Home Shalat Bulughul Maram – Shalat: Azan pada Shalat yang Luput dan Shalat yang...

Bulughul Maram – Shalat: Azan pada Shalat yang Luput dan Shalat yang Dijamak

134
0

Tujuh hadits berikut ini masih membicarakan perihal azan dari kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.

 

Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani

Kitab Shalat – Bab Al-Adzan (Tentang Azan)

 

Hadits #181

وَعَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: – أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ اَلْآذَانَ, وَيُوتِرَ اَلْإِقَامَةَ, إِلَّا اَلْإِقَامَةَ, يَعْنِي قَوْلَهُ: قَدْ قَامَتِ اَلصَّلَاةُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَلَمْ يَذْكُرْ مُسْلِمٌ اَلِاسْتِثْنَاءَ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Bilal diperintahkan untuk menggenapkan kalimat azan dan mengganjilkan kalimat iqamah, kecuali kalimat iqamah yang berbunyi ‘qad qaamatish shalaah’.” (Muttafaqun ‘alaih. Imam Muslim tidak menyebutkan pengecualian). [HR. Bukhari, no. 605 dan Muslim, no. 378. Lafazhnya adalah lafazh Bukhari]

وَلِلنَّسَائِيِّ: – أَمَرَ اَلنَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِلَالاً-

Menurut riwayat An-Nasai, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Bilal radhiyallahu ‘anhu (untuk menggenapkan azan dan mengganjilkan iqamah). [HR. An-Nasai, 2:3]

 

Faedah Hadits

  1. Lafazh azan mayoritasnya itu diulang dua kali. Lafazh iqamah mayoritasnya satu kali (ganjil).
  2. Lafazh azan itu diulang dua kali karena untuk mengumumkan masuknya waktu shalat bagi orang yang belum hadir. Adapun iqamah itu adalah panggilan untuk jamaah yang sudah di masjid, sehingga lafazh tersebut kecepatan pertengahan, tidak diulangi kecuali pada bacaan takbir dan “qad qaamatish shalaah”.

 

Hadits #182

وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: – رَأَيْتُ بِلَالاً يُؤَذِّنُ وَأَتَتَبَّعُ فَاهُ, هَاهُنَا وَهَاهُنَا, وَإِصْبَعَاهُ فِي أُذُنَيْهِ – رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

Dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah melihat Bilal azan dan aku perhatikan mulutnya ke sana ke mari dan dua jari-jarinya menutup kedua telinganya).” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi. Hadits ini dishahihkan oleh Tirmidzi). [HR. Ahmad, 31:52; Tirmidzi, no. 197].

وَلِابْنِ مَاجَهْ: وَجَعَلَ إِصْبَعَيْهِ فِي أُذُنَيْهِ

Menurut Ibnu Majah, “Ia menjadikan dua jarinya untuk menutup kedua telinganya.” [HR. Ibnu Majah, no. 711, sanadnya dhaif]

وَلِأَبِي دَاوُدَ: – لَوَى عُنُقَهُ, لَمَّا بَلَغَ “حَيَّ عَلَى اَلصَّلَاةِ ” يَمِينًا وَشِمَالاً وَلَمْ يَسْتَدِرْ -وَأَصْلِهِ فِي اَلصَّحِيحَيْنِ

Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, “Dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri ketika sampai pada ucapan ‘hayya ‘alash shalaah’ dan dia tidak memutar tubuhnya.” (Asal hadits ini dari Bukhari dan Muslim). [HR. Abu Daud, no. 520]

* Asal hadits ini adalah Bukhari, no. 634 dan Muslim, no. 503.

Faedah Hadits

  1. Dianjurkan untuk menggerakkan leher ke kanan dan kiri. Namun tidak dijelaskan cara menolehnya bagaimana.
  2. Yang dipahami dalam hadits, hayya ‘alash shalaah menoleh ke kanan, sedangkan hayya ‘alal falaah ke kiri.
  3. Menoleh ke kanan dan ke kiri adalah pada keseluruhan kalimat azan. Yang keliru, mengucapkan hayya ‘alash shalaah, baru kemudian menoleh.
  4. Menoleh saat azan punya manfaat: (1) suara lebih lantang dan lebih jelas dalam pengumuman masuknya waktu shalat; (2) sebagai tanda bahwa ia muazin jika terlihat dari jauh.
  5. Menoleh kanan dan kiri termasuk sunnah mutlak artinya tetap berlaku walaupun ada pengeras suara.
  6. Dianjurkan meletakkan jari pada dalam telinga karena lebih mengeraskan suara muazin. Hukumnya adalah sunnah, bukan wajib.

