوَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.”(QS. Ar-An’am: 125)

Dalil adanya iradah syar’iyyah adalah firman Allah,

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (QS. An-Nisaa’: 27)

Perbedaan iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah yaitu:

  1. Iradah kauniyyah bisa jadi Allah cintai dan tidak Allah cintai, sedangkan iradah syar’iyyah pasti Allah cintai.
  2. Iradah kauniyyah itu ada karena maksud lain. Seperti iblis dan setan diciptakan untuk menggoda manusia. Ketika tersesat, maka ada yang dapat petunjuk sehingga bertaubat dan banyak beristighfar kepada Allah. Sedangkan iradah syar’iyyah itu ada karena maksud dzatnya. Allah menginginkannya ada karena Allah mencintainya dan meridhainya.
  3. Iradah kauniyyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar’iyyah belum tentu terjadi.
  4. Iradah kauniyyah berkaitan dengan sifat rububiyah dan penciptaan, sedangkan iradah syar’iyyah berkaitan dengan sifat uluhiyah dan syariat Allah.

Contoh penerapan:

  1. Seseorang yang akhirnya taat atau masuk Islam terkumpul padanya iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah, seperti Umar bin Al-Khaththab itu masuk Islam. Terkumpul pada Umar bin Al-Khaththab dua iradah sekaligus. Ssesuai kenyataan Umar masuk Islam dan Allah ridha dengan keislamannya.
  2. Seseorang yang akhirnya terus kafir terkumpul padanya iradah kauniyyah saja, seperti kafirnya Fir’aun. Pada kenyataan Fir’aun itu kafir, maka ada padanya iradah kauniyyah. Namun kekafirannya tidak dicintai oleh Allah. Berarti ada pada Fir’aun ada iradah kauniyyah dan tidak ada iradah syar’iyyah.
  3. Orang kafir yang diharapkan Islamnya seperti diharapkan Islamnya Abu Lahab. Andai Abu Lahab itu masuk Islam, tentu akan disukai oleh Allah. Namun kenyataannya tidak terjadi. Berarti iradah syar’iyyah ada pada Abu Lahab namun sekadar harapan, dan itu tidak terjadi sehingga tidak ada iradah kauniyyah.

 

Semoga Allah memudahkan kita memahami takdir dengan benar. Insya Allah berlanjut dengan bahasan takdir yang masih jadi masalah di tengah kita. Ya Allah, berilah pertolongan dan kemudahan.

 

Referensi:

  1. AlIman bi Al-Qadha’ wa Al-Qadr. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Dr. Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd. Penerbit Dar Ibnu Khuzaimah.
  2. Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.
  3. Tamam AlMinnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. alukah.net.

Diselesaikan di Masjid Al-Ikhlas Karangbendo Jogja, Selasa sore, 10 Rabi’ul Akhir 1440 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini