Home Shalat Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Menjaharkan dan Melirihkan Bacaan

Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Menjaharkan dan Melirihkan Bacaan

968
0

Kapan kita menjaharkan dan melirihkan bacaan dalam shalat? Kita kaji lagi dari bahasan Manhajus Salikin kali ini.

 

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin,

يَجْهَرُ فِي القِرَاءَةِ لَيْلًا،ويُسِرُّ بِهَا نَهَارًا، إِلَّا اَلْجُمْعَةَ وَالْعِيدَ، وَالْكُسُوفَ وَالِاسْتِسْقَاءَ، فَإِنَّهُ يَجْهَرُ بِهَا

“Menjaharkan bacaan pada malam hari dan melirihkan bacaan pada siang hari kecuali menjaharkan pada shalat Jumat, shalat id, shalat kusuf (gerhana), shalat istisqa.”

 

Dalil menjaharkan bacaan pada malam hari

 

Karena praktik langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadits Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Ath-Thur dalam shalat Maghrib.” (HR. Bukhari, no. 761 dan Muslim, no. 463)

Juga dari hadits Al-Bara’ bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah At-Tiin dalam shalat Isya, ia tidak mendengar seorang pun yang suaranya lebih bagus daripada beliau. (HR. Bukhari, no. 769 dan Muslim, no. 464)

Ada juga hadits dari ‘Amr bin Harits bahwa ia pernah shalat Shubuh di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika itu beliau membaca surah At-Takwir ayat 15 dan 16 (Falaa uqsimu bil khunnas …). (HR. Muslim, no. 475)

 

Dalil melirihkan bacaan pada siang hari

 

Dari hadits Abu Ma’mar, ia berkata pada Khabab bin Al-Arat, “Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah pada shalat Zhuhur dan Ashar?” Ia menjawab, “Iya.” Abu Ma’mar bertanya lagi, “Dari mana engkau bisa mengetahui kalau beliau membaca?” Khabab menjawab, “Dari gerak jenggotnya.” (HR. Bukhari, no. 761)

 

Dalil shalat berjamaah di siang hari tetap menjaharkan bacaan

 

Untuk shalat Jumat dan id, dari An-Nu’man bin Basyir, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua id dan dalam shalat Jumat “SABBIHISMA ROBBIKAL A’LA” dan “HAL ATAKA HADITSUL GHOSIYAH”.” An-Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari id bertepatan dengan hari Jumat, beliau membaca kedua surah tersebut di masing-masing shalat. (HR. Muslim, no. 878)

Untuk shalat gerhana, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

جَهَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaharkan bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari, no. 1065 dan Muslim, no. 901)

Untuk shalat istisqa’, dari Abbad bin Tamim dari pamannya (yaitu Abdullah bin Zaid), ia berkata,

خَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَسْتَسْقِى فَتَوَجَّهَ إِلَى الْقِبْلَةِ يَدْعُو ، وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk melakukan istisqa’ (meminta hujan). Kemudian beliau menghadap kiblat dan merubah posisi rida’nya (yang semula di kanan dipindah ke kiri dan sebaliknya). Lalu beliau melaksanakan shalat dua raka’at dengan menjahrkan bacaannya .” (HR. Bukhari, no. 1024)

 

Sebab menjaharkan pada malam hari dan melirihkan pada siang hari

 

Syaikh ‘Abdullah Al-Jibrin rahmahullah menjelaskan, “Sebab di malam hari dijaharkan karena saat itu banyak aktivitas telah selesai atau berbagai kesibukan telah usai. Saat itu ada hajat untuk mendengarkan Al-Qur’an. Sedangkan di siang hari, hati begitu sibuk dengan berbagai pekerjaan, sehingga diperintahkan membaca untuk diri sendiri.

Adapun shalat Jumat, shalat id, shalat gerhana, dan shalat istisqa’ yang dilakukan di siang hari tetap dengan dijaharkan bacaan karena saat itu banyak kaum muslimin yang berkumpul dan mereka butuh untuk mendengar lantunan bacaan saat itu. Terkadang sebagian mereka hanya bisa mendengar lantunan Al-Qur’an pada waktu tersebut.” (Ibhaj Al-Mu’minin, hlm. 144).

Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

  1. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  2. Ibhaj Al-Mu’minin bi Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah Al-Jibrin. Penerbit Madarul Wathon.
  3. Syarh Manhaj AsSalikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.

 


 

Kamis, 19 Syaban 1440 H, 25 April 2019 @ Dasinem Pogung Dalangan

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here