Beranda Belajar Islam Teladan Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Bai’at ‘Aqabah Pertama

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Bai’at ‘Aqabah Pertama

175
0

Sekarang kita ambil pelajaran dari baiat aqabah pertama.

 

Pertama:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menawarkan Islam kepada penduduk Madinah di ‘Aqabah, sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya, “Dia adalah Nabi yang dijanjikan kedatangannya oleh Yahudi”, menandakan awal dari penerimaan mereka terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Walaupun mereka masih dalam keadaan musyrikin, tetapi informasi—walaupun sedikit—tersebut bermanfaat bagi mereka untuk mendapatkan hidayah dan menerima ajakan Nabi. Hal ini menggambarkan pentingnya ilmu, kedudukan, dan fungsinya walaupun tidak berguna bagi seluruh Yahudi dalam memenuhi ajakan Rasul, tetapi berguna bagi sebagiannya yang implementasinya membenarkan dan mengimani kenabian di awal perjumpaan mereka seperti yang akan dijelaskan.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah menyebutkan, “Tidak ada satu lorong pujn di Arab yang tidak mengetahui dan mendengar tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik kabilah Aus maupun Khazraj, yang demikian karena mereka mendengarnya dari pemuka-pemuka Yahudi.”

Oleh karena itu, semakin banyak orang Islam yang membedah, menelaah, membudidayakan ilmu, akan membantu individu muslim dalam beribadah dan berdakwah kepada Allah Ta’ala.

 

Kedua:

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Hari Bu’ats (Bu’ats itu nama tempat, di tempat ini terjadi peperangan antara kaum Aus dan Khazraj, di antara mereka banyak yang terbunuh, kejadiannya lima tahun sebelum Hijrah) merupakan hari yang disuguhkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, sedangkan jamaahnya tengah bercerai-berai, dibunuh keluarga-keluarganya dan dilukai. Oleh karena itu, Allah menyuguhkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masuknya mereka ke dalam Islam.

Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan tentang peristiwa Bu’ats, “Yang terbunuh dalam perang Bu’ats adalah para pembesar yang tidak beriman; maksudnya orang sombong yang tidak mau masuk Islam supaya tidak tunduk dalam hukum orang lain. Yang tersisa dari mereka adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.” Allah menghendaki dari peristiwa yang besar ini sebelum kedatangan Nabi ke Madinah untuk terwujud dua perkara:

  1. Anugerah Allah Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melancarkan jalannya untuk berdakwah dengan memusnahkan pembesar-pembesar Madinah sebelum kedatangannya, karena keberadaan mereka bisa menjadi penghalang yang serius bagi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti apa yang terjadi di Makkah, sehingga ‘Aqabah berikutnya tidak ikut campur terhadap orang yang membenci Islam. Oleh karena itu, jalan dakwah ke Madinah menjadi mulus karena pembesar-pembesar yang menentang Islam telah dimusnahkan Allah. Hal tersebut merupakan anugerah besar yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya seperti dinukilkan oleh Aisyah dalam haditsnya, “Allah menyisakan seorang contoh dari pembesar-pembesar itu untuk mengingatkan tentang mereka dan tentang nikmat Allah atas nabi-Nya dengan dimusnahkannya mereka sebelum kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contoh yang tersisa ini adalah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul.”
  2. Supaya hati siap menerima Islam dan menampakkan kebesaran Islam bagi Anshar yang telah menyatukan mereka setelah perpecahan, menyemaikan kecintaan setelah permusuhan, keharmonisan setelah percekcokan.

 

Ketiga:

Agama ini merupakan anugerah Allah, menyatukan hati dan menamakan sifat kasih sayang kaum Aus dan Khazraj yang sebelumnya saling bermusuhan selama seratus dua puluh tahun. Kedatangan Islam menyatukan mereka. Sekarang kita melihat peperagan di mana-mana, pertikaian dan pembunuhan merajalela. Oleh karena itu, bisa kita katakan seperti halnya Islam telah datang mendamaikan Aus dan Khazraj, maka tidak akan pernah dalam hati umat sekarang, melainkan dengan berpegang teguh kepada Islam dan berjalan di bawah naungannya supaya manusia bisa saling merasakan persaudaraan. Oleh karena itu disebutkan dalam ayat,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

 

Keempat:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di Makkah di tengah kabilahnya sendiri, beliau terus menerus menawarkan dirinya lebih sepuluh tahun, yang menerima seruannya hanyalah beberapa orang. Dia mendapatkan pertentangan sengit dari kelompok mayoritas, tetapi pertolongan datang dari kabilah lain dari luar Makkah.

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan dakwah khusus, tetapi dakwah universal mencakup seluruh manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dakwah kepada penduduk Makkah dan kabilah-kabilah yang datang ke Makkah, siapa saja yang memenuhi seruannya dan membantunya itulah yang utama.

 

Kelima:

Pengorbanan yang luar biasa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah kepada Allah Ta’ala. Beliau berdakwah siang dan malam tanpa mengenal jenuh dan bosan sedikit pun, sekalipun mereka menolaknya, beliau tetap tidak pernah putus asa.

Dalam ayat disebutkan,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

 

Keenam:

Kemenangan kadang-kadang datang pada masa dan tempat yang tidak diprediksikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan kepada kabilah-kabilah Makkah, tetapi tidak membuahkan hasil. Penawaran yang sama dilakukan kepada Khazraj, kelompok ini membuahkan hasil, merupakan pembukaan kemenangan dan inti kebaikan dari penerimaan dakwah dan kesiapan membantu berdakwah.

 

Ketujuh:

Dalam baiat aqabah pertama, beliau berbaiat dan mengawali dengan ajakan mentauhidkan Allah. Mengajak pada tauhid dan menjauhi syirik adalah dakwahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Rasul lainnya. Dalam ayat disebutkan,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Tanpa tauhid, maka amalan tidak akan bernilai sama sekali sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

 

Kedelapan:

Orang yang diajak Rasul masuk Islam di Mina (‘Aqabah), mereka tidak berhenti sampai di situ, namun mereka kembali ke Madinah dan menjadi dai yang mengajak umat kepada agama Allah.

Karenanya seorang muslim tidaklah boleh merasa cukup dengan melaksanakan ibadah wajib saja, tetapi berkewajiban mengajak orang lain kepada agama dan merasakan tanggungjawab terhadap agama.

 

Kesembilan:

Disyariatkan pengiriman dai dan pengutusan mereka ke pelosok-pelosok untuk mengajarkan dan menyeru manusia kepada Allah Ta’ala, untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini terjadi sewaktu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan Mus’ab bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu ke Madinah untuk mendakwahkan manusia dan mengajari mereka.

 

Referensi:

Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.

 

 


 

Disusun di #DarushSholihin, Jumat sore, 24 Dzulqa’dah 1440 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini