jalan_haram

Kaedah Fikih (18): Hukum Perantara Sama dengan Hukum Tujuan

Kaedah ini sangat bermanfaat sekali ketika kita ingin memahami halal dan haram. Misalnya saja tanaman tembakau. Mayoritasnya digunakan untuk bahan baku rokok. Apakah menanam tembakau dihukumi haram karena rokok itu haram?

Jika Mampu Melakukan Sebagian, Jangan Tinggalkan Seluruhnya

“Jika tidak didapati seluruhnya, jangan tinggalkan seluruhnya (yang mampu dikerjakan).” (Kaedah Fikih)
ibadah_bid'ah

Kaedah Fikih (17): Ibadah yang Tidak Ada Tuntunan

Dalam kaedah fikih kali ini akan dibicarakan mengenai ibadah yang tidak ada tuntunan.
puasa_syawal

Kaedah Fikih (16): Hukum Adat (Kebiasaan Manusia) Asalnya Boleh

Hukum asal adat atau kebiasaan manusia adalah boleh sampai ada dalil yang melarang. Ini kaedah penting dari kaedah fikih yang patut diingat.
maslahat

Cerdas dalam Memilih Maslahat dan Mudarat

Tidak selamanya seseorang mengambil yang semuanya baik, kadang ia harus menaruh pilihan pada yang terbaik di antara dua pilihan. Suatu waktu bisa pula dihadapkan dengan dua mudarat sehingga ia harus mengambil yang mudaratnya lebih ringan.
musibah_1

Pelajaran dari Kisah Khidr: Mengambil Bahaya yang Lebih Ringan

Ada kaedah fikih yang mesti dipahami kaum muslimin, karena kita tidak bisa selamanya menemui maslahat, namun kadang kita harus berhadapan dengan dua bahaya.
mencuri

Kaedah Fikih (15): Merampas Harta Orang Lain

Rumaysho.Com kembali melanjutkan kaedah fikih yaitu tentang masalah harta. Kaedahnya, harta orang lain haram untuk diambil sampai adanya dalil yang menunjukkan halalnya. Kaedah ini pun mengajarkan haramnya tindak pencurian dan perampasan.
membunuh_dosa_besar_6

Kaedah Fikih (14): Hukum Asal Nyawa, Haram untuk Dibunuh

Hukum asal satu jiwa itu haram darahnya diambil atau dibunuh.
daging

Kaedah Fikih (13): Hukum Asal Daging

Bagaimana hukum asal daging? Misalnya, saat kita di supermarket ada daging ayam, apakah boleh kita membelinya padahal tidak tahu cara penyembelihannya?
Nasehat Bagi yang Mandul dan Tak Kunjung Hamil

Kaedah Fikih (12): Hukum Asal Hubungan Biologis

Perzinaan adalah suatu hal yang diharamkan. Karenan halalnya kemaluan wanita lain haruslah lewat akad nikah. Inilah ajaran Islam yang punya maksud untuk menjaga kesucian wanita dan tidak bercampurnya nasab.
Setan Menyusup Melalui Aliran Darah

Menolong dalam Maksiat Dihitung Maksiat

Barangsiapa menolong dalam yang haram atau dalam berbuat dosa, maka ia dihukumi sama dalam melakukan maksiat. Ini kaedah yang telah disimpulkan dari Al Qur'an dan hadits.

Melakukan Larangan dan Meninggalkan Kewajiban Karena Lupa

Barangkali ada yang pernah melakukan kesalahan atau dosa, namun dilakukan dalam keadaan lupa. Apakah keadaan seperti itu, ia dihukumi ahli maksiat? Begitu pula ada yang meninggalkan kewajiban karena lupa, apa ia mesti mengerjakannya atau menggantinya?

Faedah Fikih dari Hadits Niat

Sudah sangat ma’ruf hadits mengenai niat yaitu hadits dari sahabat Umar bin Khottob bahwasanya setiap amalan tergantung pada niatnya. Ada beberapa pelajaran fikih yang bisa kita tarik secara ringkas dari hadits tersebut sebagaimana disebutkan oleh Syaikh As Sa’di ketika membahas hadits pertama dari kitab ‘Umdatul Ahkam berikut ini.
amal shalih

Yang Lebih Dulu, Itulah yang Lebih Berhak

Siapa yang mendapati tempat lebih dulu -seperti pada shaf pertama-, dialah yang berhak menempatinya. Sehingga tidak boleh ada yang datang belakangan, mengusir orang yang lebih dulu datang, atau mengklaim bahwa itu adalah tempat yang menjadi kebiasaan ia shalat. Padahal tidak boleh menyatakan demikian pada tempat yang masih kosong dan belum ditempati lainnya. Jika kita mengetahui demikian, maka kita akan semangat meraih kebaikan dan berusaha mendapatkan yang terdepan.
shalat_masjid

Ibadah Sunnah Tidak Diserupakan dengan Ibadah Wajib

Selepas shalat wajib, kita diperintahkan untuk memisah antara shalat wajib dan shalat sunnah dengan dzikir atau berpindah tempat. Di antara hikmahnya agar ibadah wajib terpisah dengan ibadah sunnah, atau agar keduanya tidak sama. Begitu pula dalam beberapa macam ibadah, sesuatu yang sunnah tidak boleh disamakan dengan yang wajib.

Kaedah Fikih (11), Hukum Asal Tanah, Pakaian dan Batu

Setelah sebelumnya kita melihat hukum asal air adalah suci. Kaedah kali ini akan mengangkat pula hukum asal yang di mana merupakan turunan dari kaedah ‘yakin tidak bisa dikalahkan oleh keraguan’ yang juga telah dibahas. Sekarang yang akan diangkat adalah mengenai hukum asal pakaian, tanah dan batu. Apakah asalnya suci?
Memberontak Barang Sejengkal

Memilih yang Lebih Maslahat untuk Orang Lain

Pembahasan kali ini kembali mengangkat suatu kaedah fikih yang menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan maslahat orang lain atau orang banyak. Adapun jika berkaitan dengan diri pribadi, maka bisa kita lakukan sesuka kita. Misalnya, dalam shalat ketika jadi imam, hendaknya imam memperhatikan mana yang maslahat untuk jama’ah di belakangnya karena ada yang tua dan sakit. Sedangkan jika ia shalat sendiri, maka ia boleh memanjangkan shalat semau dia.

Meneruskan Lebih Mudah daripada Memulai

Kaedah berikut harus dipahami oleh setiap penuntut ilmu syar’i sebagaimana nasehat Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah. Kaedah ini dapat diterapkan dalam beberapa masalah seperti apakah kita boleh melanjutkan shalat sunnah dan kita sudah berada di raka’at kedua, tinggal meneruskan. Masalah tersebut bisa terjawab dengan memahami kaedah ini.
suci_najis

Kaedah Fikih (10), Hukum Asal Air adalah Suci

Di antara kaedah hukum asal yang mesti dipahami adalah kaedah hukum asal air itu suci sampai ada yang menunjukkan najisnya. Kaedah fikih ini sangat membantu ketika kita menemukan suatu air apakah najis ataukah tidak. Maka selama tidak ada dalil yang menguatkan najisnya, maka tetap dihukumi suci. Kaedah ini dapat diterapkan untuk benda cair lainnya.
3,608,590FansSuka
516,618PengikutMengikuti
66,862PengikutMengikuti
45,344PelangganBerlangganan

Artikel Terbaru