Beranda Belajar Islam Aqidah Faedah Surat Yasin: Syirik itu Jalan Kesesatan

Faedah Surat Yasin: Syirik itu Jalan Kesesatan

153
0

 

Syirik itu jalan kesesatan. Kaji dalam tafsir surah Yasin ayat 22-24.

 

Tafsir Surah Yasin

Ayat 22-24

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آَلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (24)

Mengapa aku tidak menyembah (Rabb) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 22-24)

 

Penjelasan Ayat

Ibnu Katsir menyatakan bahwa siapa yang menghalangi dalam mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah yang telah menciptakan kita dan tidak pantas bagi Allah memiliki sekutu dalam beribadah. Kepada Allah-lah kita kembali. Allah akan membalas, jika amalan seseorang itu baik, maka akan dibalas juga dengan kebaikan. Jika sebaliknya amalannya jelek, maka akan dibalas juga dengan kejelekan.

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan pula bahwa kata tanya yang ada adalah sebagai tanda pengingkaran dan ingin menyatakan bahwa yang dilakukan adalah suatu yang keliru. Ayat tersebut menunjukkan pula bahwa ilah (sesembahan) yang disembah selain Allah (berhala dan lainnya) tidak berkuasa memiliki segala sesuatu. Jika Allah menimpakan suatu musibah, maka tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Allah. Sesembahan selain Allah tidak dapat menolak dan tidak dapat mencegah. Jadinya, orang yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan (berbuat syirik) berada dalam kesesatan yang nyata. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:335.

 

Pelajaran dari Ayat

  1. Kita diperintahkan untuk beribadah kepada Allah semata (mentauhidkan Allah) karena Allah yang menciptakan kita.
  2. Yang Maha Pencipta tentu lebih pantas diibadahi dan disembah.
  3. Kepada Allah-lah kita akan kembali, setiap amalan kita yang baik maupun yang buruk akan dibalas termasuk jika kita berbuat syirik dengan menyekutukan Allah.
  4. Setiap muslim harus meyakini rububiyah Allah (Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki dan pengatur jagat raya) harus juga beribadah kepada Allah semata (menjalankan tauhid uluhiyah).
  5. Segala sesuatu selain Allah tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudarat, tidak bisa memberi dan menerima, tidak bisa menghidupkan dan mematikan serta membangkitkan.
  6. Tidak ada yang dapat memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin Allah.
  7. Orang yang berbuat syirik berada dalam kesesatan yang nyata.
  8. Kalimat kepada Allah-lah kita akan kembali menunjukkan bahwa ini adalah bentuk menakut-nakuti kepada orang-orang yang beribadah kepada selain Allah, setelah sebelumnya disebutkan kalimat dorongan untuk beribadah kepada Allah semata.
  9. Ayat-ayat ada yang menyebutkan suatu hukum dibarengkan dengan ta’lil (alasan).
  10. Kejelekan tidak disandarkan kepada Allah. Adapun kalimat Allah menginginkan kemudaratan maksudnya adalah masyi’ah (iradah kauniyyah) yang pasti terjadi kalau Allah berkehendak namun tidak menunjukkan Allah mencintainya. Sedangkan jika ada suatu yang baik, maka itu terjadi karena kehendak Allah yang menunjukkan cinta, disebut iradah syar’iyyah). Contoh, setan itu diciptakan berdasarkan iradah kauniyyah (kehendak Allah yang pasti terjadi). Ada orang yang beriman terjadi berdasarkan iradah syar’iyyah (kehendak Allah yang didasarkan cinta), namun tidak semua jadi beriman).
  11. Allah memiliki sifat Ar-Rahman (Maha Penyayang).
  12. Orang yang berbuat syirik punya alasan untuk mendapatkan syafaat dari makluk yang mereka sembah.

 

Referensi:

  1. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  2. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Surat Yasin. Cetakan kedua, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.
  3. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

 

Empat Kaedah Memahami Syirik

  1. Orang musyrik juga mengakui tauhid rububiyyah (Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki, dan pengatur alam semesta), namun ternyata itu tidak cukup memasukkan mereka dalam Islam sampai mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah.
  2. Orang musyrik tidaklah meminta kepada sesembahan mereka secara langsung, namun mereka menjadikan sesembahan itu sebatas sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan sebagai pemberi syafaat.
  3. Orang musyrik memiliki sesembahan yang beraneka ragam, sehingga yang disebut “kesyirikan” bukan hanya perbuatan menyembah patung atau berhala. Menyembah orang shalih juga termasuk kesyirikan.
  4. Orang musyrik pada zaman ini lebih parah daripada orang musyrik pada masa silam.

(Al-Qowa’idul Arba’ oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, diambil dari buku “Muslim Tetapi Musyrik” diterbitkan Penerbit Rumaysho)

 

Syirik Zaman Now Dibanding Zaman Dulu

  1. Orang musyrik pada masa silam melakukan kesyirikan pada saat lapang saja, sedangkan pada saat susah mereka beribadah hanya kepada Allah. Adapun orang musyrik pada zaman ini syiriknya pada saat susah maupun saat lapang.
  2. Orang musyrik pada masa silam beribadah kepada orang-orang shalih dari golongan para malaikat, para nabi, dan para wali. Saat ini, orang-orang musyrik malah beribadah kepada orang-orang yang paling fajir (gemar bermaksiat) padahal mereka mengetahui hal itu. (Disebut oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab di dalam kitab Kasyfu Syubuhat)
  3. Orang musyrik pada masa silam meyakini bahwa mereka menyelisihi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang musyrik pada zaman ini malah merasa berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Orang musyrik pada masa silam menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan sebagai pemberi syafaat. Adapun orang musyrik pada masa kini malah menjadikan sesembahan mereka itu sebagai pihak yang dimintai secara langsung (mereka menganggap sesembahan itu mampu mengabulkan doa).
  5. Orang musyrik pada masa kini menganggap bahwa ibadah kepada orang shalih termasuk bentuk menunaikan hak orang shalih tersebut, dan tidak beribadah kepada orang shalih termasuk bentuk menghinakan mereka. Hal ini tidak ditemukan pada orang musyrik sebelumnya.
  6. Syirik yang terjadi pada masa silam adalah syirik pada uluhiyyah; sedangkan syirik yang terjadi pada masa kini adalah syirik dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat.
  7. Orang musyrik pada masa silam tidaklah meyakini ada yang menguasai dan mengatur jagad raya selain Allah. Adapun orang musyrik pada saat ini meyakini bahwa selain Allah ada yang berkuasa dan mengatur sebagian tempat.
  8. Orang musyrik pada dahulu masih mengagungkan syariat Allah, contoh: mereka mau bersumpah dengan nama Allah. Adapun orang musyrik pada masa kini tidak mengagungkan Allah dan syariat-Nya sama sekali.
  9. Orang musyrik pada masa silam mengharap kepada sesembahan mereka agar urusan dunia mereka ditunaikan. Adapun orang musyrik pada masa kini bukan meminta untuk urusan dunia saja, namun juga untuk urusan akhirat.

(“Muslim Tetapi Musyrik” diterbitkan Penerbit Rumaysho)

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

Disusun di Perpus Rumaysho, 23 Rabi’uts Tsani 1439 H, Rabu siang

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini