Beranda Hukum Islam Shalat Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Membaca Ta’awudz dan Basmalah

Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Membaca Ta’awudz dan Basmalah

397
1

Sekarang kita lihat lanjutan Sifat Shalat Nabi yang dibahas oleh Syaikh As-Sa’di. Dan ada tambahan penjelasan ulama mengenai hal ini.

 

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin,

ثُمَّ يَتَعَّوَذُ وَيُبَسْمِلُ

“Kemudian membaca ta’awudz dan basmalah.”

 

Membaca Ta’awudz

 

Setelah membaca doa istiftah, disunnahkan membaca ta’awudz secara sirr (lirih) pada awal shalat ketika memulai qiraah (membaca surah).

Ta’awudz yang bisa dibaca,

أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“A’UDZU BILLAHIS SAMII’IL ‘ALIIM, MINASY SYAITHOONIR ROJIIM MIN HAMZIHI WA NAFKHIHI WA NAFTSIH (artinya: aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui dari gangguan setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan nyanyiannya yang tercela–atau syair atau sihirnya–).” (HR. Abu Daud, no. 775 dan Tirmidzi, no. 242. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan sanad hadits ini hasan. Pengertian “min hamzihi wa nafkhihi wa naftsih“, lihat KitabShifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah, hlm. 104. Lihat pula catatan kaki dalam Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin, 1:212).

Bisa pula mencukupkan ta’awudz dengan membaca,

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHONIR ROJIIM (artinya: aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).” Hal ini berdasarkan keumuman ayat yang memerintahkan membaca ta’awudz baik di dalam maupun di luar shalat ketika memulai membaca Al-Quran,

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98). (Lihat Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah, hlm. 101).

Ta’awudz dibaca pada rakaat pertama sebelum memulai membaca surah setelah membaca doa istiftah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Jika seseorang meninggalkan membaca ta’awudz di rakaat pertama, maka  hendaklah ia membacanya di rakaat kedua.” (Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdahkarya Ibnu Taimiyah, hlm. 97).

Menurut ulama dalam madzhab Syafi’i, ta’awudz dibaca setiap rakaat. Ini pendapat dalam madzhab Syafi’i yang dinilai lebih kuat. Lihat At-Tibyan, hlm. 85.

 

Membaca Basmalah

 

Basmalah baiknya tidak dikeraskan (sirr atau lirih), bacaannya,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambiasa membuka shalatnya dengan takbir lalu membaca alhamdulillahi robbil ‘alamin.” (HR. Muslim, no. 498).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas dalam ‘Umdah Al-Ahkam, beliau berkata, “Ini adalah dalil bahwa bacaan basmalah tidaklah dijahrkan (dikeraskan).” (Syarh ‘Umdah Al-Ahkam karya Syaikh As-Sa’di, hlm. 161).

Juga dalil lainnya adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, di mana ia berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ )

“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga bersama Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, aku tidak pernah mendengar salah seorang dari mereka membaca ‘ bismillahir rahmanir rahiim‘.”(HR. Muslim, no. 399).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Yang sesuai sunnah, basmalah dibaca sebelum surah Al-Fatihah dan bacaan tersebut dilirihkan (tidak dikeraskan).” (Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah karya Ibnu Taimiyah, hlm. 105).

Semoga bermanfaat.

 

Referensi:

  1. At-Tibyan fii Adab Hamalah Al-Qur’an. Cetakan pertama, tahun 1426 H. Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi. Tahqiq: Abu ‘Abdillah Ahmad bin Ibrahim Abul ‘Ainain. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas.
  2. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  3. Kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al-‘Umdah. Cetakan pertama, tahun 1429 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penerbit Darul ‘Ashimah.
  4. Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi. Penerbit Maktabah Darul Minhaj.
  5. Syarh Manhaj AsSalikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.
  6. Syarh Umdah Al-Ahkam. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Darut Tauhid.

Diselesaikan saat perjalanan Jogja – Jakarta, 14 Rajab 1440 H (21 Maret 2019), Kamis pagi

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

1 KOMENTAR

  1. أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

    “A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHOONI MINASY SYAITHONIR ROJIIM (artinya: aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).” Hal ini berdasarkan keumuman ayat yang memerintahkan membaca ta’awudz baik di dalam maupun di luar shalat ketika memulai membaca Al-Quran,

    * Ustadz Ada kesalahan pengetikan yang mengganggu pada lafadz latin nya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini