Beranda Belajar Islam Aqidah Tsalatsatul Ushul: Diciptakan Lantas Disia-Siakan, Mungkinkah?

Tsalatsatul Ushul: Diciptakan Lantas Disia-Siakan, Mungkinkah?

155
1

 

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Tsalatsatul Ushul berkata,

Ketahuilah–semoga Allah merahmatimu–bahwa wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah mempelajari pula tiga hal berikut ini dan mengamalkannya.

Pertama: Allah-lah yang menciptakan dan memberi rezeki kepada kita dan tidak membiarkan kita terlantar begitu saja, tetapi Allah mengutus seorang Rasul kepada kita. Barangsiapa yang menaatinya, akan masuk surga, dan barangsiapa yang menentangnya, akan masuk neraka. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

﴿إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولًا (١٥) فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا﴾

Sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul sebagai saksi atas kalian, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun, lalu Fir’aun menentangnya, maka Kami siksa ia dengan siksaan yang berat.”(QS. Al-Muzammil: 15-16)

 

Kita Diciptakan untuk Beribadah kepada Allah

 

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ini adalah tujuan Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Semua rasul mengajak untuk beribadah kepada Allah. Maksud dari beribadah kepada-Nya adalah mengenal dan mencintai Allah, juga kembali kepada-Nya, serta berpaling dari selain-Nya. Namun ibadah semakin sempurna jika kita mengenal Allah. Semakin kita mengenal Allah, semakin sempurnalah ibadah kita. Demikian dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud ayat dengan mengatakan bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya, dan itu bukan berarti Allah butuh kepada mereka.

Dari ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud “liya’buduni” adalah beribadah kepada-Ku baik dalam keadaan patuh maupun terpaksa. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari.

Ibnu Juraij berkata bahwa yang dimaksud “liya’buduni” adalah untuk mengenal-Ku.

Ar-Rabi’ bin Anas menyatakan bahwa yang dimaksud “liya’buduni” adalah untuk beribadah kepada-Ku.

As-Sudi menyatakan bahwa ibadah ada yang manfaat dan ada yang tidak manfaat. Ibadah tidaklah bermanfaat ketika bercampur dengan kesyirikan.

Adh-Dhahaak menyatakan bahwa yang dimaksud pada ayat ini adalah orang-orang beriman. Demikian beberapa nukilan dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir.

 

Kita Diberi Rezeki untuk Kuat dalam Ibadah

 

Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim Al-Hambali An-Najdi rahimahullah menyatakan bahwa kita diberi rezeki untuk menolong kita dalam ibadah. (Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul, hlm. 16)

 

Tak Mungkin Manusia Dibiarkan Begitu Saja

 

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (Madarij As-Salikin, 1:98)

Allah Ta’ala berfirman,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36).

Imam Asy-Syafi’i mengatakan,

لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى

“(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”.

Ulama lainnya mengatakan,

لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ

“(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madarij As-Salikin, 1:98)

 

Kita Disuruh Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

 

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab menyebutkan ayat (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul sebagai saksi atas kalian, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun, lalu Fir’aun menentangnya, maka Kami siksa ia dengan siksaan yang berat.” (QS. Al-Muzammil: 15-16)

Maksud ayat di atas adalah sanjunglah Rabb kalian atas diutusnya nabi yang ummi dan berbangsa Arab, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Beliau akan menjadi saksi untuk amalan mereka. Bersyukurlah kepada Allah dan laksanakanlah nikmat ini. Jangan sampai kalian kafir dan mengingkari rasul kalian. Ingatlah Fir’aun diberikan peringatan lewat Nabi Musa bin ‘Imran. Musa mengajak Fir’aun kepada Allah. Musa memerintahkan untuk mentauhidkan Allah, namun Fir’aun enggan untuk menaatinya, ia mendurhakai Musa. Karena kedurhakaan Fir’aun, ia mendapatkan siksa yang berat. Demikian penjelasan Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jangan sampai kalian mendustakan para rasul. Nantinya kalian akan ditimpa musibah seperti yang menimpa Fir’aun. … Kalian (umat Islam) lebih pantas untuk binasa dan hancur ketika mendustakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau lebih utama dibanding Musa bin ‘Imran.” Demikian diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Mujahid sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah.

 

Kesimpulan penting dari bahasan kali ini:

  1. Kita diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya semata.
  2. Kita diciptakan tidak sia-sia, ada satu tujuan.
  3. Siapa saja yang mendustakan Rasul, dia akan mendapatkan siksa yang berat.

 

Moga jadi ilmu yang bermanfaat.

 

Referensi:

  1. Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul.Cetakan Tahun 1429 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim Al-Hambali An-Najdi. Penerbit Maktabah Al-Malik Fahd.
  2. Syarh Tsalatsah Al-Ushul wa Adillatuhaa wa Al-Qawa’id Al-Arba’. Haytsam bin Muhammad Jamil Sarhan. Penerbit At-Taseel Al-Ilmi.
  3. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Baysir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  4. Tafsir As-Sa’di.Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Diselesaikan pada perjalanan Jogja – Jakarta (Garuda), pagi hari 13 Dzulhijjah 1439 H, masih hari tasyrik

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Print Friendly, PDF & Email

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar!
Mohon tulis nama Anda di sini