Home Aqidah Amalan Bagian dari Iman

Amalan Bagian dari Iman

1722
3

Amalan seperti kita ketahui bersama merupakan bagian dari iman. Iman harus terdapat tiga unsur yaitu keyakinan, ucapan dan amalan. Tanpa adanya amalan, walau ada keyakinan dan ucapan, tidaklah disebut beriman. Inilah yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Ibnu Taimiyah menjelaskan mengenai masalah iman yang diyakini oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam kitab beliau Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah,

فَصْلٌ : وَمِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ الدِّينَ وَالْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ ، قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ ، وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ ، وَأَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ .

“Fasal: Di antara pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa agama dan iman terdiri dari: perkataan dan amalan, perkataan hati dan lisan, amalan hati, lisan dan anggota badan. Iman itu bisa bertambah dengan melakukan ketaatan dan bisa berkurang karena maksiat.”

Perkataan di atas menunjukkan bahwa iman itu terdiri dari tiga komponen yaitu: (1) i’tiqod (keyakinan), (2) perkataan, (3) amalan.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa iman terdiri dari tiga rukun di atas disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

Perkataan ‘laa ilaha illallah’ menunjukkan bahwa iman harus dengan ucapan di lisan. Menyingkirkan duri dari jalanan menunjukkan bahwa iman harus dengan amalan anggota badan. Sedangkan sifat malu menunjukkan bahwa iman harus dengan keyakinan dalam hati, karena sifat malu itu di hati. Inilah dalil yang menunjukkan keyakinan ahlu sunnah di atas. Sehingga iman yang benar jika terdapat tiga komponen di dalamnya yaitu (1) keyakinan dalam hati, (2) ucapan di lisan, dan (3) amalan dengan anggota badan.

Sekarang yang sering dipermasalahkan, apakah amalan itu syarat sah iman ataukah syarat penyempurna iman?

Guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri hafizhohullah menerangkan,

“Kami katakan: amalan termasuk bagian dari iman (rukun dari iman), bukan syarat sah, bukan pula syarat penyempurna iman. Siapa yang mengatakan bahwa amalan adalah syarat iman, maka kami katakan itu keliru. Karena amalan adalah bagian dari iman. Jika disebut syarat, maka berada sebelum sesuatu dan bukan merupakan bagian dari sesuatu tersebut.

Sebut saja, thoharoh (bersuci) merupakan syarat sah shalat. Apakah thoharoh merupakan bagian dari shalat? Atau thoharoh adalah sesuatu yang berdiri sendiri sebelumnya? Kalau disebut syarat, letaknya sebelum atau ada kaitan langsung, atau sesuatu pekerjaan yang berdiri sendiri. Jadi rukun itu adalah bagian dari sesuatu. Semacam ruku’ adalah rukun shalat dan ia merupakan bagian dari shalat.” (Syarh Mutun Al ‘Aqidah – Ushulus Sunnah Imam Ahmad, hal. 60).

Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa Islam itu tidak cukup keyakinan di hati saja, ditambah dengan ucapan ‘laa ilaha illallah di lisan’, namun harus pula ada amalan. Sehingga jadi permasalahan besar jika seseorang muslim tidak punya amalan shalat.

Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi hidayah.

@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 11 Rajab 1434 H

www.rumaysho.com

 

Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat

3 COMMENTS

  1. Assalamu’alaikum,

    Ada yg mau sy tanyakan pak ustad,,apa kh hukum nya menghadiri undangan dr tetangga atau jema’ah masjid yg blum jlas undangan apa,bs jd (syukuran atau selamatan atau ibadah2 yg menyelisihi ajaran Rosulullah).Lalu sikap sy bgmn ya Pak ustad,
    Apa kh sy tetap menghadiri dng catatan “diam diri” atau kah sebaliknya “tdk menghadiri,dng alasan takut bid’ah”

    Tlng,penjelasan nya.
    Syukron.

  2. melalaikan shalat wajib saja di neraka, apalagi sengaja meninggalkan shalat 5 waktu.
    Nasehat dari saya Mualaf :
    “Dirikanlah shalat, lupakan urusan dunia sesaat.
    Ingatlah pemutus kelezatan, yaitu kematian
    Ingatlah boleh jadi ini shalat terakhirmu”

    “Ya, Allah. Aku berlindung kepadaMu dari hati yang tidak khusyu’”. [HR Tirmidzi]

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here