 

Hadits #183

وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَعْجَبَهُ صَوْتُهُ, فَعَلَّمَهُ اَلْآذَانَ – رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Abu Mahdzurah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengagumi suaranya kemudian beliau mengajarinya azan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah). [HR. Ad-Darimy, 1:216; Ibnu Khuzaimah, 1:195]

 

Faedah Hadits

  1. Dianjurkan muazin bersuara bagus.
  2. Memperbagus azan ini maksudnya tidak boleh ada lahn atau kesalahan lafazh, dengan harakatnya berubah, berhentinya ada yang kurang, sebagian huruf ada yang berkurang dan ada yang bertambah.

 

Hadits #184

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – اَلْعِيدَيْنِ, غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ, بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku shalat dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya satu kali atau dua kali tanpa azan dan iqamah.” (HR. Muslim). [HR. Muslim, no. 887]

 

Hadits #185

وَنَحْوُهُ فِي اَلْمُتَّفَقِ: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا, وَغَيْرُهُ

Hadits yang serupa juga ada dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan dari yang lainnya. [HR. Bukhari, no. 959 dan Muslim, no. 886]

 

Faedah Hadits

  1. Shalat Id tidak ada azan dan iqamah, ini sudah disepakati oleh para ulama.
  2. Hikmah tidak ada azan dan iqamah adalah karena tujuan azan untuk pengumuman masuknya waktu shalat. Sedangkan shalat Id tidak punya waktu tertentu dan tidak dibatasi.
  3. Azan untuk shalat Id termasuk perkara bidah (muhdats), yaitu sesuatu yang baru dalam agama.

 

Hadits #186

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةٌ فِي اَلْحَدِيثِ اَلطَّوِيلِ, – فِي نَوْمهُمْ عَنْ اَلصَّلَاةِ – ثُمَّ أَذَّنَ بِلَالٌ, فَصَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَمَا كَانَ يَصْنَعُ كُلَّ يَوْمٍ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Qatadah dalam hadits yang panjang tentang mereka yang tidur meninggalkan shalat, “Kemudian Bilal azan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sebagaimana yang beliau lakukan setiap harinya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 887]

 

Faedah Hadits

  1. Azan dan iqamah tetap ada untuk shalat yang luput. Hadits di atas membicarakan tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rombongan sahabat yang tertidur dan akhirnya baru bangun ketika matahari terbit.
  2. Untuk shalat yang luput bisa dikumandangkan azan di tempat yang belum ada azan seperti shalat di padang pasir. Adapun jika sudah dikumandangkan azan, maka cukup dengan azan yang sudah ada di negeri tersebut saja, karena azan lainnya sudah mencukupi kifayah.

 

Hadits #187

وَلَهُ عَنْ جَابِرٍ; – أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتَى اَلْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا اَلْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ, بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ

Dalam riwayat Muslim lainnya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Muzdalifah dan beliau shalat Maghrib dan Isya dengan satu azan dan dua iqamah.” [HR. Muslim, no. 1218]

وَلَهُ عَنْ اِبْنِ عُمَرَ: – جَمَعَ بَيْنَ اَلْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِإِقَامَةٍ وَاحِدَةٍ.

زَادَ أَبُو دَاوُدَ: – لِكُلِّ صَلَاةٍ .

وَفِي رِوَايَةِ لَهُ: – وَلَمْ يُنَادِ فِي وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا .

Dalam riwayat Muslim pula, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak shalat Maghrib dan Isya dengan satu iqamah. [HR. Muslim, no. 1288, 289, 290]

Abu Daud menambahkan, “Untuk setiap kali shalat.” [HR. Abu Daud, no. 1927]

Dalam riwayat lain, “Tidak diperintahkan azan untuk salah satu dari dua shalat tersebut.” [HR. Abu Daud, no. 1928]

Faedah Hadits

Jika ada dua shalat yang dijamak pada satu waktu, maka cukup dengan sekali azan dan dua kali iqamah, setiap shalat ada iqamahnya. Inilah pendapat Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, dan itulah pendapat yang lebih kuat.

Semoga bermanfaat.

 


 

Disusun @ Darush Sholihin, 7 Muharram 1441 H (6 September 2019)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

[googlepdf url=”https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2019/09/Bulughul-Maram-Shalat-08.pdf” download=”Download” width=”100%” height=”600″]

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here