Home / Tafsir Al Qur'an / Faedah Surat Yasin: Mentauhidkan Allah Hingga Masuk Surga

Faedah Surat Yasin: Mentauhidkan Allah Hingga Masuk Surga

Allah

 

Pelajaran penting dari surah Yasin kali ini yaitu tentang mentauhidkan Allah hingga masuk surga. Juga ditambahkan kisah hadits Bitoqoh.

Tafsir Surah Yasin

Ayat 25-27

إِنِّي آَمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ (25) قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ (26) بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ (27)

Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.  Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke surga”. Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui.  Apa yang menyebabkan Rabbku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” (QS. Yasin: 25-27)

 

Penjelasan Ayat

Yang menyembah selain Allah disifati berada dalam kesesatan. Sedangkan yang mengikuti rasul itulah yang berada di atas kebenaran. Utusan yang datang pada kaumnya menyatakan bahwa ia beriman kepada Allah yang menjadi Rabb setiap makhluk. Lalu ia mengajak kaumnya untuk memasuki surga. Itulah balasan bagi orang yang bertauhid dan ikhlas kepada Allah. Itu andai kaumnya mengetahui. Tauhid itulah yang menjadi sebab dosa terampuni dan tauhid menjadikan seseorang mulia dengan memasuki surga.

 

Pelajaran dari Ayat

  1. Kesesatan yang paling parah adalah karena seseorang berbuat syirik kepada Allah.
  2. Siapa yang mentauhidkan Allah berarti ia berada di atas kebenaran.
  3. Setiap orang yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah berarti memiliki kemuliaan dan keutamaan.

Ini sama halnya dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

  1. Orang yang menyatakan dirinya itu beriman berarti ia adalah orang yang berusaha mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah.
  2. Dapat diambil faedah dari ayat (yang artinya), “Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke surga” berarti nikmat kubur itu ada, karena kiamat belum terjadi saat ini. Perkataan itu ditujukan kepada orang yang mendapatkan nikmat kubur. Karena nikmat di kubur akan dirasakan seperti di surga seakan-akan sudah memasukinya.
  3. Orang yang disebutkan dalam ayat adalah yang menasihati kaumnya ketika hidupnya dan setelah matinya. Ia mengajak kaumnya untuk mentauhidkan Allah ketika hidup dan setelah ia mati, ia pun berangan-angan agar kaumnya beriman kepada Allah lalu diampuni dosa-dosa mereka.
  4. Surga itu ada dan surga itu kekal abadi.
  5. Siapa yang beriman kepada Allah, ia akan mendapatkan pengampunan dosa dan mendapatkan tempat yang mulia di surga.
  6. Nikmat tidaklah sempurna sampai seseorang terhapus dosa-dosanya (terhindar dari hukuman di akhirat).
  7. At-takhliyyah qabla at-tahliyyah, membersihkan dahulu sebelum mengisi, yaitu diampuni dosa dahulu barulah diberikan tempat mulia.
  8. Ampunan Allah disebut dahulu barulah rahmat-Nya. Maka biasa disebut ghafur dahulu baru Rahim sehingga disebut Allah itu Al-Ghafur Ar-Rahim.

 

Pelajaran dari Hadits Bitoqoh

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zalim kepadamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosulullah’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tadi. (HR. Ibnu Majah, no. 4300; Tirmidzi, no. 2639 dan Ahmad, 2:213. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy yaitu kuat dan perowinya tsiqah termasuk perowi kitab shahih selain Ibrahim bin Ishaq Ath-Thaqani. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin berkata, “Amalan tidaklah berlipat-lipat karena bentuk dan banyaknya amalan tersebut. Amalan bisa berlipat-lipat karena sesuatu di dalam hati. Bentuk amal bisa jadi satu (sama dengan yang dikerjakan orang lain). Akan tetapi bisa jadi ada perbedaan satu amal dan amal lainnya yang perbedaannya antara langit dan bumi (artinya: jauh). Cobalah renungkan hadits bitoqoh. Lihatlah catatan amalnya yang berisi kalimat laa ilaha ilallah diletakkan di salah satu daun timbangan dan 99 catatan dosa di timbangan lainnya. Bayangkan pula bahwa satu catatan dosa saja jika dibentangkan sejauh mata memandang. Namun ternyata kartu ampuh berisi kalimat tauhid (laa ilaha illalah) mengalahkan catatan penuh dosa. Ia ternyata tidak disiksa. Kita pun tahu bahwa setiap ahli tauhid memiliki kartu ampuh ini (kartu laa ilaha illalah). Namun kebanyakan mereka malah masuk neraka karena sebab dosa yang mereka perbuat.” Wallahul musta’an.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

 

Referensi:

  1. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.
  2. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
  3. Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid fii Syarh Kitab At-Tauhid. Cetakan kedua, Tahun 1429 H. Sulaiman bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Wahab. Penerbit Darul Shumai’iy. 1:242.

 

Disusun di Perpus Rumaysho, 7 Jumadal Ula, Rabu siang

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Faedah Surat An-Nuur #10: Dosa Mengerikan Karena Lisan

Dosa mengerikan karena lisan yaitu biasa menyebar berita dusta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *