Home Muamalah Beli Emas Secara Kredit

Beli Emas Secara Kredit

5454
24

Apakah boleh jual beli emas secara kredit atau pembayaran bertempo?

Pertanyaan:

Apakah boleh menukar emas dengan uang yang dibayar secara kredit sebagaimana membeli barang lainnya? Atau harus dengan tunai di majelis tanpa menunda pembayaran sedikit pun? Apa dalil yang membolehkan atau tidaknya hal ini? Karena sebagian orang ada yang membeli perhiasan (emas) dengan cara kredit semacam ini.

Jawaban:

Tidak boleh menukar emas dengan uang, walaupun keduanya tidak sama jenis kecuali dengan syarat harus tunai dalam satu majelis. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelaskan barang-barang yang termasuk riba dalam sabdanya,

فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika berbeda jenis, maka juallah terserah kalian, asalkan tunai”[1]

Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabtnya.

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’

Yang menandatangani fatwa ini:

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku ketua; Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota

Pertanyaan kedua dari fatwa no. 20790, 11/96-97

 

Riyadh KSA, 13 Shafar 1432 H (17/01/2011)

www.rumaysho.com

 


[1] HR. Muslim no. 1587

24 COMMENTS

  1. Pak Ustadz,

    Mohon pencerahannya terkait beli emas secara arisan, jadi misal ada 10 orang, tiap bulan urunan untuk beli emas selama 10 bulan, jadi dalam 10 bulan mendatang setiap orang akan mengeluarkan uang yang sama besarnya dan akan mendapat jumlah gram emas yang sama, apakah hal ini diperbolehkan.
    Kami tunggu jawabannya pak ustadz karena di kantor saya lagi marak.
    Terimakasih
     

    • Transaksinya begini pak ustad :
      Setiap bulan 10 orang tersebut urunan untuk membeli LM 25 gram 1 pc (besarnya urunan =harga emas saat bulan itu dibagi 10) dan setiap bulan itu ada seorang yang menang arisan emas 25 gram tersebut. Begitu seterusnya sampai bulan ke -10, besarnya urunan disesuaikan dengan harga emas saat bulan berjalan dibagi 10, jadi secara total di bulan ke -10 semua peserta mendapat LM 25 gram 1 pc, dan mengeluarkan total urunan yang sama.
      Demikian pak Ustadz, mohon jawabannya.
      Terimakasih

    • Maaf pak, jawaban tsb langsung tampil otomatis. Dan sy baru bisa balas saat ini.
      Transaksi arisan emas spt itu tdk dibolehkan. Karena syarat jual beli emas harus tunai, tdk boleh ada antara emas atau uang yg tertunda. Demikian syrat yg diberikan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      Wallahu waliyyut taufiq.

    • Terimakasih ustadz atas jawabannya, bagaimana dengan yang nomor 2, apakah tidak bisa dipahami serupa dengan saham (ikut menanam modal kepada usaha si penjual) karena memang ada surat perjanjian kesepakatannya?
      Kemudian, setelah berlalu beberapa waktu, sudah ada keuntungan yang dihasilkan dan diberikan, bagaimana status (uang) dari hasil bagi keuntungan tersebut?

  2. Ustadz mau tanya hal berikut:

    1. Bagaimana hukumnya membeli koin dinar melalui internet, uang
    ditransfer melalui rekening/ATM, kemudian pihak penjual mengirimkan
    dinar tersebut melalui jasa pengiriman barang.

    2. Mirip kasus nomor 1, hanya saja dinar yang dibeli tidak dikirimkan
    kepada pembeli, namun tetap dipegang oleh penjual dan dijadikan tambahan
    modal bagi penjual dan hasilnya dibagi, dengan kesepakatan kedua belah
    pihak?

    Syukron ustadz.

    • Mohon maaf ustadz, kalau memang pertanyaan saya tidak layak mohon tidak usah ditampilkan, daripada saya menunggu2 jawabannya namun tidak akan dijawab. Sesungguhnya saya sebagai orang yg awam bertanya karena benar2 memerlukan jawaban dari ustadz dan khawatir terjatuh dalam kesalahan.

    • Mengulang pertanyaan saya atas jawaban ustadz kepada sdr.Eko_widyantoro, bagaimana status uang hasil bagi keuntungannya?
      Mohon saran untuk solusinya karena sudah terlanjur membeli dan dititipkan di penjual dengan kesepakatan (dalam suatu kontrak perjanjian) sebagai tambahan modal penjual dan tentu sudah ada keuntungannya.
      Saya juga sudah menulis di kolom konsultasi mengenai dasar (berbagai) transaksi dari lembaga tersebut terkait dengan emas/dinar, mohon dapat ustadz berikan penjelasan.
      Terimakasih.

    • Maaf ustadz, saya masih terus mencari-cari. Salah satunya saya dapatkan di pm-fatwa, di sana disebutkan bahwa untuk barang ribawi yang tidak sejenis boleh barter secara tidak tunai, contohnya adalah beli beras dan kurma boleh tidak tunai/dihutang (jawaban dari ustadz Kholid, ustadz Aris Munandar dan ustadz M Arifin Badri).
      Jadinya bagaimana ustadz, mana yang benar?

    • Mohon maaf ustadz atas tulisan saya di atas, karena saya terburu-buru setelah baru saja menemukan hal tersebut. Namun setelah saya baca lagi ternyata ustadz Abduh juga sependapat dengan para ustadz tersebut. Dan saya juga menemukan tulisan yang mungkin dapat saya jadikan penguat pemahaman saya di link:
      http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/07/komponen-riba-fadhl.html

      Bagaimana ustadz, jadi syarat transaksi untuk barang/komoditas ribawi adalah seperti yang diuraikan olah ust Abul Jauzaa tersebut ya?
      Mohon pencerahannya agar menjadi lebih paham.

    • iya spt itu.
      Jika emas ditukar emas, uang ditukar uang, maka harus tunai dan takaran atau timbangannya harus sama.
      Jika emas ditukar uang, atau rupiah ditukar dolar, maka syaratnya harus tunai, meskipun jumlahnya berbeda.
      Wallahu waliyyu taufiq.

  3. ustadz gimana penjelasan tentang menjual emas dgn cara kredit ……… fatwa MUI membolehkan menjual emas dgn cara kredit ….. tolong penjelesan nya ustadz ……

  4. aslm… ustadz klo di pegadaian syariah sekarang ada investasi emas, yang dibeli secara angsuran, kita transaksi sekarang dapat di bayar secara angsuran sekian bulan setelah lunas nanti emasnya bisa diambil. bagaimana menurut ustadz… jzk barakallahufik

  5. assalamu’alaikum…

    ustadz, bagaimana jika nominal uangnya besar, misalkan kita membeli emas dengan harga puluhan juta, kemudian uangnya kita transfer ke rekening penjual? karena kadang kalau membawa uang cash dalam jumlah besar khawatir dengan keamanannya…

    atau memang harus dengan uang cash walaupun jumlahnya besar?

    jazakallahu khairan…

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here