Home / Teladan / Faedah Sirah Nabi: Istri-Istri Nabi, Saudah dan Hafshah

Faedah Sirah Nabi: Istri-Istri Nabi, Saudah dan Hafshah

 

Sudah kenal istri-istri Nabi? Kali ini kenalilah Saudah dan Hafshah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi keistimewaan dengan banyak istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu waktu dibolehkan memiliki istri lebih dari empat. Hal ini untuk menunjukkan mulianya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan sembilan istri. Namun beliau memiliki istri yang lain. Ada yang beliau setubuhi, ada pula yang beliau langsungkan akad namun tidak disetubuhi, ada pula yang beliau khitbah namun tidak sampai menikah.

Adapun istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau gauli atau kita menyebut dengan ummahatul mukminin (ibunya orang beriman) yang rajih (pendapat terkuat) ada sebelas istri.

Pertama: Enam istri dari Quraisy

  • Khadijah binti Khuwailid
  • ‘Aisyah binti Abu Bakar
  • Hafshah binti ‘Umar
  • Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan
  • Ummu Salamah binti Abu Umayyah
  • Saudah binti Zam’ah

Kedua: Empat dari kalangan Arab

  • Zainab binti Jahsy
  • Maimunah binti Al-Harits
  • Zainab binti Khuzaimah
  • Juwairiyah binti Al-Harits

Ketiga: Satu istri dari Bani Israil yaitu Shafiyah binti Huyay

Istri beliau yang meninggal dunia ketika beliau masih hidup adalah (1) Khadijah binti Khuwailid dan (2) Zainab binti Jahsy.

Budak wanita Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi selirnya yaitu Mariyah (ibu anak beliau yang bernama Ibrahim), Raihanah binti Zaid, budak yang dihibahkan oleh Zainab binti Jahsy, wanita budak cantik yang didapatkan dari tawanan perang.

 

Saudah binti Zam’ah

Ibnu Hajar menyatakan bahwa Saudah adalah wanita yang dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Khadijah. Suaminya dahulu bernama As-Sakran bin ‘Amr bin ‘Abdu Syams. Ketika dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, usia Saudah sekitar 55 tahun.

Keutamaan Saudah binti Zam’ah:

  • Saudah sangat semangat ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya, setelah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan padanya untuk berdiam di rumah, tidak berhaji lagi setelah itu. Saudah pun menjalankannya sebagaimana ia juga menjalankan firman Allah (yang artinya), “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)
  • Saudah adalah orang-orang yang pertama masuk Islam.
  • Dikenal cerdas dan memiliki pergaulan yang baik. Saudah sampai-sampai menghadiahkan malam giliran miliknya pada ‘Aisyah demi mendapatkan keridhaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Mulianya akhlak Saudah sehingga dia mendahulukan yang lainnya daripada dirinya sendiri padahal ia butuh, seperti memberikan jatah malamnya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Akhlak baik seperti ini dikenal dengan istilah itsar.
  • Ada ayat Al-Qur’an yang khusus turun berkenaan dengan Saudah yaitu firman Allah,

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ و

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. An-Nisa’: 128). Saudah khawatir diceraikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga ia menghibahkan malam miliknya pada Aisyah.

  • Saudah terus rajin ibadah sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya. Ia sibukkan diri dengan tahajud dan ibadah sampai-sampai tidak mengetahui berbagai fitnah yang terjadi di luar.

Saudah meninggal dunia pada masa pemerintah Khalifah Umar. Ada yang mengatakan meninggalnya sekitar tahun 54 Hijriyah sebagaimana dikuatkan oleh Al-Waqidi.

 

Hafshah binti ‘Umar

Hafshah adalah puteri ‘Umar. Ia lahir lima tahun sebelum nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi nabi dan dibangun Ka’bah. Hafshah sebelumnya telah menikah dengan Khunais bin Hudzafah bin Qais. Suaminya meninggal dunia setelah perang Badar dikarenakan luka parah yang ia alami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolatkan jenazah Khunais dan memakamkannya di pekuburan Baqi’ di samping sahabat yang agung, Utsman bin Mazh’un. Akhirnya Hafshah menjanda dalam usia 18 tahun.

Ayahnya Umar berusaha untuk menawarkan puterinya pada Abu Bakar dan Utsman. Keduanya enggan karena tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mau maju melamarnya. Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Hafshah pada tahun 3 H (sebelum perang Uhud) dengan mahar sebesar 400 dirham. Saat itu pula, Utsman menikahi Ummu Kultsum setelah meninggalnya Ruqayyah yang menjadi istri Utsman sebelumnya.

Keutamaan Hafshah binti ‘Umar:

  • Ia sangat mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Hafshah dikenal sangat cerdas karena ia diajarkan khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai ia mahir dalam kitabah (penulisan) karena diajarkan oleh Asy-Syifa’ binti ‘Abdillah.
  • Hafshah jadi sebab turunnya ayat,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1). Ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdua-duaan dengan Mariyah di rumah Hafshah. Istrinya tersebut minta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak lagi mendekati Mariyah hingga turun ayat tadi.

  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mentalak Hafshah lalu rujuk lagi dan hafshah diberikan kabar gembira menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.
  • Hafshah dikenal rajin beribadah, rajin shalat malam dan rajin berpuasa di siang harinya.
  • Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hafshah tetap dikenal rajin dalam ibadah termasuk juga rajin bersedekah pada fakir miskin yang membutuhkan. Ia juga sering jadi tempat bertanya para sahabat lainnya. Al-Qur’an yang telah dikumpulkan berawal dari masa Abu Bakr, lalu berpindah pada Umar. Lalu setelah bapaknya wafat, Al-Qur’an tersebut berpindah pada Hafshah.

Hafshah meninggal dunia tahun 41 Hijriyah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Adz-Dzahabi.

Tunggu kisah selanjutnya tentang Keutamaan Aisyah binti Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha. Moga bermanfaat dan jadi teladan.

 

Referensi:

  1. Biografi Shahabiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cetakan pertama, Tahun 1426 H. Syaikh Mahmud Al-Mishri. Penerbit Zam-Zam.
  2. Ummahat Al-Mukminin. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Dr. Muhammad bin Sulaiman. Penerbit Dar Ibnu Hazm.

Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Jumat siang, 14 Shafar 1439 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Faedah Sirah Nabi: Perang Fijar dan Hilful Fudhul

Ada kisah menarik sebelum kenabian yaitu perang Fijar dan Hilful Fudhul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *