Home / Aqidah / Antara Wali Allah dan Wali Setan

Antara Wali Allah dan Wali Setan

Rumaysho.com Apa Benar Karomah Wali Atau Habib Perbedaan Waliyullah Dengan Wali Setan Apa Ke Untunagan Bila Bertemu Wali Allah Wali Menurut Islam Dan Sunnah Wali Allah Vs Wali Syaitan

Harus dibedakan manakah wali Allah, manakah wali setan.

Ketika disebut kata wali maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah suatu keanehan, ke-nyleneh-an, dan kedigdayaan. Itulah yang dapat ditangkap dari pemahaman masyarakat terhadap wali ini. Maka bila ada orang yang bertingkah aneh, apalagi kalau sudah dikenal sebagai kyai, mempunyai indera keenam sehingga mengerti semua yang belum terjadi, segera disebut sebagai wali. Bahkan ada juga yang disebut sebagai wali, padahal sering meninggalkan shalat wajib. Ketika ditanyakan, dia menjawab : “Kami kan sudah sampai tingkat ma’rifa,t jadi tidak apa-apa tidak mengerjakannya. Sedangkan shalat itu bagi yang masih taraf syari’at.” Lalu siapakah wali Allah yang sebenarnya ?

Definisi Wali

Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Alloh atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana Allah berfirman

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64)

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. Yunus : 62 – 64).

Dari ayat tersebut, wali adalah orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya yang termaktub dalam Al Qur’an dan terucap melalui lisan Rasul-Nya, memegang teguh syariatnya lahir dan batin, lalu terus menerus memegangi itu semua dengan dibarengi muroqobah (terawasi oleh Allah), kontinyu dengan sifat ketaqwaan dan waspada agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dimurkai-Nya berupa kelalaian menunaikan wajib dan melakukan hal yang diharomkan. (lihat Muqoddimah Karomatul Auliya’, Al-Lalika’i, Dr. Ahmad bin Sa’d Al-Ghomidi, 5/8)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Allah Ta’ala menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Siapa saja yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah.(Tafsir Ibnu Katsir, 2/384)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin no.96, bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan mereka merealisasikan amal sholih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang harom. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan batin dengan keimanan dan kebaikan lahir dengan ketaqwaan, merekalah wali Allah.

Wali Allah adalah yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  dalam Al Furqon Baina Auliya’ir Rohman wa Auliya’us Syaithon mengatakan, “Bukan termasuk wali Alloh melainkan orang yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikuti secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, namun tidak mengikuti beliau maka tidak termasuk wali Allah bahkan jika dia menyelisihinya maka termasuk musuh Allah dan wali setan. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.(QS. Ali Imron : 31)

Hasan Al Bashri berkata : “Suatu kaum mengklaim mencintai Allah, lantas Allah turunkan ayat ini sebagai ujian bagi mereka”. Allah sungguh telah menjelaskan dalam ayat tersebut, barangsiapa yang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah akan mencintainya. Namun siapa yang mengklaim mencintai-Nya tapi tidak mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak termasuk wali Allah. Walaupun banyak orang menyangka dirinya atau selainnya sebagai wali Allah, tetapi kenyataannya mereka bukan wali-Nya.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa cakupan definisi wali ini begitu luas, mencakup setiap orang yang memiliki keimanan dan ketaqwaan. Maka wali Allah yang paling utama adalah para nabi. Para nabi yang paling utama adalah para rasul. Para Rasul yang paling utama adalah ‘ulul azmi. Sedang ‘ulul azmi yang paling utama adalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka sangat salah suatu pemahaman yang berkembang di masyarakat kita saat ini, bahwa wali itu hanya monopoli orang-orang tertentu, semisal ulama, kyai, apalagi hanya terbatas pada orang yang memiliki ilmu yang aneh-aneh dan sampai pada orang yang meninggalkan kewajiban syari’at yang dibebankan padanya.

Ingat sekali lagi, standar seseorang termasuk wali Allah adalah bertakwa dan beriman. Jika ia malah memiliki ilmu-ilmu aneh dan tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali, ini bukan wali Allah tetapi wali setan.

Tulisan dari Buletin Dakwah At Tauhid di masa silam.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com

Contoh Wali Setan Wali Setan Rumaysho Wali Allah Dan Wali Syaiton Fadilah Air Masjid Waliullah Ciri Ciri Waliyullah Menurut Sunnah

About Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Lulusan S-1 Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan S-2 Polymer Engineering (Chemical Engineering) King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia. Guru dan Masyaikh yang pernah diambil ilmunya: Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri dan Syaikh Shalih Al-'Ushaimi. Sekarang menjadi Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul.

Kunjungi Pula Artikel

Dakwahi Tauhid, Shalat, lalu Zakat

Dakwah Rasul itu bertahap. Mulai dari mengingatkan masalah tauhid, shalat lalu zakat. Juga beliau ingatkan tentang pentingnya shalat dan bahaya meninggalkan shalat.

23 comments

  1. Yudhistira Perdana

    Asslamualaikum ..ustad maaf rada melenceng..ustad apakah dlu.ada mahluk di bumi sblm manusia..dan apakah dinosaurus itu prnah benaran ada ustad..trimaksi ..wasslmualkm wr wb

  2. ijin komentar

    ya allah, jagalah aq, bimbinglah aq, hamba begitu lemah, hamba serahkan segala urusan hamba hanya kepadamu.

  3.  aku sependapat jika Wali Allah adalah yg menjalankan Al-qur’an dan
    Sunnah dengan Kaffah…..ketika aku mempelajari ilmu tauhid dengan
    menjalankan Sunnah Rasulullah dengan batas kemampuanku dan terus mencoba
    meningkatkan menjadi lebih baik dan kulakukan itu tanpa ingin apapun
    kecuali karena sebagai pengabdian rasa CINTAku kepada Allah dan
    RasulNYA….terkadang merasa kaget sendiri karena,aku mengalami suatu
    pengalaman yang ada dalam hadits2 mutawatir dan Shohih….aku melihat di
    mesjid makhluq yg mengoda manusia yg sdng shalat…aku melihat mesjid
    begitu Agung,sehingga aku malu masuk k dalamnya…dan aku tak mampu
    menahan rasa tangisku ketika melihat keagungan Firman Allah yang
    tertulis didinding mesjid tsb…trus aku bermimpi beberapa kali bertemu
    dengan saudaraku tercinta Rasulullah Nabi Muhammad s.a.w….dan dia
    dengan Kehendak Allah menempatkan aku dalam sebuah posisi yang aku
    sangat merasa terhormat sebagai seorang muslim biasa sepertiku,aku
    menangis saking terharunya karena begitu Allah dan RasulNYA sayang ma
    diriku…dan Allah membukakan Rahasia2NYA……wahai pak
    ustadz…..apakah ini artinya???

  4. izin copy
    makasih 🙂

  5. assalamualaikum bang ustadz..
    saya pernah mendengar seseorng berkata begini.” wah kamu sebaiknya tdak usah dulu ke ma’rifat, ntr klw gk kuat bsa gila dsb”
    yg saya tanyakan ustadz. apakah ad tingkatan2 seperti itu dalam kita belajar islam?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *