Akhlaq

Adab pada Guru (6)

Di antara adab pada guru dan itu merupakan tanda berkahnya ilmu, hendaklah ilmu tersebut disandarkan pada guru jika kita memperoleh suatu pelajaran atau faedah penting darinya.

Abu ‘Ubaidah dalam Al-Ilma’ li Al-Qadhi ‘Iyadh, beliau berkata, “Di antara tanda mensyukuri nikmat ilmu adalah ketika ada sesuatu yang samar dan tak ada keterangan ilmu ketika itu lantas ada yang memberikan pencerahan, maka kita katakan bahwa kita telah mendapatkan faedah dari si fulan. Itulah tanda mensyukuri ilmu.” (Lihat Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 210)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Di antara bentuk berbuat baik yaitu menyandarkan suatu faedah ilmu pada orang yang pertama kali mengatakannya. Siapa yang melakukan seperti itu, maka berkahlah ilmu dan keadaannya. Siapa yang keadaannya sebaliknya, maka ilmu dan keadaannya tidaklah dikaruniai keberkahan. Kebiasaan para ulama, mereka selalu menyandarkan ilmu pada siapa yang mengatakannya. Moga Allah beri taufik pada kita untuk terus bisa menerapkannya.” (Bustan Al-‘Arifin, dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 211)

Ada yang pernah mengatakan pada Abu Bakr Al-Maruzi bahwa ilmu yang diperoleh ini telah disebarkan atas nama Abu Bakr Al-Maruzi. Abu Bakr lantas menangis. Ia mengatakan,

لَيْسَ هَذَا العِلْمُ لِي وَإِنَّمَا هَذَا عِلْمُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ

“Ilmu tersebut bukan dariku. Ilmu tersebut hakikatnya dari Ahmad bin Hambal.” (Tarikh Baghdad, 4: 424)

Ibnu Taimiyah pun mencontohkan demikian. Ia pernah berkata dalam kitab Ar-Radd ‘ala Al-Bakri (2: 590, Asy-Syamilah),

وَهَذَا المعْنَى كَثِيْرًا مَا كُنْتُ أَذْكُرُهُ لِلنَّاسِ وَلَمْ أَعْلَمُ أَحَدًا قَالَهُ ثُمَّ وَجَدْتُهُ قَدْ ذَكَرَهُ بَعْضُ العُلَمَاءِ

“Makna seperti ini banyak kutemui, aku mengatakan hal ini pada orang-orang namun aku tidak mengetahui siapa yang pertama kali menyebutkannya. Kemudian aku dapati bahwa hal itu disebutkan oleh sebagian ulama.”

Jadi pandai-pandailah mensyukuri ilmu. Termasuk juga di sini adalah aturan dalam copas status di medsos, hendaklah sandarkan dari mana ilmu tersebut diperoleh.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

 

Referensi:

Ma’alim fi Thariq Thalib Al-‘Ilmi. Cetakan kelima, tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah As-Sadhan. Penerbit Dar Al-Qabs.

Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, pagi penuh berkah, 4 Muharram 1437 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom

Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button