Beranda Hukum Islam Shalat Hadits Di Balik Shalat Sunnah Fajar

Hadits Di Balik Shalat Sunnah Fajar

69
0

 

Ini beberapa hadits tentang shalat sunnah Fajar (qabliyah Shubuh) dari Kitab Riyadhus Shalihin (Kitab Al-Fadhail) karya Imam Nawawi.

 

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail, Bab 196. Pentingnya Dua Rakaat Shalat Sunnah Shubuh

 

Hadits #1100

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَدَعُ أَرْبعاً قَبْلَ الظُّهْرِ، ورَكْعَتَيْنِ قبْلَ الغَدَاةِ. رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak pernah meninggalkan empat raka’at qabliyah Zhuhur dan dua raka’at qabliyah Shubuh. (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 1182]

 

Faedah Hadits

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambiasa shalat qabliyah Zhuhur empat raka’at, kadang juga beliau mengerjakannya dua raka’at sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali hafizhahullahmengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamkadang melakukan empat raka’at, kadang melakukan dua raka’at.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambiasa menjaga shalat qabliyah Shubuh ketika mukim maupun safar.

 

Hadits #1101

وَعَنْهَا قَالَتْ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أشَدَّ تَعَاهُدَاً مِنهُ عَلَى رَكْعَتَي الفَجْرِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia menyatakan, “Tidak ada shalat yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsangat perhatikan selain dua raka’at qabliyah Shubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, 1169 dan Muslim, no. 724]

 

Faedah Hadits

  1. Shalat sunnah rawatib itu bertingkat-tingkat.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsangat perhatian dengan shalat sunnah qabliyah lebih dari shalat sunnah lainnya.
  3. Shalat sunnah fajar termasuk shalat sunnah, bukan wajib.

 

Hadits #1102

وَعَنْهَا عَنِ النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: “رَكْعَتاَ الفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنيَا وَمَا فِيْهَا “رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

وَفِي رِوَايَةٍ: “لَهُمَا أَحَبُّ إِليََّ مِنَ الدُّنْيا جَمِيْعاً”.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia menyatakan, “Dua rakaat shalat Sunnah Fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan, “Dua rakaat shalat Sunnah Fajar lebih aku sukai daripada dunia semuanya.” [HR. Muslim, no. 725]

 

Faedah Hadits

  1. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat sunnah Fajar dua raka’at.
  2. Apa saja yang Allah sediakan bagi hamba di surga (negeri yang kekal abadi) lebih baik dari dunia dan seisinya.
  3. Shalat itu jadi penyejuk mata bagi seorang mukmin karena dalam shalat itu ada ketenangan dan thuma’ninah.

 

Hadits #1103

وَعَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ بِلاَلِ بْنِ رَبَاحٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْهُ، مُؤَذِّنِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لِيُؤذِنَهُ بِصَلاةِ الغَدَاةِ، فَشَغَلتْ عَائشَةُ بِلاَلاً بِأَمْرٍ سَأَلَتْهُ عَنْهُ حَتىَّ أَصْبَحَ جِدًّا، فَقَامَ بِلاَلٌ فَآذَنَهُ بِالصَّلاةِ، وتَابَعَ أَذَانَهُ، فَلَمْ يَخْرُجْ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، فَلَمَّا خَرَجَ صَلَّى بِالنَّاسِ، فَأَخبَرهُ أَنَّ عَائِشَةَ شَغَلَتْهُ بِأَمْرٍ سَأَلَتْهُ عَنْهُ حَتَّى أَصْبَحَ جِدّاً، وأَنَّهُ أَبطَأَ عَلَيهِ بالخُرُوْجِ، فَقَال يَعْني النَّبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “إِنِّي كُنْتُ رَكَعْتُ رَكْعْتَي الفَجْرِ”فقالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّك أَصْبَحْتَ جِدًّا؟ فقالَ:”لَوْ أَصْبَحْتُ أَكْثَرَ مِمَّا أَصبَحْتُ، لرَكعْتُهُمَا، وأَحْسنْتُهُمَا وَأَجمَلْتُهُمَا” رَوَاهُ أَبو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

Dari Abu ‘Abdillah Bilal bin Rabah, muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukannya waktu shalat Shubuh. Namun, Aisyah membuat sibuk Bilal dengan satu hal yang ia minta sehingga waktu sudah pagi sekali. Lantas Bilal berdiri kemudian memberitahukan waktu shalat dan diikuti oleh azannya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum keluar. Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, beliau shalat mengimami orang-orang.

Setelah itu, Bilal memberitahukan beliau bahwa ‘Aisyah telah menyibukkan dirinya dengan satu permintaannya sehingga waktu sudah pagi sekali dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lambat untuk keluar. Maka beliau berkata, “Aku melaksanakan shalat dua rakaat qabliyah Shubuh dahulu.” Bilal lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah memasuki waktu pagi sekali?” Beliau berkata, “Seandainya aku lebih terlambat dari tadi pagi, aku pasti melaksanakan shalat dua raka’at tersebut, serta menyempurnakan dan membaguskannya.” (HR. Abu Daud, dengan sanad hasan) [HR. Abu Daud, no. 1257. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih]

 

Faedah Hadits

  1. Boleh berbicara pada seorang wanita dan bertanya kepadanya ketika dibutuhkan.
  2. Bilal benar-benar memuliakan isti Nabi, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Ia benar-benar mendengar apa yang dikatakan Aisyah sampai memenuhi hajatnya dan tidak mengingkarinya.
  3. Boleh mengabarkan ada orang yang membuat kita jadi tersibukkan diri, tetap menyampaikan tetap dengan cara yang halus.
  4. Hendaklah para jamaah tetap menunggu imam sampai imam datang selama tidak luput dari waktu shalat.
  5. Boleh saja muadzin meminta imam untuk segera menghadiri shalat.
  6. Siapa saja yang meninggalkan shalat atau meninggalkan waktu shalat tanpa ada uzur syar’i, bahkan sibuk dengan jual beli, hendaklah ada amalan tambahan yang dilakukan seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir tasbih, memperbanyak doa, thuma’ninah dan khusyu dalam ibadah selama waktu masih ada. Ini dilakukan untuk menutupi kekurangan karena mengakhirkan shalat dari awal waktunya. Menutupi kekurangan ini bisa dilakukan juga dengan bersedekah dan membebaskan budak seperti dilakukan oleh para salaf pada masa silam.

‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhupernah menghukumi dirinya dengan mengeluarkan sedekah berupa tanah yang harganya 200.000 dirham karena luput dari shalat ‘Ashar secara berjamaah.

Ibnu ‘Umarradhiyallahu ‘anhumapernah suatu kali luput dari shalat berjamaah, ia malah mengganti dengan menghidupkan malam seluruhnya.

Ibnu Abi Rabi’ah rahimahullahpernah luput dari dua raka’at shalat Sunnah Fajar, untuk tebusannya, ia membebaskan seorang budak.

Ibnu ‘Aun rahimahullahpernah melakukan kesalahan, ketika ibunya memanggilnya, ia malah menjawab dengan suara keras. Ia pun akhirnya membebaskan dua orang budak. (Hilyah Al-Auliya’, 3:39. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 385)

Imam Al-Muzani ketika luput dari satu shalat jama’ah, ia menebusnya dengan mengerjakan shalat itu dua puluh lima kali. (Siyar A’lam An-Nubala’, 12:495)

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

 

Referensi:

  1. A’mal Al-Qulub. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan. Hlm. 361-385.
  2. Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:263-265.
  3. Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabi. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini