Home Amalan Sudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?

Sudah Doakan Saudaramu di Saat Ia Tidak di Hadapanmu?

4871
0

Doa bi zhahril ghaib, ini punya keutamaan luar biasa. Coba Anda amalkan dan tahu khasiatnya seperti apa.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa)

بَابُ فَضْلِ الدُّعَاءِ بِظَهْرِ الغَيْبِ

Bab 251. Keutamaan doa bi zhahril ghaib

 

Ayat #01

قَالَ تَعَالَى : { والَّذِينَ جَاءوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ولإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بالإيمَانِ } [ الحشر:10]

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami.” (QS. Al-Hasyr: 10)

 

Ayat #02

، وقال تَعَالَى: { واسْتَغْفِرْ لِذنْبِكَ وَلِلْمُؤمِنِينَ والمؤْمِنَاتِ } [ محمد:19 ]

Dan Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

 

Ayat #03

، وقال تَعَالَى إخْبَاراً عَن إبْرَاهِيمَ – صلى الله عليه وسلم – : { رَبَّنا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤمِنِينَ يَومَ يَقُومُ الحِسَابُ } [ إبراهيم : 41

] .

Dan Allah Ta’ala mengabarkan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam (yang artinya), “Wahai Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)

 

Hadits #1494

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : (( مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ إِلاَّ قَالَ المَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْلٍ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba muslim yang berdoa untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya, melainkan malaikat berkata, ‘Dan untukmu seperti doamu.’” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 7231]

 

Hadits #1495

وَعَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقُوْلُ : (( دَعْوَةُ المَرْءِ المُسْلِمِ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بِهِ : آمِينَ ، وَلَكَ بِمِثْلٍ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari Abu Darda’ bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya pasti dikabulkan. Di dekat kepala orang tersebut ada malaikat yang diberi tugas untuk itu. Setiap kali seorang muslim berdoa kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diberi tugas itu berkata, “Aamiin, dan untukmu seperti doa itu.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2733]

 

Faedah ayat dan hadits

 

  1. Doa bi zhahril ghaib adalah doa ketika yang didoakan tidak hadir atau diam-diam mendoakannya. Hadits ini menunjukkan keutamaannya.
  2. Li akhi-hi dalam hadits yang dimaksud adalah saudaranya seislam yang didoakan. Islam selalu ingin menguatkan persaudaraan di antara sesama orang beriman dalam setiap keadaan dan setiap waktu.
  3. Mustajaabah (terkabul), di situ ada huruf siin, menunjukkan makna mubaalaghoh, artinya doa tersebut benar-benar diijabahi. Berarti doa bi zhahril ghaib tidak tertolak.
  4. Islam menganjurkan untuk mendoakan diri sendiri dan mendoakan saudaranya baik dalam urusan dunia maupun akhirat.
  5. Seseorang yang mendoakan saudaranya akan mendapatkan seperti yang ia doakan.
  6. Ada malaikat yang bertugas hanya untuk mendengar doa bi zhahril ghaib.
  7. Malaikat hanyalah diperintahkan untuk amalan baik.
  8. Doa bi zhahril ghaib dikhususkan dalam hadits karena lebih menunjukkan keikhlasan dan hadirnya hati (besarnya harapan).

 

Sebagian salaf ketika ingin berdoa untuk dirinya sendiri, ia mendoakan saudaranya dengan doa tersebut karena doa untuk saudaranya itu mustajabah (terkabulkan), dan ia akan dapat kembali semisal itu pula. Allah-lah yang pantas disanjung dan kita semua patut bersyukur kepada-Nya.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10) (Lihat Bahjah An-Nazhirin, 2:586)

 

Referensi:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Baca Juga:


 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here