Beranda Belajar Islam Aqidah Syarhus Sunnah: Mengenal Imam Al-Muzani

Syarhus Sunnah: Mengenal Imam Al-Muzani

421
0

 

Sudah kenal dengan Imam Al-Muzani? Ia adalah murid senior Imam Syafi’i dan punya kitab yang sangat bagus membahas masalah akidah yaitu Syarhus Sunnah dan insya Allah moga dengan pertolongan Allah, kitab tersebut akan dikaji Rumaysho.Com secara tuntas di web ini.

 

 

Abu Ibrahim Ismail bin Yahya bin Isma’il bin ‘Amr bin Muslim Al-Muzani Al-Mishri, beliau adalah murid dari Imam Asy-Syafi’i.

Al-Muzani adalah nama yang disandarkan pada Muzainah bin Add bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin ‘Adnan. Nama asli dari Muzainah adalah ‘Amr. Ia memakai nama ibunya yaitu Muzainah binti Kalb bin Wabrah. Muzainah adalah ibu dari qabilah yang sangat masyhur.

Beliau lahir pada tahun 175 Hijriyah, pada tahun saat Al-Laits bin Sa’ad meninggal dunia.

 

Guru Imam Al-Muzani

  1. Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I (wafat: 204 H).
  2. ‘Ali bin Ma’bad bin Syaddad (wafat: 218 H).
  3. Nu’aim bin Hammad.
  4. Ashbag bin Nafi.

Tidak banyak riwayat dari Imam Al-Muzani, namun ia adalah seorang yang sangat fakih.

 

Murid-murid Imam Al-Muzani

  1. Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, penulis kitab Shahih Ibnu Khuzaimah, wafat tahun 311 H.
  2. Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah Ath-Thahawi, wafat tahun 321 H.
  3. Abul Qasim ‘Utsman bin Bassyar Al-Anmathi, gurunya Ibnu Suraij, wafat tahun 288 H.
  4. Abu Yahya Zakariyya bin Yahya As-Saji, guru di Bashrah, wafat tahun 307 H. Al-Anmathi dan As-Saji adalah di antara murid-murid terbaik Al-Muzani.
  5. Abul Hasan Ahmad bin ‘Umair bin Jausha’ Ad-Dimasyqi, wafat tahun 320 H.
  6. Abu Nu’aim ‘Abdul Malik bin Muhammad ‘Adi Al-Jarjani, wafat tahun 251 H.
  7. Abu Muhammad ‘Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi, penulis kitab Al-Jarh wa At-Ta’dil. wafat tahun 327 H.

 

Sanjungan Para Ulama pada Imam Al-Muzani

Imam Syafi’i mengatakan bahwa Imam Al-Muzani adalah penolong madzhab beliau. (Siyar A’lam An-Nubala’, 12:493)

Imam Adz-Dzahabi pada awal menyebut biografi, beliau rahimahullahmenyatakan, “Imam Al-Muzani adalah al-‘allamah, orang yang fakih dalam agama ini, dan orang yang zuhud.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 12:492)

‘Amr bin ‘Utsman Al-Makki berkata, “Aku tidaklah pernah melihat seseorang yang rajin ibadah yang sangat semangat melebihi Imam Al-Muzani dan tidak ada yang bisa ajeg dalam ibadah selain beliau. Aku pun tidak pernah melihat orang yang paling mengagungkan ilmu dan ahli ilmu selain beliau. Beliau terkenal sangatlah wara’, dan sifat ini sudah diketahui banyak orang.” Imam Al-Muzani pernah berkata bahwa akhlaknya itu diambil dari akhlaknya Imam Syafi’i.

Pujian Imam Adz-Dzahabi mengenai ibadah beliau, “Telah sampai kepadaku bahwa Imam Al-Muzani ketika selesai merampungkan bahasan satu masalah yang ia masukkan dalam kitab mukhtasharnya, setelahnya ia shalat lillah dua raka’at.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 12:493-494)

Imam Al-Muzani juga ketika luput dari satu shalat jama’ah, ia menebusnya dengan mengerjakan shalat itu dua puluh lima kali. (Siyar A’lam An-Nubala’, 12:495)

Imam Al-Muzani juga biasa memandikan jenazah dalam rangka ta’abbud (ibadah) dan mencari pahala. Ia biasa memandikan jenazah untuk melembutkan hati beliau, sehingga hal itu dijadikan kebiasaan. Beliaulah yang dulunya memandikan jenazah Imam Syafi’i rahimahullah.

 

Imam Al-Muzani Meninggal Dunia

Imam Al-Muzani meninggal dunia pada tahun 264 H, pada bulan Ramadhan, pada usia 89 tahun.

 

Catatan Mengenai Zuhud dan Wara’

Mengenai wara’ disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah, “Jika muncul keragu-raguan akan halal dan haramnya sesuatu, sedangkan tidak ada dalil tegas, tidak ada ijma’ (konsensus  ulama); lalu yang punya kemampuan berijtihad, ia berijtihad dengan menggandengkan hukum pada dalil, lalu jadinya ada yang halal, namun ada yang masih tidak jelas hukumnya, maka sikap wara’ adalah meninggalkan yang masih meragukan tersebut. Sikap wara’ seperti ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang selamat dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.” (Syarh Syarh Muslim, 11:28)

Yunus bin ‘Ubaid berkata, “Wara’ adalah keluar dari syubhat (perkara yang samar) dan setiap saat selalu mengintrospeksi diri.” (Dinukil dari Shalah Al-Ummah fii ‘Uluw Al-Himmah, 4:326)

Zuhud sebagaimana Abu Sulaiman Ad-Darani,

أَنَّ الزُهْدَ فِي تَرْكِ مَا يُشْغِلُكَ عَنِ اللهِ

“Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.” (Hilyah Al-Auliya’, 9:258)

Semoga Allah memuliakan Imam Al-Muzani, dan menjadikan kita bisa meneladani sifat-sifat baik beliau.

 

Referensi:

Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabi. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Syarh As-Sunnah. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.

Diselesaikan di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Syawal 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini