Home Aqidah Orang Tua Nabi Muhammad di Masa Fatrah

Orang Tua Nabi Muhammad di Masa Fatrah

4094
0

Bagaimana jika ada yang meninggal di masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) seperti orang tua nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa ada seseorang yang bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ أَبِي؟

“Wahai Rasulullah di mana tempat kembali bapakku?”

فِي النَّارِ

Di neraka.

Ketika orang tersebut berpaling, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya lantas berkata,

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار

Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim, no. 203)

 

Dari hadits di atas kita bisa mengambil beberapa faedah yang kami sarikan dari penjelasan Imam Nawawi:

1- Siapa saja yang mati dalam keadaan kafir, maka ia berada di neraka dan tak bermanfaat hubungan keluarga dekat.

2- Dalam hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa siapa yang mati pada masa fatrah (masa kosong di antara dua nabi) dan saat itu ada kebiasaan orang-orang Arab menyembah berhala, maka ia dihukumi sebagai penduduk neraka. Bukan berarti di masa itu mereka tidak mendapatkan dakwah. Bahkan dakwah dari Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya sudah ada.

3- Ini menunjukkan cara bergaul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat baik. Kalau orang tua Nabi Muhammad sendiri dinyatakan di neraka dan itu memang terasa berat bagi beliau. Orang tua dari orang yang bertanya pun demikian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan “ayahku dan ayahmu di neraka” menunjukkan bahwa beliau merasa senasib dengannya dalam musibah.

Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bab: Penjelasan mengenai orang yang di atas kekafiran tempatnya di neraka. Syafa’at dan hubungan kerabat dekat tidaklah bermanfaat untuknya.”

Demikian faedah dari seorang ulama besar Syafi’iyah yaitu Imam Nawawi rahimahullah yang moga bermanfaat untuk kita dalam memahami hadits di atas.

 

Allahumma zidnaa ‘ilmaa, ya Allah tambahkanlah pada kami ilmu.

 

Referensi:

Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 3: 70.

 

@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Syawal 1437 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here