Beranda Hukum Islam Shalat Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Cara Rukuk

Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Cara Rukuk

224
0

Bagaimana cara rukuk sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?

 

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin,

ثُمَّ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوْعِ وَيَضَعُ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَيَجْعَلُ رَأْسَهُ حِيَالَ ظَهْرِهِ

“Kemudian bertakbir untuk rukuk dan meletakkan tangan pada lutut dan menjadikan kepala sejajar dengan punggung.”

 

Cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam rukuk

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdiri untuk shalat, beliau bertakbir. Kemudian beliau bertakbir ketika turun rukuk.” (HR. Bukhari, no. 789 dan Muslim, no. 392).

Takbir turun rukuk di sini adalah dengan mengangkat tangan, bisa sejajar pundak atau sejajar kedua telinga. Lihat Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin, 1:226-227.

Takbir ketika berpindah ke rukun berikutnya disebut dengan takbir intiqal. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata mengenai hadits di atas, “Dalil tersebut menunjukkan wajibnya takbir intiqal. Inilah pendapat dari madzhab Imam Ahmad, sedangkan ulama lainnya berpendapat takbir tersebut sunnah.” (Syarh ‘Umdah Al-Ahkam, hlm. 166).

 

Saat rukuk, kedua tangan diletakkan di lutut

 

Dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari disebutkan,

فَلَمَّا رَكَعَ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ

“Ketika rukuk, ia meletakkan kedua tangannya pada lututnya.”(HR. Abu Daud, no. 863 dan An-Nasa’i, no. 1037. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Abu Humaid As-Sa’idiy berkata mengenai cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata,

فَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ كَفَّيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ وَفَرَّجَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

“Jika rukuk, beliau meletakkan dua tangannya di lututnya dan merenggangkan jari-jemarinya.” (HR. Abu Daud, no. 731. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Dalam riwayat lainnya disebutkan,

ثُمَّ رَكَعَ فَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ كَأَنَّهُ قَابِضٌ عَلَيْهِمَا

“Kemudian beliau rukuk dan meletakkan kedua tangannya di lututnya seakan-akan beliau menggenggam kedua lututnya tersebut.” (HR. Abu Daud, no. 734; Tirmidzi, no. 260; dan Ibnu Majahm no. 863. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

 

Saat rukuk, kepala dijadikan sejajar dengan punggung

 

Abu Humaid As-Sa’idiy berbicara mengenai cara rukuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَصُبُّ رَأْسَهُ وَلاَ يُقْنِعُ مُعْتَدِلاً

“Ketika rukuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membuat kepalanya terlalu menunduk dan tidak terlalu mengangkat kepalanya (hingga lebih dari punggung), yang beliau lakukan adalah pertengahan.” (HR. Ibnu Majah, no. 1061 dan Abu Daud, no. 730. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia menyatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat dengan takbiratul ihram, lalu beliau membaca surah dimulai dengan ‘alhamdu lillahi robbil ‘aalamiin’. Ketika rukuk, beliau tidak terlalu mengangkat kepalanya, dan tidak terlalu membungkukkannya, namun di antara keduanya.” (HR. Muslim, no. 498)

Dari Wabishoh bin Ma’bad, ia berkata,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فَكَانَ إِذَا رَكَعَ سَوَّى ظَهْرَهُ حَتَّى لَوْ صُبَّ عَلَيْهِ الْمَاءُ لاَسْتَقَرَّ

“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Ketika rukuk, punggungnya rata sampai-sampai jika air dituangkan di atas punggungnya, air itu akan tetap diam.” (HR. Ibnu Majah, no. 872. Juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabirdan Ash-Shaghir, begitu pula oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid Al-Musnad).

Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

  1. Ad-Dalil ‘ala Manhaj As-Salikin wa Tawdhih Al-Fiqh fi Ad-Diin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Za’el Al-‘Anzi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  2. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  3. Syarh Manhaj AsSalikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.

 


 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini